Substansiasi Hijrah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Substansiasi Hijrah (Dok. Pribadi)

MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan jelek menuju kehidupan nan lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan membujuk masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka.

Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu menunjukkan kepercayaan tetap menjadi sumber inspirasi dan daya moral bagi kehidupan masyarakat. Namun, ironisnya, kenapa religiositas tampak meningkat, tetapi pelanggaran moral tetap terjadi? Mengapa tempat ibadah penuh, tetapi penjara juga penuh? Mengapa semakin banyak orang berbincang tentang agama, tetapi kejujuran dan amanah tetap menjadi peralatan langka?

Barangkali persoalannya bukan terletak pada kurangnya aktivitas keagamaan, melainkan pada belum terjadinya transformasi nilai secara mendalam. Kita sering kali sukses membangun kesalehan ritual, tetapi belum sepenuhnya membangun kesalehan sosial.

Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan geografis dari Mekah ke Madinah. Hijrah adalah titik kembali peradaban. Ia melahirkan masyarakat baru nan dibangun di atas fondasi keadilan, persaudaraan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, hijrah sejatinya bukan sekadar perubahan penampilan alias lingkungan pergaulan. Hijrah adalah perubahan orientasi hidup. Ia adalah perpindahan dari keakuan menuju kemaslahatan, dari ketidakjujuran menuju integritas, dari penyalahgunaan kekuasaan menuju amanah, dan dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama.

Pemikir besar Islam, Imam Al-Ghazali (1058-1111), sepanjang karya-karyanya menekankan bahwa inti kepercayaan adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Al-Ghazali, pengetahuan dan ibadah tidak bakal melahirkan kemuliaan andaikan tidak menghasilkan perubahan karakter. Pesan itu terasa sangat relevan bagi kehidupan modern nan sering kali mengukur keberagamaan dari apa nan tampak, bukan dari apa nan tecermin pada perilaku.

TANTANGAN BANGSA

Hal nan sama diingatkan Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Muqaddimah nan ditulis pada 1377. Ia menegaskan ketidakadilan merupakan pertanda awal kemunduran suatu peradaban. Sebuah masyarakat dapat mempunyai kekayaan, kekuasaan, dan apalagi simbol-simbol keagamaan nan kuat, tetapi ketika keadilan mulai ditinggalkan, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Peringatan Ibnu Khaldun terasa sangat aktual. Tantangan bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi alias teknologi, melainkan juga persoalan integritas. Korupsi nan terus berulang menunjukkan masalah utama kita bukan kekurangan aturan, melainkan lemahnya komitmen moral untuk menjalankan patokan tersebut.

Di sinilah letak persoalan kita. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa korupsi itu salah. Mereka mengetahui bahwa menipu adalah dosa. Mereka mengerti bahwa mengingkari amanah merupakan tindakan tercela. Namun, pengetahuan moral tidak selalu beralih bentuk menjadi tindakan moral. Padahal, kepercayaan tidak hanya mengajarkan apa nan kudu diketahui, tetapi juga apa nan kudu dilakukan.

Kesalehan nan tidak melahirkan kejujuran adalah kesalehan nan belum selesai. Ibadah nan tidak menghasilkan kepedulian sosial adalah ibadah nan kehilangan sebagian maknanya. Hijrah nan tidak mengubah perilaku hanyalah perpindahan simbol, bukan transformasi substansi.

Pemikir muslim kontemporer asal Aljazair, Malik Bennabi (1905-1973), dalam karyanya, The Conditions of Renaissance (1948), mengingatkan bahwa kemunduran suatu bangsa sering kali berasal dari krisis moral dan krisis gagasan. Menurut Bennabi, kebangkitan peradaban tidak dapat dicapai hanya dengan pembangunan fisik, tetapi kudu dimulai dari pembangunan manusia.

Pandangan itu krusial untuk direnungkan. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan prasarana keagamaan. nan tetap dibutuhkan adalah pembangunan karakter nan menjadikan nilai-nilai kepercayaan datang dalam kehidupan sehari-hari.

Kita memerlukan hijrah para pejabat dari budaya kekuasaan menuju budaya pelayanan. Kita memerlukan hijrah para pelaku upaya dari orientasi untung semata menuju tanggung jawab sosial. Kita memerlukan hijrah para pendidik dari sekadar mengajar menuju membentuk karakter. Kita memerlukan hijrah masyarakat dari budaya menyalahkan menuju budaya memperbaiki diri.

Lebih dari itu, kita memerlukan hijrah kolektif sebagai bangsa.

Hijrah kolektif berfaedah keberanian memperbaiki sistem nan memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan nasihat moral kepada individu. Sistem nan jelek bakal terus menggoda manusia untuk melakukan buruk. Sebaliknya, sistem nan baik bakal membantu manusia mempertahankan kebaikan.

Karena itu, substansiasi hijrah kudu melangkah pada dua jalur sekaligus: transformasi perseorangan dan transformasi sosial. Kesalehan pribadi kudu melahirkan kesalehan publik. Spiritualitas kudu menghasilkan kemaslahatan.

MOMENTUM EVALUASI BERSAMA

Muharam semestinya menjadi momentum pertimbangan bersama. Ukuran keberhasilan hijrah tidak cukup dilihat dari seberapa banyak rumah ibadah nan dibangun, tetapi juga dari seberapa berkurang ketidakjujuran di tengah masyarakat. Tidak cukup dari seberapa ramai majelis pengetahuan nan diselenggarakan, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap perilaku sosial.

Pada akhirnya, hijrah bukanlah perjalanan geografis. Hijrah adalah perjalanan moral. Ia bukan perpindahan tempat, melainkan perpindahan kualitas kemanusiaan.

Bangsa ini tidak hanya memerlukan masyarakat nan religius dalam ritual, tetapi juga religius dalam karakter. Tidak hanya giat beribadah, tetapi juga jujur dalam bekerja. Tidak hanya fasih berbincang tentang akhlak, tetapi juga menghadirkannya dalam kehidupan nyata.

Rumah ibadah nan penuh bakal menemukan maknanya ketika penjara mulai kosong. Ketika amanah menjadi budaya. Ketika kejujuran menjadi kebiasaan. Ketika keadilan menjadi kenyataan. Ketika kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan menguasai.

Di situlah hijrah menemukan substansinya. Bukan sebagai semboyan tahunan nan berulang setiap Muharam, melainkan sebagai daya moral nan bisa mengubah manusia, memperbaiki masyarakat, dan membangun peradaban nan bermartabat.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia