KETUA Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.(Dok. Antara)
KETUA Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa regulator berkomitmen penuh alias all out dalam menjalankan reformasi pasar modal Indonesia. Langkah serius ini telah dilakukan sejak Januari 2026 hingga saat ini, merespons pengumuman dari penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Kalau dibilang kita enggak ngapa-ngapain, itu salah banget. Bahkan kita sudah all out banget dengan segala perihal nan kita lakukan,” ujar Friderica saat ditemui wartawan di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Langkah Strategis Reformasi Pasar Modal
Friderica memaparkan sejumlah langkah konkret nan telah diambil OJK untuk memperkuat struktur pasar modal domestik, di antaranya:
- Peningkatan keterbukaan info kepemilikan saham di atas 1 persen.
- Penerapan kebijakan High Shareholding Concentration (HSC).
- Peningkatan pemisah minimum free float menjadi 15 persen secara bertahap.
- Perluasan pengelompokkan penanammodal menjadi 39 kategori untuk meningkatkan granularitas info penanammodal domestik dan asing.
Terkait penegakan hukum, Friderica menekankan bahwa OJK memerlukan waktu untuk membuktikan dugaan pelanggaran secara jeli sebelum menjatuhkan sanksi. Hal ini sangat krusial terutama dalam kasus dugaan perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) nan memerlukan identifikasi mendalam terhadap pihak-pihak nan terlibat.
Sanksi Tegas dan Respons Terhadap MSCI
Sebagai corak ketegasan, OJK telah menjatuhkan hukuman administratif berupa denda total senilai Rp2,1 triliun kepada tiga emiten besar, ialah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sanksi ini diberikan berasas hasil pemeriksaan atas dugaan pelanggaran di pasar modal.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga meluncurkan dua inisiatif baru pascapertemuan dengan MSCI pada Senin (19/10). Inisiatif tersebut mencakup penambahan keterangan hubungan saham dengan kepemilikan 1 persen dan kebijakan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari kalkulasi IHSG.
Pergerakan IHSG dan Kepercayaan Pasar
Mengenai kondisi pasar, IHSG pada Selasa (20/10) sore ditutup menguat signifikan sebesar 282,28 poin alias 5,65 persen ke posisi 5.278,89. Penguatan ini terjadi setelah pasar mengalami koreksi tajam pada Jumat (16/10) akibat sentimen MSCI nan membuka konsultasi mengenai potensi penurunan pengelompokkan pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market.
Friderica menilai pergerakan positif IHSG mencerminkan kembalinya kepercayaan pelaku pasar terhadap esensial ekonomi Indonesia. Ia juga menyebut tindakan pembelian kembali saham (buyback) turut memberikan sentimen positif bagi stabilitas pasar modal nasional. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·