
Bank Indonesia (Foto: Okezone)
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memberikan respons mengenai meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah nan menembus Rp17.500 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan mata duit Garuda dipicu oleh kombinasi meningkatnya ketidakpastian dunia serta adanya lonjakan permintaan Dolar AS di pasar domestik untuk kebutuhan musiman.
Destry menjelaskan bahwa eskalasi bentrok di Timur Tengah telah mendorong kenaikan nilai minyak mentah dan memicu kekhawatiran di pasar global. Secara domestik, terdapat siklus tahunan nan meningkatkan kebutuhan kurs asing.
"Tekanan Rupiah dalam hari ini meningkat lantaran di Timur Tengah nan tetap berjalan dengan intensitas nan meningkat mendorong naiknya nilai minyak dan ketidakpastian global," ujar Destry dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Selain aspek eksternal, BI mencatat adanya peningkatan permintaan Dolar AS nan signifikan dari dalam negeri. Hal ini berangkaian dengan periode pembayaran Utang Luar Negeri (ULN), pembagian deviden perusahaan, hingga persiapan biaya untuk ibadah haji.
Meski demikian, BI menegaskan bahwa likuiditas valas di pasar domestik tetap memadai, nan tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas nan mencapai 10,9 persen year-to-date (ytd) pada akhir Maret.
Kepercayaan penanammodal asing pun dinilai tetap solid dengan masuknya aliran modal (inflows) ke aset portofolio Indonesia, khususnya SBN dan SRBI, sebesar Rp61,6 triliun selama April.
Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia memastikan bakal terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan beragam instrumen operasi moneter. Destry menegaskan komitmen BI untuk selalu datang di pasar.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·