Lebih dari 1.000 proposal proyek telah ditawarkan kepada Danantara Indonesia, tetapi hanya kurang dari 1 persen nan akhirnya diterima untuk investasi.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia sekaligus CEO Danantara Investment Management, Pandu Sjahrir, mengungkap argumen di kembali selektivitas tersebut dalam wawancara eksklusif berbareng kumparan dalam program Podcast Lab.
Menurutnya, setiap investasi kudu melalui proses nan ketat dengan mempertimbangkan potensi untung sekaligus faedah ekonomi bagi Indonesia.
“Balik tadi saya lihat satu dari sisi return, nomor satu economic return. Kedua kami juga pengin lihat juga jangkauannya, misalnya apakah economic multiplier buat negara kita. Dan ketiga pembuatan kerja,” ujar Pandu. Ia menegaskan, lapangan kerja nan diciptakan juga kudu memberikan nilai tambah, bukan sekadar menambah jumlah tenaga kerja.
Dalam menjalankan strategi tersebut, Danantara juga condong memilih proyek brownfield nan telah mempunyai arus kas (cash flow). Sementara untuk proyek greenfield, Danantara mensyaratkan adanya perjanjian nan jelas.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Danantara memilih investasi nan dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mempunyai tingkat kepastian nan lebih baik.
Salah satu contohnya adalah proyek Waste to Energy (WTE). Pandu mengatakan, Danantara memilih pendekatan nan dapat memberikan hasil sekaligus menjawab kebutuhan strategis. “Makanya kami berani ketika diberi penugasan mengenai WTE, lantaran kami menilai kebutuhannya krusial dan juga menyangkut krisis lingkungan hidup nan nyata,” kata Pandu.
Selain WTE, Pandu menyebut kompleks kampung haji di Makkah sebagai salah satu investasi nan hasilnya dapat dirasakan secara nyata. Investasi tersebut juga mempunyai potensi arus kas nan kemudian dapat digunakan untuk pengembangan aset lain. “Nah, cash flow-nya pun bakal kami guna untuk membangun lagi hotel-hotel di sana,” ujarnya.
Pandu turut mengungkap investasi Danantara di sektor protein dunia sebagai bagian dari “global protein platform”. Rencana tersebut sekarang berkembang menjadi kemitraan strategis dengan JBS Group.
Pada 7 Agustus 2026, Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) mengumumkan investasi USD 2,5 miliar untuk memperoleh 25 persen kepemilikan pada joint venture (JV) yang mengelola operasi JBS di Australia dan Selandia Baru.
JV tersebut juga berpotensi menghimpun tambahan pembiayaan hingga USD 2,5 miliar, sehingga total modal tersedia mencapai USD 5 miliar untuk akuisisi dan investasi greenfield di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.
Kemitraan ini memberikan Danantara akses ke ekosistem bisnis, pengalaman manajemen, serta jalur pengedaran JBS nan diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor protein Indonesia. Hal ini sejalan dengan prinsip investasi luar negeri Danantara yang, menurut Pandu, kudu membawa transfer pengetahuan, teknologi, dan skill ke Indonesia.
“Kami hanya mau berinvestasi di luar negeri jika investasi itu membawa transfer of knowledge, transfer of technology, dan transfer of know-how. Itu krusial lantaran kita beli otak, kita membeli IP,” ujar Pandu.
Melalui kemitraan tersebut, Danantara menargetkan penguatan rantai pasok protein regional, ekspansi akses pasar, sekaligus pengembangan ekosistem protein Indonesia.
Lantas, gimana Danantara menyaring lebih dari 1.000 proposal hingga hanya kurang dari 1 persen nan diterima? Mengapa WTE dan proyek kampung haji di Makkah menjadi bagian krusial dari strategi investasinya? Serta gimana kemitraan dengan JBS diarahkan untuk mengembangkan ekosistem protein Indonesia?
Simak pembahasan komplit Pandu Sjahrir mengenai strategi investasi, tata kelola, hingga visi jangka panjang Danantara dalam wawancara eksklusif Podcast Lab kumparan dengan dipandu oleh Ikhwanul Habibi sebagai host.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·