Felldy Utama
, Jurnalis-Minggu, 05 April 2026 |16:29 WIB

Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Dok Okezone)
JAKARTA - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam perihal ini UNIFIL, kudu menghentikan penugasannya di medan perang nan tetap membara, seperti di Lebanon. Hal ini menyusul gugurnya tiga prajurit TNI nan bekerja sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Lebanon beberapa hari lalu.
Ia menjelaskan, satuan pemeliharaan perdamaian PBB, seperti Kontingen Garuda XXIII/S nan sedang mengemban tugas di Lebanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. Peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran.
"Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 nan punya misi ‘to enforce the peace’, dalam makna melaksanakan tugas nan ‘lebih keras’ untuk sebuah ‘peacemaking’. Mereka bekerja di ‘blue line’ alias di wilayah ‘blue zone’, nan bukan merupakan wilayah pertempuran alias ‘war zone’," kata SBY dalam keterangannya nan ditulis di akun X, Minggu (5/4/2026).
Kontingen Indonesia, kata dia, hakikatnya bekerja di “Blue Line” nan memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon. Sekarang ini, kenyataannya nan semula mereka berada di sekitar “Blue Line” sekarang sudah berada di “war zone”, nan sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah.
Bahkan, SBY mendengar berita jika pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini, menurut dia, tentu sangat rawan bagi peacekeeper lantaran setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran nan tengah berlangsung.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·