Sepatu Sepasang sampai Tua

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi sepatu nan sudah lusuh dan tua. Foto: Shutter Stock

Di rak sepatu paling lusuh di rumah paling sederhana sekalipun, tersimpan sebuah makulat nan belum pernah bisa dirumuskan oleh Aristoteles maupun Kant dengan lebih tepat. Ia tidak ditulis dalam bahasa Latin. Ia tidak butuh kelas hermeneutika untuk dipahami. Ia hanya berdiri diam, berpasangan, menunggu pagi hari berikutnya. Sepasang sepatu tua nan sudah lupa berapa ribu langkah telah ditempuhnya bersama.

Kita selalu mencari metafora untuk cinta di tempat nan salah.

Kita pinjam gambaran dari langit dan lautan. Dari api nan berkobar dan bintang nan tidak pernah padam. Para penyair menulis sampai tangan mereka kram, para filsuf berdebat sampai lilin mereka habis, dan setelah semua itu, cinta tetap tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mungkin lantaran kita terlalu sering mendongak ke atas. Mungkin jawaban itu justru ada di bawah, di level paling rendah, di tempat nan paling dekat dengan tanah dan debu dan perjalanan.

Di kaki kita.

Perhatikan dengan seksama sepasang sepatu. Kanan dan kiri dibentuk dari cetakan nan berlainan. Lekukan sol kanannya mengikuti tekanan ibu jari nan sedikit lebih berat. Sol kirinya mencatat jejak kebiasaan seseorang nan bertumpu berbeda ketika lelah. Keduanya tidak bisa saling menggantikan. Jika dipaksakan, nan terjadi bukan harmoni melainkan luka. Lecet di tumit. Nyeri di telapak. Tubuh tahu ketika sesuatu tidak pada tempatnya, dan dia tidak diam.

Tidak ada cinta nan tumbuh dari upaya menjadi orang lain demi menyenangkan pasangan. nan tumbuh dari sana hanyalah kapalan dan diam.

Namun justru di sini paradoks nan paling bagus itu bersembunyi. Mereka tidak pernah sama persis. Kaki kanan dan kaki kiri manusia sendiri tidak identik, satu sedikit lebih besar, satu sedikit lebih melengkung, dan kreator sepatu nan baik tahu bahwa keserasian bukan soal kesamaan bentuk. Keserasian adalah soal gimana dua perihal nan berbeda bisa membikin satu perjalanan terasa utuh. Bukan meski berbeda. Tapi lantaran berbeda.

Mereka juga tidak pernah melangkah bersisian. Kaki kanan maju, kaki kiri menahan. Kaki kiri maju, kaki kanan menunggu. Tidak pernah satu irama, tidak pernah berbarengan menyentuh tanah. Jika keduanya melangkah serentak, manusia bakal jatuh. Hubungan nan sehat pun begitu. Bukan tentang siapa nan lebih sigap alias lebih jauh. Tapi tentang gimana giliran memberi dan menerima itu dijaga tanpa perlu dikontrakkan, tanpa perlu dinegosiasikan setiap pagi, lantaran tubuh sudah tahu, lantaran hati sudah tahu, bahwa nan satu bakal selalu ada ketika nan lain sedang melangkah lebih jauh ke depan.

Dan sepatu tidak pernah berganti posisi. Sepatu kiri tidak bakal tiba-tiba beranjak menjadi sepatu kanan hanya lantaran hari ini jalanannya lebih berbatu. Ia tetap di tempatnya, dengan identitasnya, dengan caranya sendiri membaca permukaan tanah. Kesetiaan bukan soal menjadi sama dengan pasangan. Kesetiaan adalah soal memperkuat menjadi diri sendiri sembari tetap memilih untuk melangkah ke arah nan sama.

Generasi kita keliru memahami ini. Kita diajarkan bahwa cinta nan dalam adalah cinta nan melebur, nan menyatu tanpa sisa, nan lupa di mana saya berhujung dan Anda dimulai. Namun peleburan tanpa pemisah itu bukan kedekatan. Itu kehilangan diri. Sepatu nan mencoba menjadi sol dari pasangannya hanya bakal membikin keduanya tidak bisa dipakai oleh siapa pun. Cinta nan matang justru adalah cinta nan cukup percaya diri untuk berbeda, cukup lembut untuk tetap serasi, dan cukup bijak untuk tidak memaksa salah satu berubah corak demi menyesuaikan nan lain.

Al-Quran berbincang tentang ini jauh sebelum ilmu jiwa modern punya nama untuknya.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 187, Allah memilih satu kata untuk menggambarkan suami dan istri, dan kata itu bukan "mitra" alias "teman" alias "kawan seperjuangan." Kata itu adalah libas. Pakaian. "Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna." Mereka adalah busana bagimu, dan Anda adalah busana bagi mereka. Para mufasir klasik menjelaskan bahwa busana itu menutup kejelekan nan tidak mau dilihat orang lain, menghangatkan di malam nan dingin, memperindah penampilan di hadapan dunia, dan menempel paling dekat dengan tubuh dari semua barang nan kita miliki. Tidak ada nan lebih setia dari pakaian. Ia tidak pergi ketika Anda sakit. Ia tidak memilih tubuh nan lebih muda. Ia hanya ada, melekat, diam-diam melindungi.

Sepatu adalah bagian dari busana itu. Dan dia menggenapi metafora Qurani tersebut dengan langkah nan lebih rendah hati lagi, lantaran dia tidak menempel di bagian tubuh nan terlihat orang, tapi di kaki, di tempat paling bawah, paling dekat dengan tanah dan kerikil dan lumpur. Tidak ada nan memperhatikan sepatu ketika segala sesuatunya melangkah baik. Orang baru sadar ada sepatu ketika kakinya kesakitan, ketika solnya bocor, ketika pasangannya hilang.

Surah Ar-Rum ayat 21 menyebut hubungan suami istri sebagai salah satu tanda kebesaran Allah nan paling dekat dengan keseharian manusia. "Wa ja'ala baynakum mawaddatan wa rahmah." Ia menanamkan di antara kalian mawaddah dan rahmah. Dua kata nan sering diterjemahkan sekaligus sebagai "cinta dan kasih sayang," padahal keduanya berbeda kedalamannya. Mawaddah adalah cinta nan hangat dan bersemangat, nan datang ketika segalanya baik, ketika wajah tetap segar dan langkah tetap ringan.

Rahmah adalah sesuatu nan lebih tua dan lebih dalam dari itu. Ia adalah kasih sayang nan justru semakin kuat ketika segalanya sulit, ketika wajah sudah berkerut dan langkah sudah berat. Sepatu baru punya mawaddah. Sepatu lama punya rahmah. Dan kita semua tahu sepatu mana nan lebih susah ditinggalkan ketika dia akhirnya rusak.

Rumi menulis tentang seruling buluh nan menangis sejak dipisahkan dari rumpunnya. Bukan lantaran dia lemah. Tapi lantaran memang seperti itulah fitrah sesuatu nan diciptakan untuk berpasangan. Ketika terpisah, nadanya menjadi ratapan. Ketika bersatu, nadanya menjadi musik nan membikin orang berakhir melangkah hanya untuk mendengarkan. Sepatu pun demikian. Sendirian, dia hanya sepotong kulit dan karet nan tidak tahu kudu pergi ke mana. Bersama, dia adalah perjalanan.

Dunia modern menjual kita mimpi tentang pasangan nan sempurna. Wajahnya kudu begini. Karirnya kudu begitu. Hobinya kudu cocok, visinya kudu selaras, langkah tidurnya tidak boleh mengganggu. Dan ketika realita datang dengan segala ketidaksempurnaannya, dengan kebiasaan nan menjengkelkan dan langkah berpikir nan kadang berlawanan dan langkah nan tidak selalu seirama, kita mulai bertanya-tanya apakah kita telah membikin pilihan nan salah.

Sepatu tidak pernah bertanya seperti itu.

Sepatu kiri tidak pernah melirik sepatu display di etalase toko dan membandingkan dirinya. Sepatu tidak menghitung apakah dia sudah memberi lebih banyak dari nan dia terima. Sepatu tidak menyimpan catatan tentang berapa kali dia terkena lumpur lantaran keputusan kaki kanan nan tidak dia setujui. Sepatu tahu bahwa keserasian bukan ditemukan di toko nan tepat. Keserasian dibentuk, di jalanan nan panjang, di bawah hujan nan tidak direncanakan, di atas aspal nan lebih panas dari perkiraan.

Kenyamanan sejati bukan tentang menemukan nan sempurna. Tapi tentang berbareng cukup lama hingga nan tidak sempurna itu terasa seperti rumah.

Dan rumah di sini bukan bangunan. Rumah adalah rasa itu. Rasa bahwa ketika Anda melangkah, ada nan siap menyusul tanpa diminta. Ketika Anda berhenti, ada nan menunggu tanpa mengeluh. Ketika Anda capek dan nyaris menyerah di tengah jalan, ada nan menanggung separuh beban perjalanan itu tanpa perlu tahu bahwa dia sedang melakukannya.

Itulah sakinah nan disebut Al-Quran. Bukan kegembiraan nan meledak-ledak. Bukan kebahagiaan nan perlu difoto agar terasa nyata. Tapi ketenangan nan mengendap perlahan, seperti debu nan akhirnya berakhir beterbangan dan memilih satu tempat untuk menetap selamanya.

Allah menciptakan kita berpasangan. Itu bukan kebetulan kosmik dan bukan sekadar kebutuhan biologis. Itu rancangan. Dan rancangan itu tidak menuntut kesempurnaan dari masing-masing pihak. Ia hanya menuntut satu perihal nan jauh lebih susah dari sempurna ialah kesetiaan pada arah nan sama, hari demi hari, apalagi ketika arahnya menanjak dan solnya mulai menipis dan tidak ada lagi tepuk tangan dari orang-orang di pinggir jalan.

Bayangkan sepatu nan kehilangan pasangannya. Ia tetap utuh secara fisik. Kulitnya tetap baik. Solnya tetap tebal. Tapi tidak ada nan bisa dilakukan dengannya. Tidak ada tujuan nan bisa dicapai. Tidak ada perjalanan nan bisa dimulai. Ia hanya duduk di rak, sendirian, menjadi pengingat bahwa ada hal-hal di bumi ini nan memang tidak dirancang untuk berfaedah tanpa pasangannya.

Kelengkapan itu tidak bisa diganti oleh sepatu baru nan datang kemudian, meski ukurannya sama dan warnanya serupa dan mereknya apalagi lebih mahal. Karena ada sesuatu nan hanya bisa dibentuk oleh waktu nan dilalui bersama. Oleh jalanan nan sama-sama pernah diinjak. Oleh hujan nan sama-sama pernah ditahan. Oleh ribuan pagi nan tidak satu pun terasa spesial pada saat itu, tapi ketika dijumlahkan menjadi sebuah hidup nan tidak bisa ditukar dengan apa pun.

Itulah nan para nenek kita sebut pasangan hidup. Bukan nan paling sempurna sendirian. Bukan nan paling bercahaya dalam kesendirian. Tapi nan berbareng kita telah membentuk narasi nan tidak bisa ditulis ulang oleh orang lain.

Mungkin itulah ukuran cinta nan paling jujur. Bukan berapa besar kembang nan pernah Anda beli. Bukan berapa jauh Anda pergi untuk membuktikan sesuatu. Bukan berapa dramatis kata-katamu di momen nan tepat. Tapi ini: ketika Anda sudah lusuh, ketika solmu sudah menipis, ketika tidak ada lagi nan baru untuk dibuktikan dan tidak ada lagi penonton nan perlu terkesan, apakah Anda tetap memilih untuk berada di rak nan sama, menunggu pagi nan sama, melangkah ke arah nan sama?

Sepasang sampai tua.

Bukan lantaran tidak ada pilihan lain.

Bukan lantaran tidak ada nan lebih baru dan lebih mengkilap di luar sana.

Tapi lantaran Anda sudah tahu corak kakimu sendiri, dan Anda tahu bahwa tidak semua nan mengkilap bisa menanggung berat perjalanan nan sesungguhnya.

Dan lantaran memang tidak ada nan lebih betul dari ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan