Ilustrasi(MI/Lina Herlina)
SUDAH lebih dari 100 siswa dan pembimbing di Tana Toraja tumbang setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi kejadian itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tana Toraja minta MBG dihentikan, dan bukan sekadar evaluasi.
Selain turun langsung memantau kondisi korban, pihak DPRD juga menyiapkan langkah politik untuk meminta pertanggungjawaban menyeluruh. Rapat Dengar Pendapat (RDP) bakal segera digelar dengan memanggil Bupati, jejeran pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN).
Langkah ini diambil setelah jejeran DPRD meninjau langsung para korban nan menjalani perawatan intensif di RSUD Lakipadada Kamis (3/9). Mereka mengaku geram dan kekecewaan program gizi tersebut malah membikin anak sekolah masuk rumah sakit.
“Kami bakal segera bersurat hari ini juga untuk mengundang Bupati, jejeran lembaga terkait, serta pengelola SPPG. Situasi ini sudah darurat. Kami meminta seluruh SPPG di Tana Toraja menghentikan sementara pelayanan MBG di wilayah ini,” tegas personil DPRD Tana Toraja, Kendekrante, nan didampingi Evivana Rombedatu.
Tuntutan DPRD tidak berakhir pada penghentian sementara. Dalam pernyataan nan lebih keras, salah satu personil majelis secara terbuka mempertanyakan efektivitas program jagoan pemerintah pusat ini di daerahnya.
“Terus terang, jika kita mau jujur, pemerintah nan ada ini hanya tinggal pamor saja. Gengsi mengakui bahwa program MBG ini gagal,” ujarnya
DPRD berencana menyatukan bunyi dengan pemerintah wilayah untuk mengusulkan penghentian permanen program MBG di Tana Toraja, alias setidaknya menggantinya dengan model sistem nan berbeda. Mereka menyoroti kegagalan pengawasan standar keamanan pangan nan semestinya menjadi tanggung jawab mahir gizi di setiap dapur SPPG.
Kronologi
Kejadian keracunan bermulai setelah para siswa mengonsumsi makanan nan disuplai dari salah satu dapur SPPG di Kelurahan Batupapan pada Rabu (2/9). Keesokan harinya, para korban mulai merasakan indikasi keracunan seperti pusing, mual, muntah, hingga diare. Kejadian ini di SMP Negeri 1 Makale.
Hingga Kamis siang, sejumlah rumah sakit seperti RSUD Lakipadada, RS Fatimah, dan RS Sinar Kasih disesaki oleh ratusan pasien, guru, dan family korban nan panik. nan ditambah lagi kehadiran belasan siswa dari SMP Negeri 2 Satu Atap Makale.
Sebagian korban nan kondisinya mulai stabil telah diperbolehkan pulang, sementara lainnya tetap menjalani perawatan intensif. Pihak kepolisian telah memasang garis polisi di dapur SPPG nan diduga menjadi sumber keracunan.
Jika DPRD menyuarakan dorongan politik, Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, terlihat konsentrasi pada penanganan medis. Ia turun langsung ke rumah sakit untuk menjenguk para korban dan memastikan jasa kesehatan melangkah optimal.
“Penanganannya dulu, semua ketua rumah sakit di Makale saya perintahkan untuk tangani para siswa nan keracunan ini sembari kita memastikan apa penyebabnya,” kata Zadrak.
Jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja pun telah dikerahkan ke seluruh rumah sakit. (LN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·