Sejumlah penduduk tidak bisa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kehilangan support sosial (bansos) setelah desilnya naik dari 1-4 ke desil 6-10.
Pemda DIY berambisi perbaikan desil bisa dilakukan dengan sigap lantaran perihal ini berangkaian dengan akses bansos.
"Ini info alias sesuatu nan kemudian kudu kita lihat kembali," kata Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti ditemui usai aktivitas Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9).
"Sedangkan kecepatan juga kita lihat, oke boleh diperbaiki, tapi kita kudu bicara tempo. Karena di sini ada implikasi ketika info itu tidak sigap disesuaikan bakal berimplikasi kepada supporting alias support nan diterima oleh mungkin masyarakat nan di desil 1 sampai 5 nan kemudian mungkin berubah ke atas gitu ya," tegasnya.
Menurut Made, perbaikan desil ini kudu ada pemisah waktunya.
"Dan itu kapan? Harus ada pemisah waktunya. Karena ketika kita bicara mungkin dia dapat support sosial, dia dapat keringanan UKT (uang kuliah tunggal) waktu pendidikan alias hal-hal lain nan mempermudah masyarakat kita di desil 1 sampai 5, itu kan juga ada batas waktunya. Enggak bisa menunggu lama," tegasnya.
Made bilang info dari BPS ini digunakan oleh pemerintah daerah. Sementara pemerintah wilayah tidak bisa mengintervensi info tersebut.
"Kami nan menggunakan, tapi kan kami tidak bisa istilahnya mengintervensi data. Tapi kami hanya minta bahwa apa nan info nan kemudian disepakati dan keluar bagian dari info DTSEN misalnya. Karena kan apa pun itu, desil tetap menjadi parameter, acuan," katanya.
Diberitakan sebelumnya, kasus penduduk miskin naik desilnya dan kehilangan support sosial (bansos) banyak terjadi di Kota Yogyakarta.
Baru-baru ini kasus ini terjadi pada Yoyok Sunaryo (67), lansia sebatang kara nan tinggal di sebuah kontrakan di Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta.
Yoyok tak lagi mendapat bansos beberapa bulan terakhir. Setelah dibantu cek oleh tetangga, rupanya desil Yoyok naik dari 1 alias 2 ke desil 6-10.
Sakit komplikasi nan dialami Yoyok juga membuatnya tidak bisa beraktivitas bentuk berat.
"Saya tinggal sendirian," kata Yoyok.
Yoyok mengatakan dulu dia mendapat beragam bansos termasuk makanan tetapi sekarang sudah tidak.
"Sekarang nggak (dapat). Dulu (dapat) buah-buahan, telur. Saya kena alergi telur sama mi instan," ujarnya.
Yoyok mengatakan sekarang dirinya jarang bekerja. Paling sesekali dia diminta kerabat untuk bantu bersih-bersih di rumahnya.
"Bersih-bersih," ujarnya.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·