Ekspor Saudi Terganggu, Harga Minyak Dunia Melesat ke Level Tertinggi Sejak Mei

Sedang Trending 49 menit yang lalu
Kilang minyak Aramco di Arab Saudi. Foto: Reuters/Ahmed Jadallah/File Photo/File Photo

Harga minyak bumi ditutup naik sekitar USD 3 pada Selasa (15/9), menyusul dihentikannya akomodasi pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Yanbu, Arab Saudi, imbas serangan drone.

Dikutip dari Reuters, nilai minyak Brent ditutup naik USD 3,07 alias 2,9 persen menjadi USD 108,75 per barel, sementara WTI melonjak USD 4,44 alias 4,38 persen menjadi USD 105,83 per barel. Kenaikan nilai minyak ini menyentuh level tertinggi sejak 19 Mei.

Tak hanya di Yanbu, akomodasi di Riyadh turut membatalkan sejumlah pengiriman kargo kepada pengguna di Eropa. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak Arab Saudi bakal semakin meluas, sehingga mendorong penanammodal beranjak ke minyak mentah AS sebagai pengganti pasokan.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai pembatalan sejumlah pengiriman minyak mentah Saudi ke Eropa memperkuat ekspektasi pasar bahwa kilang-kilang Eropa bakal beranjak menggunakan pasokan dari AS. Kondisi inilah nan ikut mendorong penguatan nilai WTI.

Ladang minyak Aramco di Gurun Rub' al Khali, Shaybah, Arab Saudi, 12 Januari 2024. Foto: REUTERS/Hamad I Mohammed

Pelabuhan Yanbu telah menjadi sangat vital bagi pasokan minyak dunia sejak perang AS-Israel di Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz.

Situasi ini memaksa Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak mentahnya ke arah barat melalui jaringan pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer, nan membawa minyak dari wilayah timur menuju Yanbu di pesisir barat. Dengan jalur ini, ekspor tetap bisa dilakukan melalui Laut Merah tanpa perlu melewati Selat Hormuz nan tengah terganggu.

Di luar bentrok Iran, tekanan terhadap pasokan minyak dunia juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) mengungkapkan operasi di tiga ladang minyak terpaksa dihentikan setelah personil Petroleum Facilities Guard melancarkan tindakan protes dan menutup katup pada pipa ekspor minyak mentah Hamada-Zawiya.

Kelompok tersebut apalagi memperingatkan penghentian operasi berpotensi diperluas andaikan tuntutan mereka tidak segera dipenuhi. NOC menyebut pihaknya dapat menetapkan kondisi force majeure jika katup itu tetap ditutup alias jika ladang minyak lain ikut terdampak dan terpaksa menghentikan produksi.

Sementara itu, serangan nan terus berjalan terhadap prasarana daya di Rusia dan Ukraina turut memberikan tekanan tambahan pada pasar. Kondisi ini membikin perjanjian berjangka diesel AS serta diesel crack spread mencatatkan penutupan pada level tertinggi sepanjang masa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan