Sudaryono: 950 Dapur MBG Terindikasi Tak Higienis, Siap Tutup Permanen

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, berbareng Wakil BGN, Agustina Arumsari, dalam konvensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, (7/8). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Ada sebanyak 950 dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga belum memenuhi standar higiene dan sanitasi. Dapur-dapur tersebut berpotensi ditutup permanen andaikan dinyatakan tidak layak setelah melalui proses evaluasi.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, nan menyatakan pihaknya hingga saat ini telah menerima laporan mengenai ratusan dapur, nan diduga tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi sehingga membahayakan keamanan pangan bagi penerima manfaat.

“Sampai sejauh ini kami mendapatkan laporan ada 950 dapur nan kami curigai sampai dengan hari ini kemungkinan besar tidak layak sanitasi dan higienis nan kemungkinan bakal kami umumkan di kemudian hari berapa nan pasti kami tutup secara permanen lantaran tidak layak secara higienis dan sanitasi,” ungkap Sudaryono dalam konvensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8).

Sudaryono menegaskan, dapur MBG nan tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi bakal dikenai hukuman penutupan permanen. Menurut dia, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) merupakan syarat absolut bagi dapur untuk tetap beroperasi.

“SLHS ini bukan syarat administrasi, ini syarat mutlak. Manakala dapur itu kemudian tidak layak, ya memang nol. Kalau layak satu. Jadi jika mau sebagus apa pun secara higienis dan sanitasinya itu kemudian tidak layak, maka kudu disuspend permanen, kami tutup dapurnya secara permanen,” tegas dia.

Jurnalis mengambil gambar suasana dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pramaguna Nasional nan ditutup sementara di Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Ia menambahkan, BGN memberikan tenggat hingga 10 Agustus bagi dapur nan telah beroperasi, tetapi belum melengkapi SLHS. BGN juga telah meminta jejeran di wilayah memberikan asistensi dalam proses pengurusannya.

Kendati demikian, Sudaryono mengakui proses pemenuhan SLHS di sejumlah wilayah terkendala lambatnya penanganan administrasi. Namun, dia tetap menegaskan dapur nan tidak memenuhi standar higiene dan sanitasi tetap bakal ditutup permanen.

“Yang jelas nan tidak layak sanitasi dan higienis pasti kami tutup secara permanen,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan