Sesar Lembang Simpan Potensi Gempa Besar, Bandung Raya Terancam

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Keberadaan Sesar Lembang menjadi perhatian serius bagi masyarakat Jawa Barat, terutama nan tinggal di Bandung dan sekitarnya. Patahan aktif ini membentang nyaris 29 kilometer dari Padalarang hingga Cimenyan, dengan posisi nan sangat dekat dari pusat Kota Bandung, tepat di area kaki Gunung Tangkuban Parahu.

Sesar ini bukan sekadar kejadian pengetahuan bumi nan terlihat di peta, melainkan sistem aktif di dalam kerak bumi nan tetap terus bergerak. Aktivitas tersebut menjadikannya salah satu sumber potensi gempa nan perlu diwaspadai di wilayah Bandung Raya.

Peneliti pengetahuan bumi gempa dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa Sesar Lembang merupakan jalur patahan besar nan menjadi tempat terjadinya pergeseran batuan di dalam bumi.

Pergerakan sesar ini didominasi oleh geseran mendatar ke kiri alias left-lateral, di mana blok batuan di sisi utara dan selatan bergerak saling berlawanan arah. Meski berjalan lambat, pergerakan ini dapat memicu pelepasan daya secara tiba-tiba nan berujung pada gempa bumi.

"Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta nan telah bergeser sejauh 120 meter, apalagi di beberapa letak mencapai 460 meter," ungkap Mudrik dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, ada juga pergeseran naik-turun permukaan tanah. Di bagian barat, mulai dari kilometer 0 sampai kilometer 6, permukaannya tetap datar. Lalu, muncul perbedaan tinggi hingga sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur.

"Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang nyaris seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, ialah sekitar 80 sampai 100%. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20%," ungkapnya.

Bukti pergeseran sungai dan perubahan tinggi ini, jelas Mudrik, adalah proses sedikit demi sedikit nan berjalan ratusan ribu tahun hingga sekarang. Proses sedikit demi sedikit mobilitas ini adalah mobilitas dari sesar aktif nan menghasilkan gempa bum

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun. Meski terlihat sangat kecil, pergeseran nan terus berjalan ini, jika terakumulasi selama ratusan tahun, dapat memicu terjadinya gempa bumi.

"Hal ini terbukti dari hasil penelitian paleoseismologi melalui penggalian parit di kilometer 11,5, nan menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter. Di mana, bagian selatan sesar terangkat dibanding sisi utara. Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lampau pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7," jelas Mudrik.

"Perkiraan ini juga sejalan dengan panjang Sesar Lembang nan mencapai 29 kilometer, nan memang berpotensi menghasilkan gempa dengan besaran tersebut," tambahnya.

Penelitian paleoseismologi alias kajian jejak gempa purba menunjukkan bahwa Sesar Lembang telah beberapa kali memicu gempa besar di masa lalu. Peristiwa nan paling muda diperkirakan terjadi pada abad ke-15. Sementara, sebelumnya terdapat bukti gempa sekitar 60 tahun sebelum Masehi nan meninggalkan jejak pergeseran setinggi 40 sentimeter.

Lebih jauh ke belakang, ditemukan pula jejak gempa nan jauh lebih tua, ialah sekitar 19 ribu tahun lalu. Dari catatan tersebut, para mahir memperkirakan bahwa gempa besar di Sesar Lembang berulang dalam rentang waktu antara 170 hingga 670 tahun.

"Jika merujuk pada siklus ulang gempa besar nan telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang," sebut Mudrik.

Namun, dia menegaskan krusial untuk dipahami, ini hanya gambaran rentang waktu, bukan kepastian tentang kapan gempa bakal betul-betul terjadi.

Sesar Lembang bukan sekadar garis patahan di peta, melainkan sistem pengetahuan bumi aktif nan keberadaannya dapat terlihat jelas di lapangan. Bukti bahwa pernah terjadi gempa bumi bermagnitudo 6,5-7 juga tampak dari hasil uji parit di kilometer 11,5.

"Pemahaman ilmiah ini sangat krusial agar masyarakat lebih siap dan senantiasa waspada dalam menghadapi potensi bencana," tegas Mudrik.

Penelitian ini adalah skenario ilmiah berbasis pemodelan, dengan skenario terburuk, bukan prediksi waktu kejadiannya. Tujuan utama penelitian adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi, bukan untuk menimbulkan kepanikan.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News