Polres Metro Bekasi Kota menggelar pertemuan berbareng 127 kepala sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri dan swasta di Aula SMA Negeri 1 Kota Bekasi, Selasa (15/9).
Forum tersebut menjadi langkah berbareng untuk memperkuat penyelenggaraan program Jaga Pelajar di lingkungan pendidikan Kota Bekasi.
Dalam pelaksanaannya, personel Polres Metro Bekasi Kota dan polsek jejeran bakal menjalankan peran sebagai Bapak Asuh pada setiap kelas SMK. Kehadiran mereka diharapkan mempererat keterhubungan antara pelajar, sekolah, keluarga, dan kepolisian sehingga persoalan nan dihadapi siswa dapat dikenali lebih awal.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Rina Parlina, mengatakan, pendidikan generasi muda memerlukan kesinambungan dan keselarasan langkah.
“Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar mutu akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan perlindungan terhadap anak. Sekolah, keluarga, dan kepolisian perlu bergerak beriringan agar proses pendidikan berjalan secara utuh dan pelajar tidak terseret ke dalam perilaku nan mengarah pada pelanggaran hukum,” ujar Rina.
Personel nan ditunjuk sebagai Bapak Asuh bakal berinteraksi secara berkala dengan kelas nan menjadi pendampingannya serta berkoordinasi dengan wali kelas dan pembimbing pengarahan konseling.
Interaksi tersebut membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan aspirasi, pengalaman, maupun hal-hal nan memerlukan perhatian sehingga tindak lanjut dapat dilakukan secara tepat.
Ketua FKKS SMK Kota Bekasi Wawan Kuswandi memandang perlindungan terhadap siswa sebagai bagian krusial dalam memelihara stabilitas Kota Bekasi.
“Keamanan anak-anak merupakan tanggung jawab bersama. Ketika mereka berada di luar rumah dan sekolah, diperlukan kepedulian masyarakat serta keterlibatan kepolisian. Kehadiran Bapak Asuh memberi sekolah mitra nan dapat segera diajak bertindak ketika siswa memerlukan bantuan,” tuturnya.
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana menyoroti derasnya arus info digital nan dapat memengaruhi langkah pelajar memahami suatu peristiwa.
“Hoaks, misinformasi, dan disinformasi dapat membentuk persepsi nan keliru, menggerakkan emosi, serta mendorong keputusan tanpa pemahaman nan utuh. Jika dibiarkan berkembang, info semacam itu dapat menjadi pemicu peristiwa nan berujung pada tragedi,” kata Putu Kholis.
Ia menegaskan, pelajar tidak boleh dimanfaatkan alias digerakkan secara sengaja untuk terlibat dalam tindakan massa tanpa memahami tujuan dan risikonya.
“Anak-anak tidak boleh dimobilisasi, dieksploitasi, apalagi dijadikan martir dalam suatu peristiwa. Keselamatan, kewenangan belajar, dan masa depan mereka kudu ditempatkan di atas kepentingan apa pun,” tegasnya.
Putu Kholis menambahkan, Jaga Pelajar mengutamakan pencegahan melalui pendampingan dan komunikasi nan berkelanjutan.
“Masa depan bangsa ditentukan oleh langkah kita menjaga anak-anak hari ini. Kita mau para pelajar tumbuh dengan rasa aman, bisa menyaring info secara kritis, mempunyai ruang untuk berkarya, dan mempunyai arah nan jelas dalam meraih cita-cita,” ujar dia.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·