Target Tuntaskan Perbaikan Sekolah Rusak di 2028, Tahun Ini 71 Ribu Sekolah akan Direvitalisasi

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Target Tuntaskan Perbaikan Sekolah Rusak di 2028, Tahun Ini 71 Ribu Sekolah bakal Direvitalisasi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti (tengah) memberi pengarahan ke siswa di sela peresmian revitalisasi sekolah di SMAN 7 Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (10/1/2026).(ANTARA/Andry Denisah)

UPAYA pemerintah untuk membangun prasarana pendidikan nan lebih merata di seluruh Nusantara semakin nyata melalui program revitalisasi sarana dan prasarana secara masif. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, meresmikan revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Tabanan, Kamis (4/6) dalam rangkaian kunjungan resminya di Bali. 

Untuk tahun 2026, pemerintah menyiapkan alokasi APBN guna melanjutkan revitalisasi terhadap sekitar 11.744 satuan pendidikan. Selain itu, sesuai pengarahan Presiden Prabowo Subianto, ditargetkan penambahan minimal 60.000 satuan pendidikan penerima revitalisasi. Dengan demikian, pada 2026 sedikitnya 71.000 satuan pendidikan bakal memperoleh support program ini.

“Sejak era Orde Baru membangun SD Inpres, belum pernah ada lagi pembangunan alias perbaikan sekolah secara masif selain di era Bapak Prabowo ini,” ungkap Fajar dalam arahannya kepada ratusan guru, ketua wilayah dan pemangku kepentingan pendidikan nan hadir.

Fajar menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pada tahun 2028 tidak ada lagi sekolah dengan kerusakan berat di  Indonesia, baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas,  Madrasah Aliyah, maupun Sekolah Menengah Kejuruan. 

Selain mempercepat revitalisasi sekolah, pemerintah juga mendorong transformasi digital pembelajaran. Pada tahun 2025 pemerintah telah mendistribusikan 288.000 unit Interactive Flat Panel (IFP) ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia dan menargetkan penambahan hingga 800.000 unit pada tahun 2026.

Komitmen pemerintah dalam mempercepat penanganan sekolah nan mengalami kerusakan juga ditunjukkan melalui respons langsung terhadap kondisi di lapangan. Sebelum menghadiri aktivitas peresmian revitalisasi, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq meninjau SD Negeri 3 Sembung Gede nan bangunannya telah dibongkar setelah mengalami ambruk dan membahayakan keselamatan penduduk sekolah.

Akibat kondisi tersebut, peserta didik untuk sementara waktu menjalani pembelajaran di ruang-ruang darurat, termasuk di perpustakaan sekolah. Menyikapi kondisi itu, Fajar meminta jajarannya agar sekolah tersebut diprioritaskan dalam program revitalisasi tahun 2026. Langkah tersebut menunjukkan respons sigap pemerintah terhadap kebutuhan sekolah nan ditemukan langsung di lapangan.

“Tadi sebelum naik panggung, saya sampaikan kepada Bapak Wakil Bupati, sekolah tersebut langsung masuk daftar prioritas,” kata Fajar.

Dalam aktivitas tersebut, Wamendikdasmen Fajar juga melakukan penandatanganan simbolis revitalisasi nan mewakili 22 penerima support dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Pemerintah Kabupaten Tabanan juga menyampaikan bahwa pada tahun ini sebanyak 62 sekolah di wilayah tersebut memperoleh support perbaikan sekolah. 

Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menyebut revitalisasi sekolah mempunyai makna nan jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan bentuk bangunan.

“Revitalisasi sekolah bukan semata-mata pembangunan alias perbaikan gedung, melainkan investasi jangka panjang dalam menciptakan lingkungan belajar nan aman, nyaman, inklusif, dan inspiratif bagi peserta didik,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan merupakan investasi peradaban nan bakal menentukan kualitas generasi masa depan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan terus menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan wilayah melalui peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, penguatan kapabilitas pembimbing dan tenaga kependidikan, pengembangan literasi dan numerasi, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan pendidikan berbasis budaya dan kearifan lokal.

Tiga Tahun Menanti Revitalisasi

Dampak nyata revitalisasi terdengar dari testimoni langsung Kepala SMP Negeri 2 Kediri, Ni Luh Putu Septawati. Sebelum menerima bantuan, dua ruang kelasnya rusak berat selama tiga tahun berturut-turut. Kerusakan nan awalnya terjadi pada kerangka baja terus meluas hingga menyebabkan genting ruang kelas tidak lagi kondusif digunakan.

“Setelah tiga tahun menunggu dengan kerusakan nan terus memburuk, akhirnya sekolah kami menerima program revitalisasi," ungkap Septawati dengan penuh haru. Kini dua ruang kelas tersebut sudah berfaedah dengan kondisi nan sangat layak, meningkatkan motivasi pembimbing dan kepercayaan diri siswa untuk belajar.

Senada dengan itu, Kepala SD Negeri 3 Marga, I Nyoman Adi Saputra, mengatakan bahwa revitalisasi merupakan program nan sangat dinantikan oleh banyak satuan pendidikan di daerah.

“Revitalisasi bukan sekadar perbaikan bangunan, tetapi menghadirkan kembali angan anak-anak siswa dan guru. Ruang kelas nan lebih layak menghadirkan suasana belajar nan lebih nyaman, sementara lingkungan sekolah nan baik bakal menumbuhkan semangat belajar dan semangat mengajar,” ujarnya.

Menutup kegiatan, Fajar juga menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya dilakukan melalui perbaikan sarana fisik, tetapi juga melalui penguatan kualitas pembimbing dan transformasi pembelajaran. Menurutnya, pemerintah terus berupaya memperkuat kompetensi pembimbing agar bisa memanfaatkan beragam support teknologi dan menghadirkan pembelajaran nan lebih berbobot bagi peserta didik.

Fajar membujuk pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kerjasama dalam mengawal beragam program prioritas pendidikan. Melalui percepatan revitalisasi sekolah, transformasi digital pembelajaran, serta penguatan kompetensi guru, pemerintah berambisi seluruh anak Indonesia dapat belajar di lingkungan nan aman, nyaman, dan berbobot sebagai bagian dari upaya mewujudkan pendidikan berbobot untuk semua. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia