Sering Pakai Earphone, Tapi Pendengaran Normal. Perlukah Skrining?

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Sering Pakai Earphone, Tapi Pendengaran Normal. Perlukah Skrining? earphone.(Magnific)

ALAT earphone kerap digunakan untuk menemani perjalanan, bekerja, belajar, hingga bermain gim. Karena sudah menjadi bagian dari rutinitas, penggunaan dalam waktu lama sering kali tidak terlalu diperhatikan, terutama ketika pendengaran tetap terasa normal. Padahal, paparan bunyi keras nan berulang dapat memengaruhi pendengaran secara perlahan dan kerap tidak disadari pada tahap awal.

Bagaimana bunyi keras meempengaruhi telinga

Gangguan pendengaran akibat bunyi keras dapat bermulai dari perubahan mini nan sering tidak disadari. Paparan bunyi keras dalam waktu lama membikin sel-sel sensorik di telinga mengalami kelelahan, nan dapat memicu gangguan pendengaran sementara alias tinnitus, ialah bunyi denging alias bunyi lain nan tidak berasal dari sumber di luar tubuh.

Kondisi ini kerap muncul setelah mendengarkan musik dengan volume tinggi dan dapat menghilang setelah beberapa waktu. Namun, paparan nan berulang dan berkepanjangan dapat membikin sel-sel sensorik serta struktur telinga lainnya mengalami kerusakan permanen. Akibatnya, gangguan pendengaran alias tinnitus dapat menetap. Gangguan tersebut umumnya berkembang secara bertahap

Perlukah Screening?

Meski keahlian mendengar tetap terasa baik, beberapa perubahan tertentu dapat menjadi tanda bahwa pemeriksaan diperlukan, antara lain:

- Telinga berdenging (tinnitus) nan berjalan terus-menerus.

- Sulit menangkap bunyi bersuara tinggi, seperti kicauan burung, bel pintu, telepon, alias alarm.

- Sulit memahami ucapan, terutama saat berbincang melalui telepon.

- Sulit mengikuti percakapan di tempat ramai, seperti restoran, pasar, alias aktivitas sosial.

Jika salah satu kondisi tersebut mulai dirasakan, pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi secara lebih pasti.

Cara Menjaga Pendengaran Tetap Aman

Menjaga pendengaran tidak hanya dilakukan dengan mengurangi volume, tetapi juga mengatur lama dan kondisi saat mendengarkan. Berikut langkah  untuk mengurangi akibat gangguan pendengaran akibat paparan bunyi keras:

- Batasi volume hingga di bawah 60% dari tingkat maksimal perangkat.

- Gunakan headphone nan pas dan mempunyai fitur peredam bising, terutama saat berada di tempat ramai. Fitur tersebut dapat membantu pengguna tetap mendengar tanpa kudu meningkatkan volume.

- Manfaatkan aplikasi pemantau bunyi nan dapat membatasi volume dan memantau tingkat paparan.

- Pilih perangkat dengan fitur pendengaran aman, seperti pemantauan paparan bunyi dan pembatas volume.

- Kurangi lama mendengarkan bunyi keras dan berikan waktu rehat bagi telinga.

- Jauhkan diri dari sumber bunyi keras, seperti pengeras bunyi alias amplifier. Intensitas bunyi bakal berkurang ketika jarak dari sumber bunyi bertambah.

- Gunakan penyumbat telinga dengan betul ketika berada di lingkungan nan bising untuk mengurangi bunyi nan masuk ke telinga.

- Beristirahat di tempat nan tenang selama 10 menit setiap satu jam setelah berada di lingkungan dengan bunyi keras.

Pada akhirnya, menjaga pendengaran bukan hanya soal seberapa keras bunyi nan didengar, tetapi juga berapa lama dan seberapa sering telinga terpapar. (Sumber: WHO/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia