Silaturahmi ala Gen Z : Bukan Rumah ke Rumah tapi Lewat Love Instagram

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Sumber : Gemini Generated Image; Menggambarkan hubungan nan erat melalui IG sebagai salah satu media sosial.

Pernah menyukai Story IG seseorang dengan menekan tombol love? Kalau gak pernah berfaedah Anda kurang update.

Sebelum melangkah lebih jauh, sepertinya kita kudu memahami dengan betul apa itu silaturahmi. Dalam kebiasaan masyarakat, silaturahmi berkawan dengan aktivitas mengunjungi seseorang, kerabat alias siapa pun entitas tersebut untuk disambung ikatan pertemanan alias kekerabatannya.

Jika ditelisik lebih dalam, silaturahmi merupakan kata serapan nan asalnya dari bahasa Arab, kata Shilat (صلة) dan juga rahim (رحيم) nan artinya secara prinsip adalah aktivitas menyambung ikatan sedarah dan secara luas adalah aktivitas menyambung ikatan baik sedaarah ataupun tidak. Ketika kita berjamu ke rumah seseorang dengan niat silaturahmi, maka nan kita maksud harusnya adalah menjadikan orang tersebut dekat dengan kita sehingga kita mau menjalin ikatan tersebut secara berkala. Terlepas dari apakah seseorang tersebut merupakan kerabat sekandung/sedarah alias hanya sesama manusia.

Love story nan bikin hidup

Love di Story IG itu istimewa, dia bukan hanya gambar belaka. Ia mempunyai makna nan lebih luas, bukan hanya sekadar memberikan rasa cinta tapi juga support dan beberapa pesan tersirat lainnya. Kenapa saya bilang love di instagram termasuk ke dalam rangkaian silaturahmi padahal di dalamnya tidak ada aktivitas berkunjung. Saya bakal jelaskan gimana hubungannya.

Ketika silaturahmi terjadi, hubungan hati kedua belah pihak – Pelaku silaturahmi dan pihak nan disilaturahmikan – mempunyai keterhubungan nan intens. Terdapat rasa senang nan timbul dalam hati ketika dua wajah nan saling mengenal bertemu, dua bibir nan saling mengisyaratkan senyum menyapa, dua mata nan saling berbagi tawa bersua. Tanpa disadari, inilah nan terjadi ketika silaturahmi.

Lebih lanjut, ketika membuka IG langsung saja saya memandang konten tentang “Orang nan mendukung kita bukan dari orang nan kita kenal” dengan menunjukkan reaksi love di story Instagram. Konten seperti ini mengindikasikan bahwa corak support bisa diimplementasikan salah satunya dengan Love Instagram. Bentuk support ini terlihat ketika terjalin hubungan dari orang nan tidak kita kenal. Tetapi gimana jika hubungan tersebut terjadi di antara orang nan sudah mengenal dan dipisahkan oleh jarak?

Saya sendiri sering mengalami hubungan ini, banyak sekali support nan timbul ketika saya memuat story di IG dari orang nan saya kenal dan tidak saya kenal. Lebih lagi jika support tersebut datang dari kenalan nan jauh di sana. Love nan muncul bukan sekadar gambar merah hati, nan saya rasakan adalah corak support dan corak silaturahmi seakan-akan jika love itu muncul dari orang nan jauh dia berbicara “Woi lihat, saya tetap hidup. Kapan-kapan kita berjumpa ya!” menjadikan suasana antara saya dengan orang nan jauh di sana menjadi langgeng dan selalu terjalin meskipun tanpa melakukan chat.

Ini nan bikin saya mulai merenung, Silaturahmi ala gen Z bukan hanya Love Story

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di pencetan love Instagram, tapi juga di bagian share reels pada Direct Message. Kedekatan nan terjalin dengan saling share reels menjadi sebuah keintiman ala gen z. Tidak perlu rasanya berbagi tawa secara langsung jika bisa lewat Instagram. Dengan kesadaran nan layak dan kontekstualisasi konten, sebenernya hal-hal nan datang di tengah peradaban ini juga sudah mulai bergeser.

Tergantung pintarnya kita memanfaatkan perihal tersebut. Sebab terkadang jika sesuatu terlalu berlebihan juga tidak bagus dan terkesan mengganggu. Lagi-lagi, ini adalah curahan pikiran saya menghadapi kejadian hari ini, terlalu subjektif tapi bisa jadi kalian juga merasakan perihal nan sama.

Sebenarnya, setelah saya pahami lebih dalam melalui perenungan luar biasa – melalui beberapa seduhan kopi – saya mulai memahami bahwa silaturahmi ala gen z ini bukan hanya terjadi di Instagram. Ketika Anda membuka WA dan menyukai cerita kawan lebih sering, itu tandanya Anda sedang silaturahmi. Ketika Anda membuka X alias Facebook, Anda menyukai cerita alias postingan temanmu itu sendiri sudah menjadi silaturahmi. Maksud saya, silaturahmi ala gen z di era teknologi ini bisa terjadi di media digital apa pun secara tidak langsung.

Kekurangan dari Silaturahmi nan saya beri nama “Ala Gen Z”

Sebenarnya silaturahmi model kaya gini itu bagus ya, selain menghemat duit transportasi juga meminimalkan daya nan dikeluarkan. Tapi silaturahmi ini juga mempunyai beberapa kekurangan nan saya rasa perlu dipertimbangkan jika mau diterapkan.

Kekurangan nan pertama, konsep silaturahmi ini tidak bisa diterapkan ke sembarang orang. Bayangin jika Anda belum kenal, alias Anda belum dekat dengan seseorang di bumi nyata dan Anda secara tiba-tiba memberi love di tiap ceritanya. Sangat mengganggu sekali kan. Belum lagi jika orang nan Anda sukai ceritanya sangat moody-an alias musuh jenis, Anda bakalan disangka naksir sama dia.

Kekurangan nan kedua, tidak semua orang mengerti argumen Anda menyukai cerita mereka. Sebelum menulis ini, saya sudah melakukan survei dan gak semua orang sepaham dengan konsep ini, jika tiba-tiba Anda peledak love cerita orang lain, Anda bakalan keliatan asing dan poin pentingnya tidak semua orang mau menerima peledak love dari kamu, selain Anda setampan artis korea alias minimal seperti Jefri Nichol.

Dampak Silaturahmi Ala Gen Z

Saya betul-betul merasakannya setelah menerapkan konsep ini dengan kurun waktu nan tidak sebentar. Awalnya sasaran nan saya like mungkin bakal mengira bahwa saya hanya sekadar like saja, tapi setelah saya terapkan secara konsisten di cerita mereka nan telah saya filter – tidak semua cerita saya like, biasanya cerita nan saya like mengandung unsur emosional pembuat, dugaan saya ketika saya like membikin mereka senang. Jujur saja, saya mendapatkan timbal kembali dari apa nan saya tabur, kehangatan di antara orang nan saya kenal mulai terjalin, mulai dari nan dekat sampai nan jauh. Lebih intens dan terjaga daripada sebelumnya.

Untuk membuktikan emosi ini, saya coba bikin status nan menegaskan konsep silaturahmi ala gen z ini. Kamu tahu respons mereka apa? Banyak nan memberikan love kepada saya dan beberapa ada nan menjawab status ini dengan reaksi nan positif, apalagi mereka berterima kasih jika ada nan memberikan love. Sebab menurut mereka, ini adalah salah satu corak dukungan.

Ketika membahas support – support system – saya jadi terkenang kaum nan termarginalkan dari hangatnya rasa kekeluargaan, pertemanan dan relasi sosial kemasyarakatan nan lain. Dengan konsep silaturahmi ala gen z, mereka tidak perlu merasa kesenyapan dan cemas tidak ada nan mendukung. Misal saja, kita menyukai cerita alias konten nan mengandung emosi dari kreator – seperti bangkit dari masalah, perjuangan melawan penyakit galak – perihal ini saya rasa bakal mempunyai akibat nan signifikan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan