Saham-saham di Asia Terpuruk, Investor Cenderung Lebih Hati-hati

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Papan elektronik menunjukkan pergerakan indeks saham di instansi Bursa Efek Thailand (SET) di Bangkok, Selasa (8/4/2025). Foto: Manan Vatsyayana/AFP

Bursa saham Asia terpuruk pada hari Jumat (26/6) setelah mencatatkan keahlian kuartal nan kuat. Penurunan ini dipicu oleh langkah Apple meningkatkan nilai produk nan mengungkap sisi negatif dari tingginya biaya komponen cip.

Bursa Koresel, KOSPI apalagi kudu trading halt kedua kalinya pada pekan ini. Penghentian perdagangan saham ini terjadi usai saham-saham perusahaan teknologi merosot imbas sentimen jelek pada booming teknologi AI.

Mengutip Bloomberg, di saat nan sama, ancaman intervensi pemerintah Jepang menahan kejatuhan mata duit yen dari level terendah dalam 40 tahun.

Harga minyak mentah Brent turun 1,5 persen menjadi 74,1 dolar AS per barel, mendekati level terendah dalam empat bulan setelah Saudi Aramco mengaktifkan kembali pemuatan di terminal Ras Tanura.

Sementara itu, perjanjian berjangka Nasdaq turun 1,3 persen lantaran berita penundaan debut publik OpenAI, dan bursa Eropa bersiap dibuka melemah 0,8 persen.

Ilustrasi Nasdaq. Foto: JHVEPhoto/Shutterstock

Saham Apple merosot 6,1 persen dan kehilangan nilai pasar 250 miliar dolar AS akibat kenaikan nilai iPad dan MacBook demi menutupi lonjakan biaya cip memori.

Langkah serupa juga diambil Microsoft pada konsol Xbox. Tren kenaikan nilai komponen ini seketika meredam euforia pasar terhadap laporan untung produsen cip Micron, serta membikin penanammodal sekarang lebih selektif terhadap eksposur industri kepintaran buatan (AI) lantaran membengkaknya biaya input.

Aksi ambil untung ini mendorong indeks Asia Pasifik MSCI di luar Jepang turun 3 persen pada hari Jumat. Di pasar regional, Nikkei Jepang ambruk 4,2 persen, KOSPI Korea Selatan merosot 5,8 persen setelah sempat memicu circuit breaker, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,7 persen.

IHSG turut ambruk 1,77 persen ke level 5.889 pada perdagangan siang ini pukul 14.26 WIB.

YEN LEMAH

Ilustrasi mata duit Yen dan Rupiah. Foto: Shutter Stock

Mata duit yen merana di posisi 161,60 per dolar AS, mendekati level terendah dalam 40 tahun. Sentimen pasar terpengaruh oleh info ekonomi AS nan tumbuh sigap namun diiringi dengan stagnasi pengeluaran konsumen.

Kondisi ini membikin indeks dolar sedikit tergelincir ke posisi 101,36. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS ikut turun dengan tenor 10 tahun berada di posisi 4,3804 persen.

Sementara itu, sektor logam mulia mencatatkan bulan nan berat di mana nilai emas spot turun 11,5 persen menjadi 4.011 dolar AS per ons dan perak merosot 24,5 persen ke posisi 56,7 dolar AS per ons.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan