Taruhan Besar Hilirisasi Batu Bara: Menuju Kedaulatan Energi

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

 Menuju Kedaulatan Energi

Taruhan Besar Hilirisasi Batu Bara: Menuju Kedaulatan Energi (Foto: PTBA)

JAKARTA - Dari perut bumi Tanjung Enim, Sumatera Selatan, batu bara Indonesia sedang mencoba mengubah takdirnya melalui hilirisasi. Selama puluhan tahun, dia hanya digali, diangkut, lampau dikirim ke luar negeri sebagai bahan mentah. Kini, batu hitam itu bakal naik kelas, diolah menjadi daya alternatif, bahan baku industri masa depan, dan simbol ambisi besar ialah swasembada energi.

Di negeri nan kaya sumber daya ini, paradoks tetap terasa nyata. Indonesia adalah salah satu produsen batu bara terbesar dunia, namun di saat nan sama tetap berjuntai pada impor energi, terutama LPG bersubsidi. Ketergantungan itu bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga soal kedaulatan.

Modal Besar RI Hilirisasi Batu Bara

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai Indonesia mempunyai modal besar untuk mengembangkan hilirisasi batu bara lantaran persediaan nan melimpah. Selama ini, menurutnya, ekspor batu bara mentah lebih banyak menguntungkan pengusaha dibanding memberikan nilai tambah maksimal bagi negara.

“Hilirisasi batu bara krusial agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk turunan berbobot tinggi seperti gasifikasi untuk menggantikan LPG impor,” ujarnya kepada Okezone di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Pemerintah sebelumnya telah mendorong proyek gasifikasi batu bara melalui kerja sama antara PT Bukit Asam (PTBA), Pertamina, dan Air Products dari Amerika Serikat (AS). Proyek tersebut digadang-gadang bisa menekan impor LPG 3 kilogram (kg) nan selama ini membebani neraca perdagangan daya nasional.

Namun, proyek itu terhenti setelah Air Products memutuskan mundur dari kerja sama. Alasannya, perubahan nilai batu bara membikin proyek susah mencapai tingkat keekonomian.

“Setelah Air Products keluar, PTBA dan Pertamina kesulitan melanjutkan lantaran keterbatasan teknologi,” kata Fahmy.

Menurutnya, tantangan terbesar hilirisasi batu bara bukan lagi soal sumber daya, melainkan penguasaan teknologi. Dia meragukan Indonesia bisa mengembangkan proyek hilirisasi secara berdikari tanpa support perusahaan asing nan mempunyai pengalaman dan teknologi matang.

Fahmy mencontohkan pengembangan biodiesel nasional nan hingga sekarang baru mencapai B50. Program tersebut sebelumnya melibatkan perusahaan daya asal Italia, Eni, sebelum akhirnya kerja sama tidak berlanjut.
“Tanpa pemilik teknologi, susah bagi proyek hilirisasi berkembang optimal,” katanya.

Karena itu, dia menilai kerja sama dengan penanammodal asing tetap diperlukan, setidaknya dalam lima tahun pertama. Namun, kerja sama tersebut kudu disertai kesepakatan transfer teknologi agar Indonesia dapat membangun kemandirian daya di masa depan.

“Perguruan tinggi dan BRIN sebenarnya bisa mengembangkan teknologi sendiri asalkan diberi ruang dan pendanaan riset nan memadai,” ujarnya.

Dalam skema tersebut, lembaga investasi seperti Danantara dinilai dapat berkedudukan dari sisi pendanaan. Meski demikian, Fahmy menegaskan bahwa pendanaan saja tidak cukup tanpa support teknologi.

Dia juga menyoroti pentingnya izin pemerintah untuk menjamin pasokan dan nilai batu bara bagi kebutuhan hilirisasi. Menurutnya, sistem serupa Domestic Market Obligation (DMO) perlu diterapkan agar penanammodal memperoleh kepastian nilai bahan baku.

“Kalau nilai batu bara terus berfluktuasi, penanammodal bakal susah masuk lantaran keekonomian proyek tidak terjamin,” katanya.

Fahmy mengusulkan sebagian produksi batu bara nasional diwajibkan memasok kebutuhan hilirisasi dengan nilai khusus, seperti skema DMO batu bara untuk PLN nan dipatok sekitar USD70 per metrik ton.

Di sisi lain, hilirisasi batu bara dinilai bukan satu-satunya solusi menuju swasembada energi. Pemerintah tetap perlu mendorong diversifikasi daya melalui biodiesel, bioetanol, hingga pengembangan daya baru dan terbarukan.

Jika seluruh rantai daya domestik bisa dipenuhi tanpa ketergantungan impor, Indonesia dinilai berkesempatan besar mencapai ketahanan daya nasional nan selama ini menjadi cita-cita besar pembangunan sektor energi.

Hilirisasi batu bara pada akhirnya bukan sekadar proyek industri, melainkan ujian besar bagi Indonesia untuk membangun kemandirian teknologi, memperkuat regulasi, dan memastikan kekayaan sumber daya alam betul-betul memberi faedah bagi negara.

Hilirisasi Batu Bara Hilirisasi Batu Bara
Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com