Studi: Ulah Manusia Jadi Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Sejumlah penduduk berdiri di dekat selang air nan menyemprotkan air untuk menyegarkan diri dari sengatan musim panas, sebagai bagian dari langkah penyesuaian suasana di Cologne, Jerman barat, Kamis (25/6/2026). Foto: Ina Fassbender/AFP

Kelompok intelektual dari World Weather Attribution mengungkap perubahan suasana akibat aktivitas manusia menjadi penyebab gelombang panas luar biasa nan melanda Eropa.

Dalam penelitian mereka, para intelektual menyebut peran aktivitas manusia dalam memicu gelombang panas tersebut sudah tidak diragukan lagi.

Menurut mereka, 50 tahun lampau suhu setinggi nan terjadi pada Juni tahun ini nyaris mustahil terjadi.

Sejumlah penduduk berlindung di bawah payung dari teriknya sengatan mentari di Guildford, Inggris, Kamis (25/6/2026). Foto: Justin Tallis/AFP

"Gelombang panas serupa bakal 3,5 derajat Celsius lebih dingin pada siang hari di bulan Juni 1976," kata tim intelektual dari Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).

Ilmuwan utama penelitian tersebut, Theodore Keeping, menekankan bahwa bumi saat ini menjadi lebih panas.

"Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim," kata Keeping.

Ia menambahkan, suhu Bumi sekarang telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Kenaikan suhu tersebut dipicu oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas.

Seorang penduduk menghalau teriknya sengatan mentari menggunakan kipas tangan di pusat kota London, Inggris, Kamis (25/6/2026). Foto: BROOK MITCHELL/AFP

Para intelektual menjelaskan gelombang panas bakal terjadi lebih sering dan dengan intensitas nan lebih tinggi. Karena itu, mereka menekankan pentingnya membatasi penyebab perubahan suasana guna menghindari akibat nan lebih buruk.

Eropa merupakan benua nan mengalami pemanasan paling cepat. Laporan terbaru mengungkap jutaan orang di area itu terdampak suhu ekstrem setelah sejumlah negara memecahkan rekor suhu tertinggi.

Ilmuwan lainnya, Friederike Otto, menjelaskan gelombang panas sebenarnya merupakan kejadian nan biasa terjadi. Namun, nan membikin peristiwa kali ini berbeda adalah tingkat suhunya nan sangat tinggi.

"Pola cuaca itu sendiri tidak terlalu luar biasa, tetapi suhunya nan luar biasa," ujar Otto.

Seorang anak melangkah melintasi air mancur untuk menyegarkan diri di Nice, Prancis selatan, Kamis (25/6/2026). Foto: Valery Hache/AFP

Otto kemudian memperingatkan ancaman paparan panas berlebih (heat stress). Menurutnya, kondisi tersebut muncul akibat kombinasi suhu tinggi dan kelembapan.

Pada manusia, paparan panas berlebih terjadi ketika sistem pendingin alami tubuh tidak lagi bisa mengimbangi panas nan diterima. Gejalanya meliputi pusing, sakit kepala, hingga kandas organ dan kematian.

"Hal ini membikin paparan panas berlebih sangat tidak menyenangkan dan berbahaya," kata Otto.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan