Selat Hormuz Kini Jadi 'Gerbang Berbayar', Perdagangan Global Terancam

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran dalam enam pekan terakhir mengguncang fondasi perdagangan global. Jalur laut nan selama ini bebas dilintasi sekarang mulai dikendalikan, terutama di Selat Hormuz, salah satu rute daya paling vital di dunia.

Meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata, kondisi di lapangan belum pulih. Iran disebut mulai menentukan kapal mana nan boleh melintas, apalagi mengenakan biaya untuk akses aman.

Melansir The Wall Street Journal, lebih dari 700 kapal dengan muatan berbobot puluhan miliar dolar tetap tertahan di sekitar wilayah tersebut. Dalam komunikasi radio, otoritas Iran memperingatkan kapal nan melintas tanpa izin bisa dihancurkan.

Situasi ini berakibat besar. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan pengedaran langsung memicu tekanan pada nilai energi, logistik, dan inflasi global.

Analis dan ahli ekonomi memperingatkan, jika Iran terus mengenakan biaya jalur aman, dampaknya bakal terakumulasi ke nilai bahan bakar global. Capital Economics menilai langkah ini berpotensi memberi Iran kendali de facto atas pengedaran daya dunia, sekaligus meningkatkan akibat geopolitik bagi ekonomi global.

Di sisi lain, pelayaran dunia menghadapi tekanan nyata. Sekitar 20.000 pelaut sekarang terjebak di laut, dengan sebagian kapal mulai kehabisan pasokan makanan. Beberapa awak apalagi mencoba mengakali patokan dengan mengganti bendera kapal alias identitas, praktik nan melanggar norma internasional.

Kapten asal Suriah, Ali Kanafani, menggambarkan situasi saat ini penuh ketidakpastian. Ia memandang puluhan kapal mengantre tanpa kejelasan izin berlayar.

"Semua orang bingung," kata Ali, dikutip dari The Wall Street Journal, Sabtu (11/4/2026).

Kisah serupa datang dari kapal dengan awak Indonesia. Kapten Zefanus Waruwu menjaga moral kru dengan aktivitas bentuk di atas kapal setelah lebih dari 40 hari tertahan.

Meski gencatan senjata telah diumumkan, Iran baru mengizinkan segelintir kapal melintas, apalagi hanya dua kapal dalam satu hari. Akses disebut berjuntai pada hubungan geopolitik dan kesediaan bayar biaya nan bisa mencapai US$2 juta.

Praktik ini memicu kekhawatiran bakal munculnya preseden baru dalam perdagangan global. Sejumlah analis menilai model "laut berbayar" berpotensi ditiru negara lain, termasuk China di Laut China Selatan, jalur nan dilalui lebih dari seperempat perdagangan dunia.

Dampaknya juga mulai terasa pada sistem finansial global. Iran dilaporkan menerima pembayaran dalam yuan China alias mata duit kripto, nan berpotensi mengurangi kekuasaan dolar AS dalam perdagangan energi.

Krisis di Hormuz menjadi gangguan besar ketiga terhadap pelayaran dunia dalam empat tahun terakhir, setelah perang Rusia-Ukraina dan bentrok di Laut Merah. Namun, kali ini skalanya dinilai lebih sistemik lantaran menyentuh jalur daya utama dunia.

Menurut Sekretaris Jenderal European Shipowners (ECSA), Sotiris Raptis, stabilitas perdagangan dunia berjuntai pada keamanan pelaut.

"Pelayaran nan lancar dan perdagangan nan kondusif hanya mungkin terjadi jika para pelaut dapat menjalankan tugas mereka dengan aman," ujar Raptis.

Analis maritim Salvatore Mercogliano menilai perubahan nan terjadi berkarakter struktural. Sistem perdagangan dunia saat ini sangat berjuntai pada kecepatan dan volume tinggi, sehingga gangguan di satu titik dapat berakibat luas seperti pengaruh domino.

"Konsep jalur laut bebas mulai hilang. Tidak bakal ada lagi normal seperti sebelumnya," kata Mercogliano.

Di tengah ketidakpastian ini, para pelaku industri menilai bumi sekarang memasuki era baru, di mana akses laut tidak lagi sepenuhnya bebas, melainkan semakin dipengaruhi kekuatan geopolitik.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News