Sumur Minyak RI Banyak yang Sudah Tua, Begini Solusi dari Kontraktor

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat kebanyakan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia saat ini sudah memasuki fase tua (mature) hingga fase akhir produksi.

Untuk mengatasi penurunan produksi alamiah dari lapangan tua tersebut, PHE mendorong penggelontoran investasi pada aktivitas eksplorasi cekungan baru serta penguatan kerjasama antar pemangku kepentingan.

Direktur Keuangan Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto memaparkan pengelolaan lapangan migas tua memerlukan komitmen investasi jangka panjang serta koordinasi nan ketat di seluruh rantai operasional. Pihaknya berbareng para kontraktor hulu migas menyiapkan skema solusi melalui penggarapan potensi cekungan migas baru nan belum tersentuh di beragam wilayah Indonesia.

"Sedangkan untuk nan sekarang ini sedang kita kelola, seperti tadi Bu Desti saya highlight, bahwa banyak dari lapangan-lapangan kita itu nan sudah late life, sudah mature, beberapa apalagi very late life untuk ukuran produksi migas," ungkap Bayu dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Pihaknya menilai solusi utama untuk mengompensasi penurunan produksi dari lapangan tua adalah mengeksplorasi potensi cekungan hidrokarbon baru guna menutupi celah antara kebutuhan minyak nasional sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) dan tingkat produksi nan baru mencapai kisaran 600 ribu bph.

"Jadi jika datanya, dari 128 cekungan itu baru 20 nan kita kerjakan dari operator-operator hulu migas. Artinya apa, Bapak, Ibu? Sebagian besar potensi di Indonesia ini menunggu untuk dikerjakan," tambahnya.

Penggarapan cekungan baru memerlukan support modal berbobot tinggi nan pada tahun lampau mencapai US$ 15 miliar alias setara Rp 269,66 triliun (asumsi kurs Rp 17.977/US$) dari kontraktor hulu migas.

Belum lagi, jika aktivitas eksplorasi dilakukan pada cekungan baru hari ini, maka produksi minyak pertama (first oil) baru dapat terealisasi dalam jangka waktu 5 hingga 7 tahun mendatang.

"Kalau hari ini kita melakukan eksplorasi, maka 5 alias 7 tahun lagi baru bakal kita lihat first oil-nya, baru bakal kita lihat produksi minyaknya. Horizon waktunya cukup panjang, sehingga risikonya juga menjadi panjang," katanya.

Selain eksplorasi cekungan baru, solusi penanganan ketahanan daya dilakukan melalui percepatan proyek-proyek skala besar seperti Abadi Blok Masela dengan perkiraan investasi mencapai US$ 20 miliar. Langkah tersebut didukung sinergi antar pemangku kepentingan untuk mempermudah perizinan lahan, izin usaha, hingga skema pembiayaan.

"Tentu saja ini bakal butuh support nan luar biasa dari SKK Migas terutama, kemudian juga dari pihak-pihak lain nan berhubungan, perbankan, investor, kemudian pemangku kepentingan nan lain dari pajak, dari SDM, dan sebagainya," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑