Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan hingga pertengahan April 2026 progres persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 untuk komoditas mineral dan batu bara telah mencapai sekitar 90%.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan, proses persetujuan RKAB hingga saat ini tetap terus dikerjakan.
"Almost done. Sudah nyaris 90%," ungkap Tri di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Tri membeberkan, perusahaan nan belum mendapatkan persetujuan RKAB ini dikarenakan tetap terkendala pemenuhan arsip nan disyaratkan pemerintah.
"Dia kurang ini, terus kemudian belum melengkapi, terus kita mau menyetujuin? Enggak lah," katanya.
Pemerintah Pangkas Produksi
Pemerintah memutuskan untuk memangkas sasaran produksi batu bara dan nikel pada tahun ini. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan komoditas tersebut di pasar global, sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak harga.
Batu Bara
Untuk sektor batu bara, pemerintah berencana memangkas produksi pada 2026 menjadi kurang lebih sekitar 600 juta ton. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 sebesar 790 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemangkasan sasaran produksi ini ditujukan guna mendorong nilai batu bara kembali naik dan menjaga persediaan batu bara ke depannya.
Menurut dia, Indonesia sendiri menyuplai sekitar 514 juta ton batu bara alias 43% dari total volume perdagangan bumi nan mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Kondisi inilah nan menjadi biang kerok jatuhnya nilai batu bara.
"Akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya nilai batu bara turun. Lewat kesempatan berbahagia ini, Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita bakal lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita bakal turunkan agar nilai bagus dan tambang kita untuk cucu kita," ujar Bahlil, dikutip Senin (19/1/2026).
Nikel
Selain batu bara, pemerintah juga bakal menyesuaikan produksi nikel nan selaras dengan kebutuhan industri hilir di dalam negeri.
Setidaknya, Kementerian ESDM bakal memangkas sasaran produksi nikel menjadi sekitar 250-260 juta ton pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 ialah sebesar 379 juta ton.
(ven/wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·