Jakarta, CNBC Indonesia - Harga crude palm oil (CPO) bumi diproyeksikan tetap meningkat pada 2027. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung memperkirakan nilai CPO bumi tahun depan berada di kisaran US$1.650-US$1.720 per ton.
"Tahun 2027 diproyeksikan pasar minyak sawit bumi mengalami excess demand nan lebih tinggi dari pada kondisi tahun 2026, nan mendorong nilai minyak sawit bumi diperkirakan tetap meningkat dari nilai tahun 2026. Harga CPO bumi tahun 2027 diperkirakan sekitar US$1.650-US$1720 per ton," kata Tungkot kepada CNBC Indonesia, Senin (31/8/2026).
Menurut Tungkot, kenaikan nilai CPO tersebut terutama dipengaruhi oleh produksi minyak sawit bumi nan diperkirakan lebih rendah pada 2027. Ia mengatakan, produksi CPO bumi nan mencapai 85,4 juta ton pada 2025 diperkirakan turun menjadi 85,2 juta ton pada 2026, dan kembali turun menjadi sekitar 83,6 juta ton pada 2027.
Penurunan produksi tersebut, katanya, merupakan akibat El Nino nan melanda Indonesia dan Malaysia sejak kuartal III-2026 dan diperkirakan tetap bersambung hingga kuartal I-2027 apalagi kuartal II-2027.
"Dampak El Nino pada produksi sawit Indonesia sudah mulai terlihat pada kuartal IV-2026 dan akibat terbesarnya terjadi sepanjang tahun 2027," ujarnya.
Tungkot mengatakan, Indonesia sebagai negara produsen sekaligus eksportir sawit terbesar bumi juga diperkirakan mengalami penurunan produksi. Produksi CPO Indonesia sebesar 51,6 juta ton pada 2025 diproyeksikan turun menjadi sekitar 49,2 juta ton pada 2026 dan kembali turun menjadi sekitar 47,6 juta ton pada 2027.
Penurunan produksi juga terjadi di Malaysia, dari sekitar 20,2 juta ton menjadi sekitar 19,5 juta ton pada 2026.
B50 Dorong Konsumsi CPO RI
Selain penurunan produksi, peningkatan konsumsi domestik Indonesia untuk biodiesel B50 juga menjadi aspek nan mendorong excess demand pasar minyak sawit dunia.
Dalam kondisi tidak ada El Nino saja, Tungkot mengatakan kebijakan mandatori biodiesel Indonesia sudah menjadi variabel krusial dalam memengaruhi nilai CPO dunia. Dengan terjadinya El Nino ekstrem, dampaknya terhadap nilai minyak sawit bumi dinilai semakin besar.
Untuk 2026, B50 nan dimulai 1 Juli 2026 memerlukan CPO sekitar 14 juta ton. Sementara kebutuhan CPO untuk pangan sekitar 10,2 juta ton dan oleokimia sekitar 2,2 juta ton. Dengan demikian, total konsumsi CPO domestik Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 26-27 juta ton, meningkat dari sekitar 24,6 juta ton pada 2025.
Tungkot mengatakan, jika B50 diberlakukan secara penuh pada 2027, kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton. Dengan produksi CPO Indonesia nan diproyeksikan hanya sekitar 47,6 juta ton, volume CPO nan tersedia untuk ekspor dipastikan semakin sedikit.
Gapki: Harga CPO Juga Dipengaruhi Minyak Nabati Lain
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, pergerakan nilai CPO tidak hanya berjuntai pada pasokan minyak sawit. Pasokan minyak nabati lain juga menjadi aspek nan memengaruhi harga.
"Harga CPO naik alias tidak, itu tergantung pasokan minyak nabati lain seperti kembang matahari, minyak kedelai, rapeseed, canola. Apabila suplai minyak nabati lain bagus maka bakal menekan juga nilai minyak nabati termasuk minyak sawit," kata Eddy, dihubungi terpisah.
Di sisi pasokan dalam negeri, Eddy mengatakan stok CPO akhir 2026 semestinya tetap berada di kisaran 2,5-2,9 juta ton dan belum ada pengetatan pasokan.
"Stok akhir tahun 2026 semestinya tetap disekitar 2,5-2,9 juta ton. Tidak ada pengetatan pasokan," ujarnya.
Namun, produksi 2027 tetap berpotensi mengalami penurunan. Berdasarkan laporan dari bagian Gapki, sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kalimantan Utara tetap mengalami hujan.
"Saya sudah mendapatkan laporan dari Cabang rupanya Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kalimantan Utara tetap ada hujan. Jadi tetap kemungkinan produksi tahun 2027 terjadi penurunan, lantaran beberapa tetap ada hujan. Penurunannya sekitar 3 juta ton," ungkap dia.
Untuk 2026, Eddy memastikan produksi tetap mencukupi untuk mendukung B50.
"Tahun ini 2026 ya, artinya tidak ada masalah dengan B50 di tahun ini," ucapnya.
Data Gapki juga menunjukkan produksi CPO dan PKO pada Januari-Juni 2026 tetap tumbuh. Total produksi mencapai 30,284 juta ton, naik 15,82% dibandingkan periode nan sama 2025 sebesar 27,889 juta ton.
Namun, konsumsi dan ekspor juga meningkat. Total konsumsi dalam negeri Januari-Juni 2026 mencapai 12,994 juta ton, naik 5,48% secara tahunan. Sementara total ekspor mencapai 16,595 juta ton, naik 5,79%.
Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, total produksi 30,284 juta ton, konsumsi dalam negeri 12,994 juta ton, ekspor 16,595 juta ton, serta impor 32 ribu ton, stok akhir Juni 2026 tercatat sebesar 2,844 juta ton.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·