Proyek pengaspalan jalan di Jawa Tengah terimbas kenaikan aspal akibat dipengaruhi semakin tingginya nilai tukar dolar Amerika.(MI/Akhmad Safuan )
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terpaksa melakukan pertimbangan menyeluruh terhadap program pembangunan prasarana jalan di wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga aspal nan dipicu oleh semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan pemantauan Media Indonesia pada Rabu (10/6), upaya Pemprov Jateng untuk menggenjot prasarana melalui penggeseran anggaran sebesar Rp200 miliar sekarang terbentur realitas ekonomi. Nilai tukar Mata Uang Rupiah nan menembus nomor Rp18.000 per dolar AS berakibat langsung pada biaya material konstruksi, terutama aspal.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, menyatakan pihaknya tengah menghitung ulang akibat kenaikan bahan baku tersebut. Saat ini, sebagian besar proyek tetap dalam proses lelang alias tender.
"Kami bakal berbilang ulang akibat kenaikan bahan baku pembangunan jalan nan dipengaruhi oleh dolar tersebut. Pemerintah wilayah berupaya menjaga agar seluruh proyek tetap melangkah sesuai rencana, meskipun menghadapi tantangan kenaikan biaya material," ujar Sumarno.
Sumarno mengakui kondisi saat ini cukup menantang lantaran belum adanya izin nan memungkinkan penyesuaian nilai perjanjian (eskalasi harga) di tengah jalan, berbeda dengan kebijakan nan pernah ada beberapa tahun lalu.
Lonjakan Harga Material
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mengungkapkan bahwa kenaikan nilai terjadi nyaris di seluruh komponen konstruksi. Harga aspal, sebagai komponen utama, sekarang telah menyentuh kisaran Rp2 juta per satuan.
Henggar mencontohkan salah satu proyek nan terdampak signifikan adalah perbaikan jalan Randublatung-Cepu. "Saat ini sedang kita hitung ulang. Penanganan jalan Randublatung-Cepu nan sebelumnya dianggarkan Rp5,2 miliar, sekarang melonjak menjadi Rp34 miliar," jelasnya.
Meskipun ada tambahan anggaran dari penggeseran APBD sebesar Rp200 miliar, kenaikan nilai material nan drastis dikhawatirkan bakal mengoreksi sasaran persentase kemantapan jalan nan telah direncanakan.
Data Kenaikan Harga Aspal (2026):
- Aspal Curah (Cilacap): Rp9.400/kg (Maret) → Rp11.565/kg (April) → Naik 20% (Mei).
- Aspal Drum (Eks Gresik): Rp11.600/kg (Maret) → Rp13.600/kg (April).
- *Harga belum termasuk PPN 11% dan terus berfluktuasi mengikuti kurs dolar.
Kontraktor Kelabakan
Kenaikan nilai material hingga 20% ini membikin para penyedia jasa bangunan alias kontraktor di Jawa Tengah resah. Suyuti, seorang kontraktor di Kota Semarang, mengaku kesulitan menghitung nilai proyek nan sedang berjalan.
"Kalau belum tender tetap bisa kita hitung ulang, tetapi untuk proyek nan sedang berjalan, kenaikan nilai material hingga 20% ini membikin pusing," keluhnya.
Senada dengan itu, Timpuk, kontraktor asal Temanggung, berambisi pemerintah wilayah segera mengeluarkan kebijakan diskresi alias perubahan mengenai kenaikan bahan material. Menurutnya, tidak mungkin proyek dihentikan di tengah jalan hanya lantaran kenaikan nilai nan di luar kendali mereka.
Pemprov Jateng menegaskan tetap berkeinginan menyelesaikan perbaikan jalan, terutama pada ruas-ruas nan mengalami kerusakan parah, sembari mencari solusi atas beban pembiayaan nan membengkak tersebut. (AS/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·