Liputan6.com, Jakarta - Perasaan ini kombinasi campur saat berada di tengah mereka, para pelajar spesial dari Sekolah Rakyat. Dalam hati bergumam, inikah bentuk nyata Pasal 31 UUD 1945, ketika negara datang memberi pendidikan bagi semua, termasuk mereka nan tak terlihat alias the invisible people.
Memastikan bahwa program dari Presiden Prabowo Subianto itu melangkah dengan baik, Liputan6.com terjun ke lapangan dan mendatangi salah satu lokasinya di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06 Jakarta Timur.
Sabtu 20 Juni 2026, di depan gerbang masuk, papan besar dengan foto Presiden Prabowo menyambut dengan quote 'Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan perspektif negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang bakal berbicara pelan: Di masa itu, pernah ada seorang Presiden nan menanam angan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto'.
Kutipan itu disampaikan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf namalain Gus Ipul di Banjarbaru 12 Januari 2026. Meski singkat, namun sarat makna mendalam nan menggambarkan gimana asa itu tengah dipupuk untuk masa depan para pelajar nan berasal dari family Desil 1 dan 2, namalain kategori miskin ekstrem dan miskin.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452842/original/018895500_1782349875-IMG_3725.jpeg)
Siapa sangka, mereka nan tidak berpunya dapat berguru di gedung nan bisa dibilang megah dan mempunyai akomodasi lengkap. Mulai dari lapangan olahraga, ruang kelas dengan laptop dan smart board, aula tempat berkumpul, hingga ruang makan komplit dengan meja dan bangku serta makanan nan disiapkan tiga kali sehari.
Belum lagi bilik tempat mereka beristirahat, komplit dengan kasur dan meja belajar. Sekolah ini menawarkan konsep asrama. Pelajar tidak bisa pulang selain masa liburan sekolah alias hanya dapat dikunjungi oleh orang tua mereka satu kali pada minggu terakhir tiap bulannya.
Bukan untuk membikin mereka stres alias jauh dari keluarga, namun semata menumbuhkan kedisiplinan, meningkatkan konsentrasi belajar dan kemandirian. Mulai dari cuci baju dengan tangan, menjemur hingga menggosok seragam sendiri. Mereka dituntut agar tidak menjadi remaja malas dan manja.
Sehari di Sekolah Rakyat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452604/original/050973800_1782352692-IMG_3681.jpeg)
Selama berada di SRMP 06 Jakarta Timur, Liputan6.com ditemani oleh Gibran Prasnawati Ganda, siswa dengan predikat terbaik di tahun aliran 2025/2026. Dia bercerita gimana aktivitas di Sekolah Rakyat dimulai, apalagi sejak pukul 03.00 WIB
“Kita mulai diajak bangun untuk Tahajud biasanya, kelak jam 04.00 WIB mulai Salat Subuh dan itu berjamaah. Setelah salat kita olahraga dulu kumpul di lapangan, lampau lanjut persiapan sekolah, seperti mandi dan sarapan pagi. Mulai masuk kelas sekira jam 07.20,” kata Gibran usai mendapat piagam penghargaan pelajar terbaik.
Gibran lampau banyak menceritakan kisah inspiratifnya dalam setahun terakhir hidup di Sekolah Rakyat. Tidak ada rasa penyesalan, raut wajahnya semringah saat menuturkan giat demi giat selama 24 jam, apalagi tanpa gawai pandai seperti anak sekolah seusia pada umumnya.
Sebab, sudah menjadi aturan, tidak ada pelajar nan boleh membawa ponsel ke sekolah. Satu-satunya kesempatan pelajar membuka media sosial mungkin hanya saat jam belajar menggunakan laptop, namun itu pun atas pengawasan ketat pembimbing di kelas.
“Tidak boleh bawa hape, laptop juga kudu ditinggal di kelas, tidak ada laptop dibawa ke kamar. Jika memang butuh, kudu izin ke wali asuh alias juga guru,” ungkap Gibran.
Menjadi siswa terbaik, memang butuh pengorbanan. Gibran mengaku banyak jam bebasnya dihabiskan di dalam perpustakaan alias mengerjakan soal seusai kelas.
“Bukan PR, tapi mau review aja pelajaran nan dibahas,” jelas Gibran.
Gibran mengaku tidak mengerti, kenapa ada dorongan dari dalam diri untuk mau giat belajar. Jika diceritakan, Gibran sebelumnya juga sudah berguru di salah satu SMP Negeri, tetapi semangatnya perlahan memudar, hingga tak ada lagi semangat berangkat ke sekolah dan dinyatakan putus dalam 6 bulan terakhirnya di bangku pertama jenjang SMP.
“Hanya saja di Sekolah Rakyat berbeda, entah kenapa kemauan belajar saya menggebu sampai mendapatkan penghargaan ini,” tuturnya.
Meski tetap duduk di kelas 7 dan naik ke kelas 8, namun dirinya sudah mempunyai sasaran kampus saat berkuliah nanti. Jika bukan Universitas Indonesia, maka Universitas Gadjah Mada adalah jawabannya.
“Aku mau ke UI alias UGM, keren kampusnya!” seru dia.
Pada kesempatan senada, Liputan6.com juga berjumpa langsung dengan Regut Sutrasto sang kepala sekolah SRMP 06 Jakarta Timur. Dia mengakui menjadi pembimbing di Sekolah Rakyat adalah sebuah tugas mulia. Sebab, mereka mengajar siswa nan istimewa.
“Mendidik anak-anak 'istimewa' ini luar biasa, lantaran mereka adalah anak-anak nan datang dari family desil 1 dan desil 2. Mereka adalah anak-anak nan tumbuh di lingkungan keras, dimana bermimpi seringkali dianggap sebagai kemewahan nan tak terjangkau,” kata Regut.
Satu tahun berjalan, Regut kagum dengan mereka. Banyak nan awalnya tidak betah, sekarang justru sebaliknya. Juga dengan tata krama kesopanan dan jiwa nan terkendali.
“Satu tahun lalu, banyak dari siswa ini datang dengan tatapan kosong dan perilaku ‘agak liar’ akibat pengaruh lingkungan asal. Namun, setahun di bawah didikan SR Handayani, sebuah transformasi drastis terjadi. Bahkan mempunyai tujuan nan disebut Proposal Hidup," ungkap Regut.
“Luar biasanya, meski baru duduk di bangku SMP, sudah ada siswa nan dengan tegas mencantumkan rencana masuk ke FISIP setelah lulus SMA kelak juga kampus besar seperti UI alias UGM, termasuk ITB,” sambung dia.
Peran Wali Asuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452692/original/094592000_1782349724-IMG_3723.jpeg)
Peran, kedisiplinan, dan tata krama Sekolah Rakyat tak bisa dilepas dari peran wali asuh. Saat pelajar sakit, alias kangen orangtua apalagi saat mereka butuh kawan curhat, sosok wali asuhlah nan merangkul.
Salah satunya adalah Anindra Kusuma Jaya. Meski mengaku belum punya anak, namun kesabaran dalam mendidik mereka menjadi satu kunci bagi wali asuh. Dia bukan guru, namun soal budi pekerti saat berperilaku, menjadi tugasnya.
“Kita apalagi kudu siap 24 jam, dari mereka bangun tidur kita nan bangunin. Malam waktunya istirahat, kita juga nan pastiin untuk tidak ada nan begadang. Tentunya tidak langsung tidur, juga tidak langsung bangun. Cara-cara persuasif dan pendekatan verbal adalah caranya. Jangan dibentak,” tegas dia.
Menurut Anindra, membimbing remaja bukanlah perkara petunjuk satu arah. Ia sadar betul bahwa setiap anak membawa luka dan watak nan berbeda dari rumah asal mereka.
"Ada nan tidak bisa dikerasin, ada nan butuh ketegasan. Jadi saya mencoba pendekatan nan halus. Saya anggap mereka seperti family sendiri," ungkapnya.
Ada momen ketika dirinya terharu. Kala itu seorang anak asuhnya datang menghampirinya dan berbicara bahwa dia kangen dengan kedua orang tuanya. Kalau tetap ada, bisa saja disambungkan dan berbincang beberapa menit. Tapi kasus kali ini berbeda, anak itu yatim piatu.
“Saya pun mencoba menjadi orang tua dalam posisi tersebut,” haru dia.
Bagi sang wali asuh, memandang mereka tumbuh kembang dari nan sebelumnya hidup di jalanan dan mulai beralih bentuk dengan prestasi, menjadi satu perihal nan tak ternilai angkanya. Anindra mau mereka nan sudah berbareng sejak kelas 7 SMP, terus diasuhnya sampai dengan kelulusan nanti.
“Saya mau di sini saja sampai angkatan pertama ini lulus. Saya mau memandang proses mereka sampai tuntas,” tekadnya menandasi.
Dari perbincangan dengan mereka para pelaku nan terlibat langsung di dalamnya, penulis juga merasakan langsung gimana atmosfer berada di dalamnya selama seharian penuh, dan berkeyakinan bahwa Sekolah Rakyat bukan sebatas program populis nan dijalankan Presiden Prabowo.
Bahkan ada momen saat kumandang adzan zuhur tiba, mereka langsung bergegas menuju musala untuk salat berjamaah. Termasuk saat waktu makan siang, mereka berbanjar menunggu giliran makanan.
Hal itu turut didukung dengan pernyataan Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema. Dia mengapresiasi keahlian pemerintah pusat dan wilayah dalam merealisasikan program sekolah rakyat.
"Pendirian Sekolah Rakyat jika betul-betul disiapkan dengan baik, ini sebuah prestasi nan luar biasa. Karena tidak mudah ya untuk mencari lokasinya, membikin pembangunannya, mempersiapkannya. Apalagi ini kan untuk boarding school," ujar Doni saat dihubungi Liputan6.com.
Menurut dia, mobilitas sigap pemerintah ini krusial untuk menunjukkan kesungguhan bahwa negara datang untuk keluarga-keluarga miskin nan tidak memperoleh akses pendidikan nan layak. Terlebih, semangat dari program tersebut adalah memutus rantai kemiskinan melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Namun begitu, Doni mengingatkan agar penyelenggaraan program ini mendapat pengawalan nan ketat dari beragam pihak, terutama sejak tahap pendataan dan seleksi calon siswa. Sehingga support pendidikan anak kurang bisa dan miskin ini tepat sasaran.
Ia menegaskan bahwa andaikan terdapat kekeliruan dalam penerimaan siswa, kesalahan tidak terletak pada konsep Sekolah Rakyat itu sendiri, melainkan pada proses seleksi nan perlu diperbaiki.
“Tujuannya kan bukan untuk orang-orang nan bisa menyekolahkan anaknya. Ini untuk mereka nan betul-betul situasinya, jika negara enggak hadir, mereka enggak bisa memperoleh jasa pendidikan nan baik,” ucap Doni.
Dukungan Parlemen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452578/original/079438900_1782349618-IMG_3704.jpeg)
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayati juga menyambut baik program sekolah rakyat. Dia mengatakan, sekolah rakyat ditujukan untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan memberikan kemudahan akses dan akomodasi pendidikan kepada siswa dari family tidak mampu, terkhusus untuk nan miskin ekstrem.
Meski begitu, tetap ada sejumlah catatan nan perlu dipertegas pemerintah mengenai penyelenggaraan program jagoan Presiden Prabowo di sektor pendidikan dan pengentasan kemiskinan tersebut.
“Pertama, gimana keberlanjutan program tersebut, berikut juga skala prioritas wilayah untuk sekolah. Kedua, kepastian kurikulum,” kata MY Esti saat dihubungi Liputan6.com.
Selain itu, lanjut dia, sumber dan alokasi anggaran sekolah rakyat kudu selalu jelas dengan perencanaan penyelenggaraan termasuk untuk pilihan menggunakan sekolah-sekolah nan ada.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333340/original/091541600_1756619480-f1628b81-f9d0-4b84-8ce7-8eb9a1017586.jpeg)
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menepis stigma Sekolah Rakyat dengan akomodasi seadanya. Dia menegaskan, meski judulnya Sekolah Rakyat, namun mereka nan mengenyam pendidikan di sana mendapat akomodasi setara sekolah unggulan.
“Walaupun ini sekolah untuk orang miskin, akomodasi nan disediakan oleh Presiden Prabowo adalah akomodasi unggulan. Lahannya saja 8,5 hektare, ada laboratorium, lapangan olahraga, hingga ruang praktik seperti pertanian dan perikanan,” ujar Agus.
Agus menyatakan, Presiden Prabowo tidak mau akomodasi Sekolah Rakyat kalah dengan sekolah unggulan. Faktanya, setiap siswa bakal mendapatkan akses teknologi dan training keahlian nan setara dengan standar pendidikan modern. Salah satunya support laptop.
“Presiden minta fasilitasnya setara sekolah unggulan, mulai dari kualitas pendidik, pembentukan karakter, hingga keterampilan. Siswa apalagi bakal difasilitasi iPad, laptop, dan perlengkapan digital lainnya,” kata Agus.
“Sekolah Rakyat bukan untuk semua kalangan, melainkan dirancang secara unik untuk anak-anak dari family miskin dan miskin ekstrem,” dia menutup.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·