Jakarta, CNBC Indonesia - Ajudan utama Presiden Donald Trump saat ini tengah bekerja keras mendorong agar perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran tidak semakin tereskalasi sebelum pemilihan paruh waktu bulan November demi mencegah kekalahan elektoral Partai Republik. Namun, strategi menahan diri ini sangat terancam menyusul tindakan saling balas gempuran antara AS dan Iran nan kembali meledak baru-baru ini.
Mengutip Reuters, Kamis (3/9/2026), para pejabat Gedung Putih dilaporkan baru bakal mempertimbangkan peningkatan tindakan militer setelah pemungutan bunyi 3 November mendatang. Militer AS berkilah bahwa rentetan gempuran udara terbaru mereka murni sebagai jawaban atas serangan terhadap pasukan Amerika dan lampau lintas laut di area tersebut.
Untuk saat ini, pemerintah AS hanya mau mengandalkan tekanan ekonomi guna memaksa Iran memberikan konsesi dalam negosiasi masa depan, sesuatu nan kandas dicapai melalui tindakan militer selama berbulan-bulan. Salah seorang pejabat Gedung Putih membenarkan konsentrasi pemerintahan saat ini.
"Kami terus menekan Iran, tetapi November adalah prioritas," ucapnya.
Menahan laju perang diyakini bakal mencegah bentrok tidak terkenal ini mendominasi berita, mengingat Partai Republik sedang berkampanye untuk mempertahankan kebanyakan tipis mereka di Senat dan DPR. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Agustus menunjukkan hanya 31% orang Amerika nan menyetujui perang ini, sementara 63% menolaknya lantaran pemilih sangat tidak senang dengan tingginya nilai bensin. Jeda taktis ini juga dinilai dapat memberi ruang bagi militer AS untuk mengisi kembali stok amunisinya nan kian menipis.
Namun, menerapkan strategi menahan diri ini menjadi semakin susah dari hari ke hari. Pada akhir pekan lalu, AS menyerang peluncur roket di Pulau Larak, memicu Iran menembakkan rudal ke Yordania dan Uni Emirat Arab. AS kemudian menyerang lebih banyak sasaran di sekitar Selat Hormuz pada hari Selasa dalam bentrok terbesar sejak Juli nan menewaskan personel militer dan penduduk sipil di Iran.
Iran Makin Berani
Analis memprediksi para pemimpin Iran nan makin berani lantaran minimnya gejolak internal bakal terus menyerang sasaran AS dan Teluk secara berkala. Mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri untuk Timur Tengah di bawah mantan Presiden Joe Biden, Barbara Leaf, menilai Iran mempunyai setiap argumen untuk terus menyerang AS.
"Rezim mempunyai setiap insentif untuk mengganggu 'ketenangan', nan sebenarnya bukan ketenangan, lantaran tujuan definitif pemerintah adalah meningkatkan tekanan ekonomi secara besar-besaran terhadap Iran," paparnya.
Selain itu, sosok Trump sendiri merupakan aspek liar. Peringkat persetujuannya telah ambruk dari 40% menjadi 33% sejak bentrok dimulai. Meski sedang tidak tertarik pada eskalasi, Trump pada hari Selasa menakut-nakuti di platform Truth Social bakal merespons jauh lebih keras jika Iran berani membalas.
"Jika Negara Iran nan kandas membalas serangan nan sangat berdasar ini, mereka bakal diserang lagi pada tingkat nan jauh lebih keras dan lebih tinggi, tetapi itu bukan serangan terbesar dari semuanya, itu sedang menunggu di belakang layar," tegasnya.
Pada hari Rabu, Trump menyatakan kampanye militernya tidak bakal berjalan lama dan membantah keras bahwa pemilu memengaruhi strategi perangnya terhadap Iran.
"Nomor satu, saya tidak mencalonkan diri. Partai saya mencalonkan diri, dan saya bakal membantu partai saya. Tetapi saya pikir partai saya menghargai kebenaran bahwa kita tidak membiarkan Iran mempunyai senjata nuklir," tuturnya.
Memasuki bulan ketujuh perang, Gedung Putih kian dibatasi oleh realitas logistik dan politik. Pejabat senior Gedung Putih mengakui adanya pergeseran rencana.
"Jadwal waktu telah berubah. Kalender mengendalikan Iran," katanya.
Media Washington Post melaporkan bahwa Kepala Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS telah memperingatkan Kepala Pentagon Pete Hegseth bahwa memperpanjang perang tidak dapat dipertahankan dan bakal mengurangi kesiapan militer di tempat lain, di mana militer juga telah menggunakan nyaris seluruh pasokan rudal presisi tertentu. Meski Pentagon bersikeras menyatakan bahwa AS mempunyai semua nan dibutuhkan, ahli bicara Gedung Putih Olivia Wales turut memberikan pembelaan.
"Presiden Trump telah menghancurkan keahlian militer Iran dan melumpuhkan apa nan tersisa dari ekonominya nan jelek dengan blokade laut paling kuat dalam sejarah bumi dan hukuman nan menghancurkan. Presiden bakal terus memajukan kepentingan Amerika di dalam dan luar negeri dan tidak bakal pernah membiarkan Iran mempunyai senjata nuklir," ungkapnya.
Sekutu negara Teluk sebelumnya juga telah mendesak penurunan ketegangan. Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio termasuk di antara pejabat tinggi nan mendukung agar bentrok tetap tenang hingga November. Namun, pengetatan isolasi ekonomi dan ancaman hukuman bagi negara nan berbisnis dengan Iran ini juga mempunyai batasan, mengingat Iran telah memperkuat di bawah hukuman selama puluhan tahun.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa kampanye tekanan justru dapat memicu Iran untuk menyerang secara militer. Terlebih lagi, negara besar seperti China juga menolak berasosiasi dalam upaya mengisolasi Iran ini. Rekan senior di Atlantic Council, Alex Plitsas, meragukan keampuhan kebijakan tersebut.
"Tujuan paket hukuman baru ini adalah untuk menambah tekanan ekonomi di atas tekanan nan disebabkan oleh blokade untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan, setelah pemerintah menentukan bahwa itu adalah pilihan nan lebih baik daripada kembali ke tindakan kinetik. Iran mengkhawatirkannya, tetapi China telah mengindikasikan bahwa mereka tidak bersedia bermain bola, nan mempertanyakan seberapa efektif perihal itu nantinya," pungkasnya.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·