Tangis Keluarga Pecah Saat Pencarian Lima Jurnalis Dihentikan

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Operasi pencarian lima wartawan dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 nan lenyap kontak di Selat Sunda pada Senin, 7 September 2026 dihentikan. Keputusan ini berasas hasil pertimbangan Tim SAR Gabungan selama sepuluh hari proses pencarian.

Penghentian operasi tersebut disambut isak tangis family nan selama sepuluh hari menanti kepastian keberadaan orang-orang tercinta.

Di Posko SAR Nasional di Carita, Pandeglang, Kamis (17/9/2026), family para korban kudu menerima keputusan tersebut.

Tangis pecah di antara mereka. Beberapa apalagi tampak tak kuasa membendung air mata ketika dengar operasi pencarian dihentikan.

Sejumlah personil SAR dan personel dari lembaga mengenai kemudian menghampiri keluarga. Mereka memberikan semangat dan menguatkan family nan tengah larut dalam kesedihan tersebut.

Sebagai informasi, posko pencarian lima wartawan dan tiga awak kapal Arupadhatu 1 resmi ditutup oleh Tim SAR Gabungan, setelah melakukan penyisiran melalui jalur darat, laut hingga udara, selama 10 hari terakhir.

Jika sesuai peraturan, jika tidak ada penemuan jejak apapun, semestinya operasi SAR sudah ditutup sejak hari ketujuh lalu. Namun berasas permintaan family korban dan Pemprov Banten, maka diperpanjang selama tiga hari.

"Dari semua nan kita evaluasi, diawal tadi tentang patokan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau kami merujuk pada peraturan kami tersebut, semestinya kita sudah closed," ujar Kepala Basarnas Banten Al Amrad.

Selama 10 hari pencarian, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kapal sigap Arupadhatu 1 maupun delapan penumpangnya.

Bahkan proses pencariannya melibatkan Basarnas Banten, Lampung hingga Bengkulu. Bahkan Poda Bengkulu juga terlibat mengidentifikasi temuan jenazah di Pulau Enggano. Meski hingga saat ini belum keluar hasil uji DNA nya.

"Dari kami sendiri juga Basarnas Banten, instansi SAR Lampung dan instansi SAR Bengkulu (juga terlibat)," terangnya.

Operasi SAR dapat dibuka kembali jika ditemukan material mengenai Arupadhatu 1 dan penumpangnya. Nelayan dan masyarakat nan mengetahui info keberadaan kapal tersebut juga diminta segera melapor ke polisi alias Basarnas Banten.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita