Jangan Tunggu Sakit, Pemerintah Perkuat Deteksi dan Layanan Kesehatan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah terus memperkuat transformasi sistem kesehatan nasional dengan mengedepankan upaya pencegahan dan penemuan awal penyakit.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), nan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan penemuan awal penyakit agar dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi nan lebih serius.

Pemerintah juga mendorong masyarakat menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat, sekaligus memastikan hasil pemeriksaan dapat ditindaklanjuti melalui edukasi, pengobatan, maupun rujukan sesuai kebutuhan medis.

Program CKG nan diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Februari 2025 menjadi salah satu langkah pemerintah mengubah orientasi pelayanan kesehatan dari nan semula lebih berfokus pada pengobatan menuju penguatan upaya promotif dan preventif.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyelenggaraan CKG tahap pertama menunjukkan respons positif dari masyarakat. Hingga akhir 2025, program ini telah menjangkau 38 provinsi melalui 10.588 akomodasi kesehatan, dengan 70 juta dari 73 juta masyarakat nan mendaftar telah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Capaian tersebut menjadi modal krusial untuk mendukung sasaran pemerintah meningkatkan usia angan hidup masyarakat Indonesia dari sekitar 72 tahun menjadi 76 tahun.

"Pak Presiden Prabowo menugaskan saya untuk bisa meningkatkan usia angan hidup masyarakat Indonesia dari sebelumnya 72 tahun menjadi 76 tahun. Untuk bisa meningkatkan usia angan hidup tersebut, kita kudu memandang kenapa banyak orang Indonesia wafat lebih dini," kata Budi dalam perbincangan Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) berjudul "Mewujudkan Kesehatan Merata untuk Rakyat Indonesia", Selasa, (21/07).

Deteksi Dini untuk Menekan Risiko Penyakit

Menurut Budi, penyebab kematian di Indonesia tetap didominasi penyakit tidak menular (PTM), seperti strok, penyakit jantung, kanker, dan kandas ginjal. Sejumlah penyakit tersebut dapat dicegah alias dikendalikan andaikan aspek risikonya diketahui lebih awal.

Data Kemenkes nan dipublikasikan 20 Februari 2025 menunjukkan bahwa nyaris 75% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan strok, apalagi merenggut nyaris 800.000 jiwa setiap tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama untuk mengetahui tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Ketiga parameter tersebut menjadi parameter dasar untuk mendeteksi akibat hipertensi, diabetes, penyakit jantung, strok, kandas ginjal, dan penyakit kronis lainnya.

"Tiga penyakit itu sebenarnya bisa dicegah. Salah satu caranya adalah giat cek kesehatan agar kita tahu kondisi tubuh kita. Indikator nan paling mudah dilihat adalah tekanan darah, gula darah, dan kolesterol," ujar Budi.

Pemeriksaan rutin menjadi krusial lantaran tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan indikasi pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat, tetapi sebenarnya telah mempunyai aspek akibat nan dapat berkembang menjadi penyakit berat.

Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, masyarakat mempunyai kesempatan untuk melakukan perubahan style hidup, seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menghindari rokok, serta memperoleh pengobatan sebelum muncul komplikasi.

CKG Dilanjutkan dengan Pengobatan dan Rujukan

CNN IndonesiaMenkes Budi Gunadi Sadikin dan Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Ariani Dewi Widodo. (Foto: CNN Indonesia).

Pemerintah memastikan penyelenggaraan CKG tidak berakhir pada tahap skrining. Masyarakat nan diketahui mempunyai aspek akibat alias terdiagnosis penyakit tertentu bakal mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi kesehatannya.

Tindak lanjut tersebut meliputi edukasi perubahan style hidup, pemberian obat secara gratis, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan ke akomodasi kesehatan nan mempunyai jasa lebih lengkap.

"Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan cuma-cuma dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu," kata Budi.

Pengembangan jasa tersebut dilakukan agar hasil pemeriksaan betul-betul memberikan manfaat. Peserta CKG tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh pengarahan mengenai langkah nan perlu dilakukan setelah pemeriksaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Ariani Dewi Widodo menilai, perubahan pola pikir menjadi salah satu tantangan krusial dalam penyelenggaraan CKG.

Menurut Ariani, sebagian masyarakat tetap enggan menjalani pemeriksaan lantaran takut mengetahui penyakit nan mungkin diderita. Padahal, penemuan awal justru membuka kesempatan lebih besar untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.

"Persepsinya kudu dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan lantaran takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, apalagi bisa kembali menjadi hijau," ujarnya.

Ia menambahkan, pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan glukosuria tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan. Pengobatan perlu disertai perubahan style hidup, mulai dari menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, beristirahat cukup, hingga disiplin mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.

Perluas Deteksi dan Pengobatan TB

Selain mencegah penyakit tidak menular, pemerintah juga memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) nan tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia.

Mengacu pada Global TB Report 2025, Indonesia tetap menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di bumi setelah India, dengan sekitar 1.080.000 kasus baru dan 126.000 kematian akibat TB setiap tahun, sehingga percepatan penemuan dan pengobatan menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Besarnya nomor tersebut menunjukkan pentingnya memperluas penemuan kasus sekaligus memastikan setiap pasien memperoleh pengobatan hingga tuntas.

Budi menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan andaikan ditemukan lebih awal dan diobati dengan tepat. Masyarakat juga diminta tidak memberikan stigma kepada penderita TB lantaran stigma dapat membikin seseorang enggan memeriksakan diri alias menghentikan pengobatan sebelum selesai.

"Kalau ditemukan lebih sigap lampau minum obat, dalam sekitar satu bulan pasien sudah tidak menularkan lagi. Karena itu kita kudu menemukan sebanyak mungkin kasus agar segera diobati," ujarnya.

Untuk mendukung percepatan penemuan kasus, pemerintah memperluas skrining TB melalui pengadaan sekitar 10.000 perangkat rontgen serta perangkat PCR portabel. Peralatan tersebut bakal ditempatkan hingga tingkat puskesmas agar pemeriksaan semakin mudah dijangkau.

Penguatan sarana diagnostik diharapkan dapat mempercepat penemuan pasien, pemberian pengobatan, sekaligus memutus rantai penularan di lingkungan family dan masyarakat.

Keberhasilan pengobatan TB juga memerlukan kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat hingga tuntas. Dukungan family diperlukan agar pasien tetap menjalani terapi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

Pemerataan Fasilitas Perkuat Akses Pelayanan

Upaya pencegahan dan pengobatan juga didukung melalui pembangunan serta penguatan akomodasi kesehatan di beragam daerah.

Setelah menyelesaikan pembangunan 22 rumah sakit pada 2025, pemerintah mulai membangun 12 rumah sakit baru pada 2026. Pembangunan tersebut bakal dilanjutkan dengan 20 rumah sakit tambahan pada tahap berikutnya.

Rumah sakit baru diprioritaskan untuk wilayah nan tetap kekurangan jasa kesehatan spesialistik. Fasilitas tersebut bakal dilengkapi dengan peralatan medis modern, seperti CT scan, mamografi, laboratorium kateterisasi jantung alias cath lab, serta akomodasi pemeriksaan dan penanganan kanker.

Penguatan akomodasi kesehatan ditujukan agar masyarakat di wilayah tidak lagi kudu menempuh perjalanan jauh alias dirujuk ke kota besar untuk memperoleh pelayanan medis tertentu.

(inh)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional