Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6). Berdasarkan info Bloomberg hingga pukul 12.00 WIB, rupiah melemah 88,50 poin alias 0,50 persen ke level Rp 17.927 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama mengenai bentrok geopolitik di Timur Tengah nan mendorong kenaikan nilai minyak bumi dan menguatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak lagi semata-mata dipengaruhi aspek musiman, melainkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik.
Menurutnya, pasar tetap mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran nan berpotensi mengganggu pasokan daya dunia melalui Selat Hormuz. Kenaikan nilai minyak turut memberikan tekanan bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
“Pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.900 terutama mencerminkan bahwa pasar tetap memandang tekanan rupiah sebagai campuran antara tekanan dunia dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar aspek musiman,” kata Josua dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Josua menjelaskan kondisi tersebut sangat relevan bagi Indonesia lantaran kebutuhan impor minyak, LPG, dan biaya logistik nan menggunakan dolar AS. Akibatnya, kenaikan nilai daya langsung meningkatkan permintaan kurs asing dan menekan nilai tukar rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari melemahnya surplus perdagangan. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya sekitar USD 0,09 miliar, turun tajam dibandingkan Maret nan mencapai USD 3,32 miliar. Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 juga menyusut menjadi USD 5,64 miliar dari USD 11,07 miliar pada periode nan sama tahun sebelumnya.
Menyusutnya surplus perdagangan membikin pasokan dolar dari aktivitas ekspor menjadi lebih terbatas. Di saat nan sama, kebutuhan impor bahan baku, energi, dan peralatan modal tetap tinggi, sehingga permintaan dolar tetap kuat.
Selain itu, pasar mulai mencermati potensi akibat pelemahan rupiah terhadap inflasi. Inflasi Mei 2026 tercatat naik menjadi 3,08 persen dari 2,42 persen pada April. Kenaikan biaya input impor, energi, transportasi, hingga pangan dinilai mulai memberikan tekanan terhadap biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Meski demikian, Josua memandang kesempatan stabilisasi rupiah mulai terbuka setelah kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen dan musim haji nan sempat memuncak pada April-Mei mulai berkurang.
“Karena itu, menurut saya kesempatan rupiah menguat bulan ini tetap ada, tetapi lebih realistis disebut sebagai penguatan terbatas alias stabilisasi bertahap, bukan pembalikan cepat,” ujarnya.
Menurut Josua, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 17.600-Rp 17.750 per dolar AS andaikan nilai minyak turun seiring kemajuan perundingan tenteram AS-Iran, arus modal asing kembali masuk ke pasar finansial domestik, serta pemerintah bisa memberikan sinyal fiskal nan meyakinkan.
Namun sebaliknya, jika nilai minyak kembali naik dan sentimen akibat dunia memburuk, rupiah berpotensi memperkuat di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan nilai minyak bumi menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah hari ini.
Ia mengatakan nilai minyak mentah nan terus meningkat membikin biaya impor daya Indonesia semakin besar. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan dolar AS di pasar domestik.
“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia,” kata Ibrahim.
Selain aspek energi, dia juga menyoroti tetap mandeknya proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai rumor pengayaan uranium. Ketegangan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap akibat geopolitik global.
Di sisi lain, kenaikan nilai daya dinilai berpotensi menjaga inflasi Amerika Serikat tetap tinggi. Kondisi itu membikin pasar memperkirakan bank sentral AS alias The Fed tetap bakal mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama, apalagi berpotensi kembali meningkatkan suku kembang tahun ini.
Menurut Ibrahim, dari sisi domestik tekanan terhadap rupiah juga berasal dari tingginya kebutuhan dolar untuk impor minyak, pembayaran dividen, serta tanggungjawab utang nan jatuh tempo.
Ia menambahkan pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat melalui penyaluran support sosial nan tepat sasaran, menjaga kesiapan barang, serta mendorong investasi dan sektor riil agar bisa menarik kembali aliran modal ke Indonesia.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·