Wilayah Otonomi Bangsamoro (BARMM) menggelar pemilu parlemen perdana.(Dok. Bangsamoro Parliement)
WILAYAH Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, bersiap mencetak sejarah dengan menggelar pemilihan umum perdana pada Senin (14/9). Momentum ini menjadi tonggak krusial bagi stabilitas area setelah puluhan tahun dibayang-bayangi bentrok separatis dan kekerasan politik.
Melalui pemilu ini, penduduk BARMM untuk pertama kalinya mempunyai kewenangan untuk memilih langsung personil parlemen mereka. Langkah ini secara resmi menggantikan sistem penunjukan pejabat nan selama ini bertindak di wilayah otonomi tersebut.
Kontestasi politik ini diikuti oleh beragam komponen masyarakat, mulai dari mantan pemberontak, tokoh dinasti politik, hingga perwakilan golongan Kristen dan masyarakat adat. Keberagaman kandidat ini mencerminkan inklusivitas dalam struktur pemerintahan baru nan sedang dibangun.
Salah satu sorotan utama adalah persaingan antara dua kubu dari Moro Islamic Liberation Front (MILF). Meski berada dalam persaingan ketat, kandidat dari Bangsamoro Federalist Party (BFP), Naguib Sinarimbo, menegaskan bahwa stabilitas wilayah tetap menjadi prioritas utama di atas ambisi politik.
"Semua orang sepakat bahwa selain kemenangan, kita perlu menjaga perdamaian relatif nan telah dicapai. Itu nan paling utama bagi semua pihak," ujar Sinarimbo sebagaimana dikutip dari AFP.
Senada dengan perihal tersebut, Ketua MILF Murad Ebrahim menepis kekhawatiran bakal adanya perpecahan antarkelompok akibat kontestasi ini. Ia meyakini bahwa ikatan emosional dan sejarah perjuangan berbareng jauh lebih kuat dibandingkan perbedaan pilihan politik sesaat.
Untuk menjamin kelancaran proses pemungutan suara, otoritas keamanan mengerahkan lebih dari 20.000 personel dan mendirikan beragam pos pemeriksaan. Pengamanan ketat ini dilakukan guna mengantisipasi potensi gangguan, mengingat sekitar 14.000 personil MILF diperkirakan tetap memegang senjata.
Bagi penduduk setempat, pemilu ini adalah simbol harapan. Luzminda Juanilla, seorang penduduk Cotabato berumur 70 tahun, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan memilih pemimpin secara langsung setelah melewati masa-masa kelam bentrok bersenjata.
"Dulu sangat melelahkan. Ada begitu banyak pembunuhan. Memang memerlukan waktu lama, tetapi akhirnya tiba juga," pungkasnya. (AFP/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·