MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.(Dok. Golkar)
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi rencana pembukaan Selat Hormuz menyusul kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Bahlil mengatakan pihaknya tetap menghargai perjanjian jangka panjang impor minyak mentah (crude) dari negara alternatif.
Sebelumnya saat terjadi penutupan Selat Hormuz, pemerintah Indonesia mengalihkan sebagian impor minyak mentah nan sebelumnya melewati Selat Hormuz ke Amerika Serikat dan negara lain.
"Kalau persoalan impor crude, sekalipun Selat Hormuz sudah dibuka tetap kita sudah melakukan perjanjian jangka panjang dengan negara-negara lain. Tapi jika harganya lebih kompetitif maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita mencoba membuka akses pasar di Middle East," ujar Bahlil usia rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6).
Sementara iti, salah satu poin paling krusial dalam rancangan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) ialah mengenai pembukaan Selat Hormuz. Jalur perdagangan daya paling vital di bumi tersebut dijadwalkan bakal dibuka dalam waktu 30 hari setelah nota kesepahaman ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Kesepakatan final antara Iran dan AS dilaporkan bakal disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Laporan instansi buletin Iran, Mehr, nan mengutip rancangan nota kesepahaman (MoU) antara Teheran dan Washington, Senin (15/6).
Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang telah rampung. Selamat untuk semua!” kata Presiden Donald Trump dalam sebuah postingan di Truth Social.
"Dengan ini saya secara penuh mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa hambatan, dan, berbarengan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dari seluruh dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!," ucap Trump.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memastikan bahwa seluruh poin dalam nota kesepahaman antara AS dan Iran tersebut telah rampung. Jika tidak ada perubahan jadwal, arsip berhistoris tersebut bakal ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni mendatang. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·