Ribuan Kampus Berdiri, tapi Mengapa Lulusan Pendidikan Tinggi Masih Rendah?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi sejumlah mahasiswa nan telah wisuda atas kelulusannya. Foto: Pang Yuhao/Unsplash

Indonesia merupakan salah satu negara pencetak universitas terbanyak di dunia, nan berada pada urutan kedua setelah India. Dilansir dari Badan Pusat Statistik tahun 2025, total Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) nan berada dalam naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sekaligus Kementerian Agama (Kemenag) sebanyak 3.841 perguruan tinggi.

Ironisnya, realitas pendidikan di Indonesia tetap belum sepenuhnya melangkah mulus. Angka lulusan pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 11% menurut info dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2025 secara demografis. Temuan ini sangat jauh berbeda saat dibandingkan dengan jumlah kampus di Indonesia nan berkisar lebih dari 3.000, lebih banyak dari negara-negara maju di Eropa.

Lantas, apa aspek nan menyebabkan adanya perbedaan nan signifikan antara jumlah pendidikan tinggi nan ada di Indonesia dengan persentase lulusan pendidikan tinggi?

Mengulik Akar Permasalahan nan Melatarbelakangi Ketimpangan Akses Pendidikan Tinggi

Tidak semua orang terlahir dari family ber-privilege. Di luar sana, tetap banyak orang nan banting tulang dari hari gelap hingga gelap lagi.

Banyaknya masyarakat Indonesia memadati kebutuhan pasar dan kesiapan lapangan pekerjaan nan ada, terutama di sektor informal. Data dari BPS pada November 2025 juga menunjukkan jumlah pekerja di sektor informal tetap mendominasi sebanyak 85,35%. Meskipun begitu, pekerjaan di sektor informal mempunyai ketidakpastian pendapatan dan sangat berjuntai pada kondisi pasar.

Apalagi, kondisi pemerintahan Indonesia condong Jawa-sentris. Roda perekonomian dan pengedaran pendapatan jelas menjadi tidak seimbang. Perbedaan inilah nan melahirkan bibit kesenjangan ekonomi dan ketimpangan akses pendidikan.

Biaya kuliah tidak lagi hanya sekadar UKT (Uang Kuliah Tunggal) ataupun IPI (Iuran Pengembangan Institusi), tetapi juga biaya buku, praktikum, dan lainnya. Ditambah lagi, banyak kasus di mana mahasiswa baru mendapatkan UKT nan mentok kanan. Padahal, penghasilan orang tua mereka berbeda jauh dengan UKT nan diperoleh. Tidak sedikit nan "melepas" kampus impiannya lantaran terhalang oleh aspek ekonomi.

Dilansir dari BBC News Indonesia (2025), seorang mahasiswa baru Universitas Negeri Jakarta berjulukan Qia memberikan keluhan mengenai dirinya nan memperoleh UKT sebesar 6,4 juta. Ia menjelaskan bahwa pendapatan sang ayah sebesar 2,5 juta dan pendapatan sang ibu sebesar 1 juta. Ketidakadilan ini membikin Qia mengurungkan niatnya untuk berkuliah.

In This Economy, Lebih Baik Kuliah Atau Tidak?

Pertanyaan ini mungkin cukup kontroversial, tetapi jawabannya sangat berjuntai pada preferensi dan kebutuhan setiap orang.

Pertama, Anda perlu menetapkan tujuan karier. Jika mau berkarier di bumi ahli nan memerlukan pengetahuan dan keahlian matang (dokter, guru, dan lain-lain), maka kuliah menjadi opsi nan diwajibkan.

Kedua, Anda perlu mengetahui dan memahami kondisi finansial keluarga. Jika biaya kuliah membebani ekonomi family dan berisiko menimbulkan utang nan besar di masa depan, maka bekerja, mengambil kursus bersertifikasi, alias gapyear bisa menjadi opsi nan lebih aman.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan