Sehari Terbang Setinggi PT Dirgantara Indonesia

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Sehari Terbang Setinggi PT Dirgantara Indonesia Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)

Awalnya, saya sangat ceria saat mengetahui bahwa Media Indonesia kembali menggelar program Reporter Cilik (Repcil). Bersama 49 siswa terpilih lainnya dari beragam sekolah dasar, saya mendapatkan kesempatan berbobot untuk berjamu ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Kota Bandung pada Senin, 24 Agustus 2026.

Pada pagi hari, udara Kota Bandung terasa cukup dingin. Namun, perihal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat membara para Reporter Cilik. Aku dan teman-teman berkumpul di Auditorium B.J. Habibie. Di depan gedung, pandanganku langsung tertuju pada sebuah mobil antik Nissan President nan terpajang dengan rapi. Sembari menunggu petualangan dimulai, para Reporter Cilik melakukan registrasi ulang dan mengikuti sesi potret bersama, lampau kami dibagi menjadi tiga golongan besar.

Tepat pukul 09.30 WIB, kelompokku diarahkan untuk menaiki bus Bandros berukuran besar dengan warna merah menyala. Di dalam bus, seorang kakak pemandu sudah siap menemani perjalanan kami sembari menceritakan sejarah berdirinya PT DI. Ada satu info unik nan membuatku takjub, rupanya bus Bandros alias edubus nan kami naiki ini dibuat dengan memanfaatkan material pesawat nan sudah tidak terpakai lagi! Kreatif sekali, ya.

Tujuan pertama kami adalah Gedung Mock-Up. Di sana, kami disambut oleh Om Cepi, salah satu staf PT DI nan bekerja menjelaskan beragam macam produk kedirgantaraan. Salah satu produk unggulan nan beliau kenalkan adalah pesawat N219. Bagian nan paling berkesan bagiku adalah saat kami diperbolehkan memasuki langsung pesawat original CN235. Pesawat militer berwarna hijau tua tersebut terasa sangat luas saat saya melangkah ke dalamnya. Aku apalagi berkesempatan masuk ke bagian kokpit nan dipenuhi oleh beragam macam tombol canggih.

Destinasi selanjutnya adalah Hangar FAL (Final Assembly Line). Dalam perjalanan menuju ke sana, saya memandang sebuah gedung berwarna biru nan membentang sangat panjang. Ternyata, tempat itu adalah gedung terpanjang nan ada di Indonesia! Begitu melangkah masuk ke dalam hangar, kami berjumpa dengan sepuluh orang narasumber hebat. Salah satunya adalah Kak Ricky Fadhillah nan menjabat sebagai Manufacturing Engineering (ME).

Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya mengenai apa nan membuatnya memilih bekerja di industri dirgantara serta apa saja tugasnya sehari-hari. Kak Ricky menjelaskan bahwa menjadi seorang insinyur sudah merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai bagian dari bagian ME, tugas utamanya adalah menyusun perencanaan teknis setelah sebuah kreasi produk pesawat selesai dibuat.

Kak Ricky juga bercerita bahwa dalam bekerja dia menggunakan peralatan seperti komputer alias PC, serta beragam perangkat lunak seperti Microsoft Excel dan software unik lainnya. Beliau berpesan bahwa untuk bekerja di bagian ini, kita kudu menguasai pengetahuan kedirgantaraan seperti teknik mesin alias teknik elektro. Di sela-sela kunjungan hangar nan seru ini, saya juga sempat berkenalan dengan kawan baru berjulukan Fazilatunnisa Nurrahmah, seorang siswi dari SDS Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta.

Setelah puas berkeliling pabrik, kami kembali ke ruang auditorium sembari menunggu golongan lain menyelesaikan kunjungan mereka. Agar tidak bosan, saya dan teman-teman bermain game berbareng para kakak panitia nan sangat seru dan asyik. Selesai beristirahat, salat, dan makan (ishoma), aktivitas dilanjutkan dengan agenda nan paling dinantikan, ialah konvensi pers berbareng Ibu Dhias Widhiyati selaku Direktur Keuangan dan SDM, serta Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi PT DI.

Beberapa pertanyaan menarik pun mulai dilontarkan oleh para peserta. Ketika ditanya mengenai pesawat nan paling dibanggakannya, Pak Dena memilih pesawat N219. Alasan beliau membanggakan pesawat tersebut adalah lantaran N219 dirancang dengan keahlian unik agar bisa lepas landas (take off) dan mendarat (landing) di landasan pacu nan tidak beraspal. Hebatnya lagi, pesawat ini sedang terus dikembangkan menjadi jenis amfibi agar kelak bisa lepas landas maupun mendarat di darat dan di permukaan air.

Sesi konvensi pers semakin menyentuh hati saat seorang Reporter Cilik bertanya mengenai tips agar anak-anak Indonesia bisa mempunyai mimpi nan tinggi. Ibu Dhias tersenyum hangat lampau menjelaskan bahwa generasi muda Indonesia kudu menanamkan nilai integritas, disiplin, dan komitmen nan tinggi di dalam diri, serta tidak lupa untuk selalu bermohon kepada Tuhan nan Maha Esa. Beliau juga memberikan motivasi penutup nan sangat membakar semangat kami, “Jangan takut bermimpi tinggi. Katakan pada diri adik-adik sekalian: saya pasti bisa!”

Sebagai penutup rangkaian acara, kami semua duduk berbareng untuk menulis laporan hasil liputan aktivitas nan telah kami laksanakan di PT DI hari itu. Ada banyak sekali pelajaran berbobot nan saya bawa pulang. Kunjungan ini tidak hanya mengajarkanku tentang seluk-beluk pembuatan pesawat terbang, tetapi juga mendidikku tentang gimana langkah menjadi seorang anak bangsa nan handal dan tidak pernah takut mempunyai cita-cita setinggi pesawat nan mengudara bebas di langit. Terima kasih Media Indonesia! Terima kasih PT Dirgantara Indonesia! (X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia