Peredaran uang tunai di India tetap tinggi meski penggunaan pembayaran digital terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi kejadian nan disebut sebagai ‘cash paradox’ alias paradoks duit tunai.
Dikutip dari BBC pada Selasa (15/9), Deputi Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Shirish Chandra Murmu mengatakan jumlah duit nan beredar terus tumbuh dengan laju dua digit meski porsi duit tunai dalam transaksi perseorangan menurun seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital.
"Jumlah duit nan beredar terus tumbuh dengan laju dua digit, meskipun porsi duit tunai dalam transaksi perseorangan menurun seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital. Kombinasi ini membikin permintaan duit tunai di masa depan semakin susah diprediksi, sehingga mempersulit perencanaan kami mengenai kapabilitas produksi dan distribusi," kata Deputi Gubernur RBI Shirish Chandra Murmu.
Saat ini bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), mencatat ada 176 miliar lembar duit kertas nan beredar. RBI mencetak 28 sampai 30 miliar lembar duit baru dari enam pecahan setiap tahun dan menarik sekitar 21 miliar lembar duit nan sudah tidak layak edar.
Di sisi lain, transaksi digital melalui Unified Payments Interface (UPI) memang melonjak mendekati 1 miliar transaksi per hari.
Jumlah duit kertas nan beredar, menurut Murmu, sangat besar. Sebagai perbandingan, sekitar 56 miliar lembar dolar AS dan 30 miliar lembar duit euro beredar pada akhir tahun lalu.
Namun, komparasi tersebut mempunyai catatan. Jumlah lembar duit nan beredar di India sebagian dipengaruhi oleh tingginya proporsi pecahan kecil. Artinya, dibutuhkan lebih banyak lembar duit untuk menangani nilai transaksi nan sama.
Untuk menjawab cash paradox, Murmu juga menjelaskan terlebih dulu apa nan dimaksud dengan duit beredar. Menurutnya, duit nan beredar merupakan total nilai duit kertas dan koin bentuk nan dimiliki masyarakat dan pelaku usaha, baik nan sedang digunakan maupun sekadar disimpan.
Adapun di India duit tunai sampai ke masyarakat melalui empat jalur utama ialah 19 instansi regional RBI, instansi bagian bank, lebih dari 250.000 ATM dan mesin penyalur duit tunai, serta jutaan business correspondent berupa pemasok lokal nan menyediakan jasa perbankan dasar di wilayah pedesaan dan kota-kota kecil.
Uang Tunai Masih Dianggap Sebagai Instrumen Kedaulatan
Saat ini RBI tetap beberapa mengoperasikan pabrik kertasnya sendiri ialah empat percetakan duit dan pabrik tinta. Hal itu menjadi sebuah rantai pasok komplit nan dibangun untuk menjaga kemandirian sembari mendorong penggunaan jaringan pembayaran instan terbesar di dunia.
Di samping itu, India juga sedang memulai menguji coba duit kertas berbahan polimer pecahan 10 dan 20 rupee nan pertama kali diusulkan satu dasawarsa lalu. Adapun duit kertas polimer memang diklaim lebih awet sehingga bisa mengurangi biaya dan gelombang penggantian duit nan sudah rusak.
Ekonom nan menjadi pemerhati finansial India, Anirudh Tagat, mengatakan kondisi cash paradox memang menempatkan RBI dalam pilihan nan sulit. Pilihan itu adalah seberapa besar investasi nan kudu dialokasikan untuk mengelola duit tunai dan seberapa besar untuk mendorong pembayaran digital.
Meski demikian, Tagat menilai RBI tetap menjaga kesiapan duit tunai sebagai suatu perihal nan dapat diandalkan sebagai bagian dari kedaulatan moneter.
"RBI mempunyai argumen kuat untuk mempertahankan duit tunai meskipun tersedia pengganti pembayaran digital baru," kata Tagat.
Jika nantinya transaksi digital melalui UPI mulai mengenakan biaya transaksi untuk pembayaran berbobot kecil, porsi penggunaan duit tunai menurutnya juga bisa kembali meningkat untuk kegunaan pembayaran dan bukan hanya sebagai perangkat menyimpan uang.
Lebih lanjut, Tagat mengatakan kejadian pertumbuhan duit tunai nan melangkah beriringan dengan pembayaran digital sebenarnya juga terjadi di sejumlah negara lain. Hal itu terutama sejak krisis finansial dunia 2007 sampai 2008.
"Cash paradox telah diteliti di beragam negara dan India menjadi studi kasus nan unik lantaran skala pembayaran tunai dan non-tunainya sama-sama besar," ujar Tagat.
Menurut Tagat, duit tunai tetap mempunyai tiga kegunaan ialah sebagai perangkat pembayaran, penyimpan nilai, dan perlindungan terhadap kondisi darurat. Dalam kerangka pemikiran tersebut, pembayaran digital baru menggantikan salah satu kegunaan tersebut ialah sebagai perangkat pembayaran.
Selain Tagat, David Humphrey dari Florida State University nan berbareng Tanai Khiaonarong meneliti penggunaan duit tunai di 14 negara mengatakan mengambil pembayaran digital hanyalah salah satu dari banyaknya aspek nan memengaruhi jumlah duit tunai nan disimpan masyarakat.
22 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·