Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus(Dok Istimewa)
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) tengah memacu beragam Program Hasil Terbaik Cepat untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional dengan menggelar program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini menggeser konsentrasi pelayanan kesehatan dari kuratif (pengobatan) menjadi preventif dan promotif. Pelaksanaan program CKG dan penurunan nomor tuberkulosis menjadi fokus, berbareng dengan program lain seperti pemerataan jasa kesehatan dengan pembangunan 66 rumah sakit di beragam daerah.
Berikut wawancara dengan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus yang berkawan disapa Benny berbareng wartawan Media Indonesia M Iqbal Machmudi dan Indrastuti.
Penyakit katastropik terutama jantung menyedot anggaran BPJS Kesehatan paling banyak sekitar Rp17,3 triliun dan kandas ginjal Rp13 triliun di 2025. Bagaimana Kemenkes menyikapi ini serta perkembangan upaya promotif dan preventif saat ini?
Saya menjadi master sekitar 36 tahun, nyaris tidak menemukan orang Indonesia melakukan cek kesehatan, baik dari kelas bawah, menegah, maupun kelas atas, selain dia mau pergi kerja, naik haji, tugas pendidikan unik ke luar negeri.
Pada 2019 saya bikin cek kesehatan secara cuma-cuma nan sudah dilakukan di 8.000 letak di Indonesia. Saya memandang nomor penyakit katastropik komplikasi dari glukosuria dan hipertensi begitu tinggi. Begitu Bapak Prabowo Subianto menjabat, saya diminta menyusun program dari sektor kesehatan dan muncul program Cek Kesehatan Gratis (CKG) nan sudah kami lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya.
Saya mengusulkan CKG dilakukan. Tahap pertama sesuai dengan anggaran negara untuk usia dewasa 18-59 tahun. Supaya di usia produktif kita enggak perlu sakit sehingga tidak sebabkan gangguan ekonomi, rumah tangga, dan sosial, juga psikologis terganggu. Itulah dasar program CKG agar kasus katastropik dapat dicegah.
PHTC lainnya mengenai pengentasan tuberkulosis (TB). Kemenkes bakal lacak 100% kontak erat pasien. Bagaimana strategi anyar Kemenkes ini bisa efektif?
Penyakit TB mirip dengan covid-19 ialah penyakit menular, bisa menulari orang di sekitar rumah dari kontak bentuk maupun batuk. Maka, begitu saya diperintahkan Presiden dan Menteri Kesehatan, saya susun langkah extraordinary, mulai tahun ini seluruh family pasien nan TB wajib diperiksa CKG dengan x-ray dan pemeriksaan dahak.
Kalau sakit langsung diobati, nan enggak sakit langsung dikasih obat TPT (terapi pencegahan tuberkulosis) dengan 12 kali minum obat. Saya keliling Indonesia juga untuk mengontrol ini. Saya cek obat-obatannya kudu ada, alatnya ada, dan operasionalnya ada.
Kita sekarang lagi beli 786 perangkat x-ray tambahan sehingga dapat mempercepat penemuan awal TB. TPT bakal menurunkan kasus TB sekitar 9%, sementara obat-obatan hanya 6,3%.
Apakah pembatasan fiskal wilayah berpengaruh program TB ke depan?
Khusus TB, lantaran ini extraordinary, jadi pendanaannya kita dari Kemenkes kudu 100%. Kalau tidak, tidak bisa beres. Ini pembiayaannya kudu maksimal, makanya saya mau agar PHTC ini kudu betul-betul kita manfaatkan. Presiden perintahkan saya unik tangani TB. Karena extraordinary maka pengerjaannya lintas sektor baik TNI, Polri, Kemendagri, Kementerian PKP, dan lainnya.
Bagaimana progres peningkatan status 66 RSUD dari jenis D ke jenis C?
Masih ada 66 kabupaten nan tidak ada rumah sakit, nan ada puskesmas nan dipaksa jadi rumah sakit alias hanya puskesmas perawatan biasa. Maka, tahun lalu, tahun ini, dan tahun depan rumah sakit di 66 kabupaten bakal dibangun. Targetnya di akhir 2027 tidak ada lagi kabupaten nan tidak punya rumah sakit. Dengan demikian, ke depan bakal ada pemerataan jasa kesehatan, termasuk bagi masyarakat nan tinggal di wilayah 3T nan tidak perlu jauh jika bakal ke rumah sakit.
Bagaimana Kemenkes memaknai HUT ke-81 Republik Indonesia dari sisi kesehatan?
Kita mau manusia Indonesia umurnya panjang dalam keadaan sehat. Maka, dilakukan cek kesehatan agar menjaga di usia produktif tidak sakit, nan menyebabkan mereka tidak bisa bekerja. Itu prinsipnya. Harapan kita masyarakat memanfaatkan CKG untuk penemuan lebih awal sehingga memudahkan dalam penanganannya.
Memasuki 81 tahun Indonesia, masyarakat semakin sadar kesehatan lantaran kesehatan tidak bisa hanya dari negara. Mereka kudu mengatur pola hidup sehat dengan melakukan cek kesehatan. Tujuan CKG agar usia angan hidup makin panjang dan dalam keadaan sehat. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·