Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) bakal mulai melakukan pengosongan Hotel Sultan besok, Sabtu (20/6/2026). Untuk itu, barang-barang bergerak nan ada di seluruh gedung eks Hotel Sultan sudah diserahkan dan bakal disimpan oleh pemohon eksekusi, ialah Kementerian Sekretaris Negara dan PPKGBK.
Pemerintah juga memastikan nasib para tenaga kerja terdampak pengosongan Hotel Sultan, Jakarta tidak bakal dibiarkan setelah aset nan selama ini dikelola PT Indobuildco resmi diambil alih negara. Di tengah proses eksekusi nan sempat diwarnai kericuhan, perhatian pemerintah sekarang mulai diarahkan pada keberlanjutan nasib para pekerja.
Salah satu pekerja housekeeping harian Hotel Sultan, Joko mengaku was-was dengan nasibnya pada masa mendatang. Pasalnya, hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai penghasilan maupun status pekerjaannya.
"Harapannya ya mungkin nggak di sini lagi (kerja di Hotel Sultan, cari lagi (pekerjaan lain)," ungkap Joko kepada CNBC Indonesia di sekitar GBK, Jumat (19/6/2026).
Hari ini rencananya Joko mau mengambil seragam di Hotel Sultan, dia tidak diperbolehkan masuk ke sana oleh abdi negara dan pengelola. Alhasil, dia pasrah dan mencari jalan keluar untuk mengamankan nasibnya. Salah satunya dengan mencari kejelasan soal status pekerjaannya kepada vendor maupun manajemen terkait.
Joko menyatakan, sebagai seorang laki-laki pencari nafkah dirinya tidak bakal menyerah untuk mencari pekerjaan nan lebih layak. Mengingat, harga-harga kebutuhan pokok juga sudah semakin meningkat.
Salah satu pekerja eks Hotel Sultan lainnya juga mengaku cemas bakal nasibnya. Sebab, belum ada kepastian dari vendor mengenai status pekerjaannya maupun penghasilan nan kudu dia terima pada bulan Juni 2026.
Penampakan Hotel Sultan H+1 usai diambil alih negara, Jumat (19/6/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: Penampakan Hotel Sultan H+1 usai diambil alih negara, Jumat (19/6/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)
"Kemarin tetap kerja, tapi sampai sekarang belum ada kepastian dari vendor. Sebenarnya hanya mau ngambil seragam. Cuma agak susah untuk masuk," terang dia nan enggan disebut namanya.
Dia nan setiap hari bertanggung jawab alias pengelolaan air berharap, setelah Hotel Sultan diambil alih oleh negara, ada titik terang bagi nasibnya mendatang. Sebab, dia memerlukan mata pencaharian nan pasti untuk memenuhi kebutuhannya.
"Saya berangkat dari Bogor pagi, sampai siang sekarang belum ada kejelasan. Habis ongkos juga Rp 30 ribu PP, belum makan," katanya.
Di sisi lain, salah satu penyuplai es krim di kantin tenaga kerja mengaku belum mendapatkan info soal pengosongan Hotel Sultan dari vendor. Ia kesulitan mendapatkan akses membawa freezer miliknya, lantaran peralatan tersebut bakal dipakai untuk jualannya mendatang.
"Saya tahu soal pengambilalihan Hotel Sultan dari TikTok, saya telepon vendor gak diangkat, akhirnya saya datang ke sini pagi-pagi tapi belum diperbolehkan masuk," jelas dia.
Meski demikian, dia menyatakan proses pembayaran dari vendor kepada penyuplai es krim tergolong lancar. Akan tetapi, saat ini dirinya tetap menunggu koordinasi antara vendor dan pengelola gedung untuk bisa membawa freezer es krim miliknya.
Bukan hanya pengelola es krim, Grup Musik Los Intanos juga mengaku tidak memperoleh info soal pengosongan Hotel Sultan. Padahal, alat-alat musik milik grup tersebut tetap ada di Lobby Lounge Hotel Sultan hingga Jumat hari ini.
Salah satu personil Los Intanos, Bimo mengaku telah bermain musik di sana sejak tahun 2001 saat nama hotel itu tetap Hilton. Lagu-lagu nan biasa dibawakan oleh grup musik ini biasanya lagu wilayah alias lagu lama.
"Ya kami juga kaget sih sebenarnya. Ketika kemarin kami dengar ada eksekusi. Waduh, gimana nih gitar-gitar kita nih? Akhirnya kemarin kami kemari. Kemarin kami kemari, udah ngomong juga sama pengelola GBK. Kemarin nggak bisa keluar peralatan dan hari ini saya kembali lagi sama temen-temen saya. Alhamdulillah bisa kita bawa barang-barang," tandas dia.
(wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·