Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Rusia dan NATO kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Lithuania, Kestutis Budrys, menyatakan NATO mempunyai keahlian untuk "meratakan" prasarana militer Rusia di Kaliningrad. Kremlin langsung merespons keras pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman nan "nyaris gila".
Wilayah Kaliningrad merupakan eksklave Rusia nan terletak di antara Polandia dan Lithuania di area Laut Baltik. Kawasan itu menjadi salah satu titik strategis militer Rusia di Eropa lantaran dipenuhi sistem pertahanan udara dan rudal.
Dalam wawancara dengan media Swiss Neue Zurcher Zeitung, Budrys menyebut NATO sebagai "organisasi terkuat nan pernah diciptakan". Ia juga mendesak pendekatan nan lebih garang terhadap Moskow.
"Kita kudu menunjukkan kepada Rusia bahwa kita bisa menembus tembok mini nan mereka bangun di Kaliningrad," kata Budrys dikutip dari RT, Kamis (21/5/2026).
"NATO mempunyai keahlian untuk meratakan pangkalan pertahanan udara dan rudal Rusia di sana jika diperlukan."
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, langsung mengecam komentar tersebut. Ia menyebut pernyataan Budrys tidak layak dianalisis secara serius lantaran mencerminkan permusuhan nan "maniakal" terhadap Rusia.
Peskov mengatakan para pemimpin Lithuania saat ini dipenuhi sentimen anti-Rusia nan berlebihan. Menurutnya, sikap itu membikin para elite politik Baltik kehilangan keahlian berpikir strategis secara rasional.
"Sentimen anti-Rusia ini membikin mereka buta, mencegah mereka memikirkan masa depan dan bertindak demi kepentingan bangsa mereka sendiri," ujar Peskov menyebut kondisi serupa juga terjadi pada elite politik di tiga negara Baltik.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov turut menanggapi ancaman tersebut. Lavrov menyindir para pejabat Barat menggunakan retorika garang hanya untuk menunjukkan eksistensi politik mereka.
"Berbeda dengan filsuf Rene Descartes nan berbicara 'Saya berpikir maka saya ada', orang-orang ini hanya 'ada'," kata Lavrov sembari bercanda.
Pernyataan Lithuania muncul di tengah perdebatan di Uni Eropa mengenai kemungkinan membuka kembali jalur diplomatik dengan Rusia mengenai perang Ukraina. Moskow mengatakan keputusan sekarang berada di tangan Brussel lantaran Uni Eropa sebelumnya menghentikan kontak diplomatik akibat bentrok tersebut.
Namun sejumlah negara Baltik tetap mendorong pendekatan keras terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, apalagi meminta negara-negara Barat meningkatkan tekanan terhadap Moskow dan mengatakan sekarang "bukan waktu untuk berbincang alias bernegosiasi".
Sikap keras terhadap Rusia juga tetap dominan di jejeran ketua Uni Eropa, termasuk instansi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. Mantan perdana menteri Estonia itu sebelumnya menuai kontroversi setelah muncul skandal upaya suaminya nan disebut mempunyai hubungan dengan Rusia.
(sef/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·