Puing-puing reruntuhan ruang kelas nan hancur setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke Sekolah Shahid Mahallati di Teheran, Iran, Selasa (3/3/2026).(Xinhua/Shadati)
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangkaian serangan udara nan dilancarkan pasukan Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, melaporkan sedikitnya 18 orang tewas dan 142 lainnya mengalami luka-luka akibat operasi militer tersebut.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada Kamis (3/9/2026), Kermanpour merinci bahwa jumlah korban tersebut terakumulasi dalam periode serangan antara malam 30 Agustus hingga 2 September 2026. Data kependudukan korban menunjukkan akibat kemanusiaan nan signifikan dalam bentrok ini.
Rincian Korban dan Dampak Kemanusiaan
Dari total 142 korban luka, sebanyak 61 orang merupakan wanita dan 44 orang lainnya berumur di bawah 18 tahun. Sementara itu, di antara 18 korban tewas, teridentifikasi dua orang wanita dan satu orang anak-anak.
“Di kembali setiap nomor terdapat seorang manusia dan sebuah keluarga,” ujar Kermanpour dalam pernyataannya nan menyoroti akibat sosial dari eskalasi militer tersebut.
Data Korban Serangan Udara (30 Agustus - 2 September 2026):
| Total Tewas | 18 orang |
| Total Luka-luka | 142 orang |
| Korban Luka Perempuan | 61 orang |
| Korban Luka Anak (<18 tahun) | 44 orang |
Kronologi Eskalasi Militer
Peningkatan aktivitas militer ini dipicu oleh serangan AS terhadap Pulau Larak pada Minggu (30/8), nan mengakhiri jarak permusuhan selama satu bulan di area tersebut. Washington berkilah bahwa pasukan AS menargetkan dua peluncur milik Iran setelah mendeteksi persiapan pengerahan roket nan membawa ranjau laut.
Menanggapi tindakan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan tindakan jawaban dengan menyerang akomodasi militer AS nan tersebar di beberapa negara tetangga, meliputi Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Bahrain, dan Irak.
Komando Pusat AS (CENTCOM), nan bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, kemudian melancarkan serangan udara jawaban terbaru terhadap target-target IRGC di dalam wilayah kedaulatan Iran pada Selasa malam (1/9).
Runtuhnya Nota Kesepahaman
Pertempuran sengit ini menandai kegagalan nota kesepahaman nan ditandatangani pada 18 Juni 2026. Perjanjian tersebut awalnya dirancang untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.
Namun, penerapan kesepahaman tersebut mulai goyah pada Juli 2026 akibat perbedaan pendapat nan tajam antara kedua belah pihak, hingga akhirnya pecah kembali menjadi bentrok terbuka pada akhir Agustus ini.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·