Setiap hubungan nggak selalu penuh suka cita. Ada kalanya bentrok melanda dan bikin hubungan bareng pasangan terasa melelahkan. Sebenarnya, bentrok itu wajar dan bisa bikin hubungan jadi makin erat jika disikapi dengan sehat.
Tapi nggak sedikit pasangan nan justru berujung emotional burnout gara-gara konflik. Buat nan belum tahu, burnout dalam hubungan tuh merujuk ke emosi capek dan stres banget saat berjumpa pasangan.
Menurut Choosing Therapy, relathionship burnout nggak muncul dalam semalam, tapi hasil dari capek berkepanjangan sampai akhirnya seseorang nggak antusias dan apalagi stres ketemu pasangannya.
Lantas, apa sih tanda-tanda seseorang terjebak relationship burnout? Yuk, simak penjelasannya berikut ini biar Anda nggak salah bedain stres biasa dengan burnout dalam hubungan.
Mengutip Abundance Therapy Center, tanda-tanda paling umum saat seseorang ngerasa burnout dalam hubungannya adalah sebagai berikut:
Alih-alih merasa antusias alias berbunga-bunga, Anda justru merasa terkuras energinya saat berinteraksi dengan pasangan.
Kebiasaan alias sifat nan dulu Anda abaikan dari pasangan sekarang bisa memicu frustrasi dan apalagi amarah.
Buat nan udah nikah, keintiman bentuk mulai berkurang dan merasa lebih mirip kawan sekamar daripada pasangan.
Menciptakan jarak dengan kerja lembur, melakukan aktivitas secara terpisah, alias diam-diam menarik diri secara emosional.
Fokus pada kekurangan pasangan dan mulai lupa dengan kualitas positifnya.
Percakapan menjadi dangkal, defensif, alias apalagi terhenti sepenuhnya, sehingga isu-isu krusial udah nggak dibahas lagi.
Pengalaman member kawan kumparan juga menambah daftar tanda relationship burnout yang mesti Anda waspadain. Setiap orang punya “alarm” tersendiri, dan dalam kasus Nadia (22), sirine itu adalah resah tiap kali nama pacarnya muncul di pop-up notification hp.
“Aku udah pacaran 1,5 tahun sama pacarku. Awalnya manis banget, original deh, tapi lama-lama saya sadar jika saya nan selalu jadi ‘pemadam kebakaran’ buat semua emosi cowokku dulu,” cerita Nadia. “Tiap liat nama pacarku muncul di pop-up notification hp, bukannya seneng, nan muncul malah rasa resah dan capek duluan.”
Maya (20) juga punya kisah serupa, dia capek menghadapi pasangan nan selalu silent treatment dan ghosting ketika ada masalah. Efeknya, Maya merasa mulai kehilangan dirinya sendiri.
“Hobi nan biasanya bikin saya seneng sekarang terasa tawar lantaran otakku terus-terusan overthinking mikirin mood dia hari ini,” tutur Maya.
Nah, nan dirasain Maya juga termasuk tanda burnout, guys. Kalau Anda udah mulai mencurahkan hidup hanya untuk pasangan sampai lupa kebahagiaan sendiri, sebaiknya segera benahi hubungan, ya.
Pengalaman relationship burnout juga dirasakan Clarissa (30). “Aku baru sadar kena emotional burnout pas ngeh jika saya lebih milih nambah jam kerja di instansi daripada kudu pulang dan ketemu dia,” ucapnya.
Clarissa menambahkan bahwa energinya betul-betul terkuras lenyap sehingga untuk mesra-mesraan pun rasanya sudah hambar. “Jangankan buat mesra-mesraan, buat berantem aja saya udah nggak punya tenaga,” katanya.
Jika Anda juga mulai merasakan tanda-tanda burnout dalam hubungan seperti nan dialami kawan kumparan, sebaiknya segera komunikasikan secara jujur dengan pasangan, lampau berupaya cari solusi bersama. Jangan ragu untuk cari support ahli seperti psikolog jika memang udah nggak bisa ditangani berdua, ya.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan kawan baru di organisasi kawan kumparan. Klik kum.pr/temankumparan
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·