Seskab Teddy Ungkap 3 Pesan Penting Prabowo di KTT BRICS 2026

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah tiba di tanah air pada, Senin (14/9/2026), setelah menyelesaikan kunjungan kerja di New Delhi, India, dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 pada 12-13 September. Pesawat kepresidenan mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma pada pukul 00.08 WIB.

Tampak menyambut kehadiran Presiden ialah Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan terdapat ketiga pesan nan ditekankan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas berjudul "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism".

Indonesia datang dengan visi untuk memperkuat tata kelola dunia nan inklusif sekaligus menyatukan bunyi negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kepentingan dan masa depannya.

Pesan pertama Presiden Prabowo menitikberatkan pada pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Bagi Prabowo, keahlian suatu negara untuk berdiri kuat di tengah dinamika dunia kudu dimulai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan mendasar masyarakatnya.

"Kekuatan sebuah negara bermulai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya-pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi nan kuat, Indonesia tidak bakal berjuntai alias mudah didikte oleh kekuatan tertentu," ujar Teddy seperti dikutip siaran pers.

Menurutnya, fondasi tersebut menjadi krusial bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan dan kepentingan nasionalnya secara mandiri. Ketahanan pangan, energi, dan pendidikan tidak hanya berangkaian dengan kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi modal bagi Indonesia untuk berdiri sejajar dan memainkan peran nan semakin aktif di tingkat global.

Pesan kedua nan dibawa presiden adalah pentingnya memperkuat persatuan negara-negara Global South. Teddy menjelaskan, kepala negara mengangkat pepatah Indonesia sebagai pengingat bahwa kebersamaan merupakan kekuatan dalam menghadapi beragam tantangan dunia.

"Mengutip pepatah 'Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh', Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South sekarang berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri," ungkapnya.

Teddy menjelaskan dari pepatah itu membikin semangat konvensi Asia-Afrika tersebut kembali mendapatkan relevansinya ketika negara-negara berkembang mempunyai posisi nan semakin krusial dalam perekonomian maupun geopolitik dunia.

Pesan ketiga Presiden Prabowo menyoroti besarnya kekuatan BRICS nan mewakili separuh populasi dunia. Menurut Presiden, potensi tersebut kudu diterjemahkan menjadi kerjasama konkret nan bisa memberikan faedah langsung, khususnya dalam membuka kesempatan pembangunan nan semakin luas bagi negara-negara berkembang.

"BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini kudu diubah menjadi kerja sama nan nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka kesempatan pembangunan nan lebih besar bagi negara-negara berkembang," tutur Teddy.

Lebih lanjut, menurut Teddy, presiden turut mendorong terciptanya tata kelola dunia nan lebih setara dan inklusif. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kudu tetap berada di pusat sistem multilateral dunia, tetapi pada saat nan sama perlu terus diperkuat agar bisa menjawab perubahan dan tantangan global.

"PBB kudu tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan bisa menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia," jelasnya.

"Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus bergerak aktif mewujudkan tatanan bumi nan lebih adil, setara, dan tenteram bagi seluruh bangsa," kata Teddy.

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News