Ketika standar hidup dan ekspektasi sosial nan dulu dianggap pencapaian perlahan berubah menjadi ekspektasi
Dulu, diterima di universitas adalah sesuatu nan layak dirayakan. Setelah melalui beragam seleksi dan persaingan, seseorang akhirnya sukses mencapai tujuan nan diinginkan. Sekarang, standar hidup dan ekspektasi sosial berubah. Masuk universitas tetap menjadi pencapaian, tapi bagi banyak orang perihal itu tidak lagi dianggap sebagai garis finis, melainkan titik awal.
Setelah diterima, muncul banyak perihal baru nan perlu dikejar ialah organisasi, magang, sertifikasi, portofolio, sampai pengalaman kerja sebelum lulus. Apa nan dulu dianggap sebagai keberhasilan, sekarang sering dilihat sebagai langkah awal untuk mengejar sasaran berikutnya. Hal nan sama juga terjadi di bumi kerja. Punya pekerjaan tetap dulu dianggap sebagai tanda kestabilan dan keberhasilan. Sekarang, pekerjaan sering dipandang sebagai perihal dasar sebelum seseorang mulai mengejar promosi, mengembangkan diri, berinvestasi, alias mencari penghasilan tambahan.
Perubahan ini bukan perihal nan buruk. Justru menunjukkan bahwa kesempatan semakin terbuka. Tapi ada satu akibat nan sering tidak kita sadari. Hal-hal nan dulu dianggap pencapaian perlahan berubah menjadi ekspektasi. Sesuatu nan dulu membikin seseorang bangga, sekarang sering dianggap sebagai sesuatu nan memang semestinya dicapai. Alhasil, rasa puas jadi sigap berlalu. Baru selesai satu tujuan, tujuan berikutnya sudah menunggu.
Banyak pencapaian sebenarnya tidak kehilangan nilainya. nan berubah hanyalah tempatnya: dulu menjadi garis akhir, sekarang menjadi garis awal.
Normal nan Selalu Bergerak
Standar hidup dalam masyarakat tidak pernah betul-betul tetap. Apa nan disebut “normal” terus berubah mengikuti era dan lingkungan sosial. Kita sering menganggap standar kehidupan itu stabil, padahal kenyataannya tidak demikian.
Dua puluh tahun lalu, mempunyai akses internet di rumah bukanlah perihal nan umum. Sekarang, hubungan nan lambat selama beberapa menit saja sudah cukup menimbulkan keluhan.
Dulu, berjalan ke luar negeri merupakan pengalaman nan relatif langka. Sekarang, di banyak lingkungan sosial, pengalaman seperti itu tidak lagi dianggap luar biasa. Perubahan semacam ini menunjukkan bahwa normal bukanlah kondisi nan permanen. Normal terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi, ekonomi, budaya, dan lingkungan sosial.
Masalahnya bukan pada perubahan itu sendiri. Masalah muncul ketika kita tidak menyadari bahwa standar untuk menilai hidup juga ikut bergeser.
Pergeseran standar sering kali susah disadari lantaran terjadi secara perlahan. Tidak ada momen ketika masyarakat sepakat bahwa sebuah pencapaian tidak lagi cukup. Perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit melalui lingkungan, budaya kerja, perkembangan teknologi, dan beragam kisah keberhasilan nan kita lihat setiap hari. Ketika semakin banyak orang mencapai sesuatu, kita mulai menganggapnya sebagai perihal nan wajar.
Ketika nan Istimewa Menjadi Biasa
Yang menarik, standar nan berubah tidak selalu membikin hidup menjadi lebih buruk. Dalam banyak hal, perubahan itu justru menunjukkan kemajuan. Semakin banyak orang dapat mengakses pendidikan, teknologi, dan kesempatan nan sebelumnya susah dijangkau. Namun kemajuan tersebut juga mempunyai konsekuensi: apa nan dulu dianggap luar biasa perlahan kehilangan status istimewanya.
Ada pola nan terus berulang dalam kehidupan modern. Ketika sesuatu tetap susah dicapai, perihal itu dianggap istimewa. Namun, ketika semakin banyak orang sukses mencapainya, statusnya perlahan berubah menjadi sesuatu nan biasa.
Kuliah adalah salah satu contohnya. Begitu pula keahlian berkata asing, pengalaman magang, alias beragam keahlian nan sekarang sering muncul dalam daftar syarat bumi kerja. Tidak ada nan salah dengan meningkatnya standar keahlian manusia. Tapi, perubahan itu juga menggeser pemisah antara apa nan dianggap spesial dan apa nan dianggap biasa.
Akibatnya, banyak orang mencapai lebih banyak perihal dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi belum tentu merasa lebih berhasil. Bukan lantaran pencapaiannya tidak berarti, melainkan lantaran makna dari pencapaian tersebut telah berubah.
Cara Baru Kita Untuk Mengukur Diri
Perubahan standar normal tidak hanya mengubah masyarakat. Perubahan itu juga mengubah langkah kita memandang diri sendiri.
Seseorang bisa mempunyai pendidikan nan baik, pekerjaan nan stabil, dan kehidupan nan relatif nyaman, tetapi tetap merasa tertinggal. Bukan lantaran hidupnya memburuk, melainkan lantaran titik acuannya telah bergeser.
Apa nan dianggap cukup hari ini berbeda dengan apa nan dianggap cukup sepuluh alias dua puluh tahun lalu. Ketika arti “cukup” berubah, langkah kita mengukur keberhasilan pun ikut berubah.
Tanpa disadari, kita sering menilai diri sendiri dengan standar nan apalagi belum ada ketika perjalanan itu dimulai.
Mungkin tidak semua kegelisahan modern berasal dari ambisi nan terlalu besar alias kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Sebagiannya mungkin muncul lantaran kita hidup di tengah arti normal nan terus bergerak.
Hal-hal nan dulu dianggap pencapaian perlahan berubah menjadi ekspektasi. nan dulu terasa spesial berubah menjadi biasa. Dan nan dulu dianggap cukup sekarang terasa kurang.
Karena itu, sebelum bertanya kenapa hidup terasa tertinggal, mungkin ada pertanyaan lain nan lebih penting: sejak kapan semua ini menjadi normal?
Sebab, bisa jadi hidup kita tidak berubah sebanyak nan kita kira. nan berubah adalah standar nan kita gunakan untuk menilainya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·