Sejumlah Pejabat Bea Cukai Diduga Terima Dolar Singapura dari Blueray

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah nama pejabat di Direktorat Jenderal Bea Cukai kementerian Keuangan (Kemenkeu) disebut menerima sejumlah duit dengan pecahan dolar Singapura dari perusahaan Blueray. Salah satunya, Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama disebut menerima duit Sin$213.600 alias sekitar Rp2,9 miliar.

Hal itu terungkap ketika jaksa KPK M Takdir Suhan bertanya kepada Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I Direktorat Penindakan dan Penyidikan Dirjen Bea Cukai, Orlando Hamonangan Sianipar namalain Ocoy dalam sidang nan digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (20/5).

Saat itu, jaksa mengonfirmasi info nan didapat dari bagian finansial perusahaan swasta Blueray.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam info itu, ada kode nama beserta jumlah duit nan diterima. Salah satunya, ada kode nama Ocoy yang menerima duit Sin$42.800.

"Jadi izin Majelis, ini nilainya ini menggunakan nilai SGD. Jadi untuk Pak Ocoy ini 42.800 Dolar Singapura. Begitukah Pak Ocoy nan Pak Ocoy dalam corak SGD ya?" tanya jaksa KPK Takdir, dikutip dari detikcom.

"Iya, Pak," jawab Ocoy.

Kemudian ada juga bukti penyerahan duit Sin$28.500 dan Sin$7.200 kepada orang berjulukan Faldi dan orang berinisial BY. Ocoy mengatakan BY adalah Budiman Bayu.

Lalu, ada juga penyerahan duit kepada Kepala Seksi Fasilitas berjulukan Hendi senilai Sin$5.400.

"Kepala Seksi, jadi selevel dengan saksi sama-sama Kepala Seksi. Baik, ini nilainya 5.400 dolar Singapura. Kemudian 'SIS', 'SIS' adalah Sisprian Kasubdit?" tanya jaksa lagi dan diamini Ocoy.

"Baik, kemudian 'BR' adalah Bang Rizal?" tanya jaksa Takdir.

"Iya, Pak," kata Ocoy.


Setelah sejumlah nama muncul. Tibalah jaksa bertanya tentang Djaka Budhi, lantaran dalam bukti itu disebutkan Djaka menerima Sin$213.600.

"Baik, kemudian izin Majelis, kami tegaskan nan (data) sales 2, 1 adalah Dirjen Bea Cukai, nilainya 213.600 dolar Singapura. Itu kami nan menegaskan, kami, lantaran kami nan punya bukti ini," kata jaksa Takdir.

"1,2, 1, 2, 3, memahami maksudnya kode-kode itu memahami?" tanya jaksa ke Ocoy.

Ocoy mengaku memahami maksud nomor satu. Namun, untuk nomor-nomor selanjutnya, dia mengaku tidak tahu.

Jaksa kemudian memastikan apakah uang-uang sebagaimana bukti finansial itu sampai alias tidak. Ocoy pun mengatakan 'iya'.

"Oke, baik. Izin Majelis, kelak kami ada beberapa saksi nan lain juga untuk menegaskan. Nah, kemudian sesuai dengan tanda bukti bahwa sepengetahuan saksi, uang-uang ini sampai?" tanya jaksa dan kemudian dibenarkan Ocoy.

Dalam sidang ini, jaksa KPK mendakwa tiga terdakwa ketua Blueray Cargo dalam kasus suap importasi peralatan pada Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC). Tiga terdakwa tersebut adalah terdakwa I John Field selaku ketua Blueray Cargo, terdakwa II Deddy Kurniawan Sukolo selaku Manajer Operasional Blueray Cargo, dan terdakwa III Andri selaku ketua tim arsip Blueray Cargo.

Jaksa KPK mengatakan ketiganya memberikan duit Rp 61,3 miliar dalam corak mata duit dolar Singapura. Selain uang, jaksa menyebut, ketiganya juga didakwa memberikan sejumlah akomodasi serta peralatan mewah mencapai Rp 1,8 miliar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut buka bunyi soal dugaan Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menerima duit suap 213.600 dolar Singapura alias setara Rp2,9 miliar (asumsi kurs Rp13.801) dari Bos Blueray Cargo John Field.

Purbaya memastikan tetap berkomunikasi dengan Djaka setiap hari. Meskipun demikian, dia tak menjawab apakah dirinya sudah menanyakan perihal dugaan suap itu kepada anak buahnya tersebut.

"Saya nggak ikut campur, saya takut dosa. Tapi nan jelas, saya mengerti apa nan terjadi," kata Purbaya di instansi Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5).

Namun, Purbaya enggan menjelaskan lebih lanjut apa nan dia ketahui soal dugaan penerimaan suap itu.

"Ada lah. Semangat teman-teman," pungkasnya.

Baca buletin selengkapnya di sini.

(fra/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional