Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan setelah sebelumnya sempat menyentuh level psikologis Rp 17.400 per dolar AS.
Berdasarkan info Bloomberg pada Rabu (6/5) pukul 09.36 WIB, rupiah berada di posisi Rp 17.383 per dolar AS alias menguat sekitar 40,50 poin dibandingkan posisi sebelumnya di kisaran Rp 17.423 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah rupiah sehari sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level Rp 17.400 per dolar AS, nan menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Tekanan terhadap rupiah sebelumnya dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menuturkan ada 7 langkah nan dilakukan meliputi intervensi pasar valas sampai pengawasan pembelian dolar AS.
Terkait intervensi di pasar valas, Perry menjelaskan BI bakal melakukannya di dalam negeri maupun luar negeri melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore NDF di pusat finansial dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
“Kami terus bakal melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup,” kata Perry di Istana Negara dikutip Rabu (6/5).
Langkah kedua, BI bakal memperkuat aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Selanjutnya, BI juga bakal melanjutkan pembelian di pasar sekunder, nan hingga saat ini telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.
Keempat, BI bakal menjaga likuiditas perbankan tetap longgar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan duit primer nan mencapai 14,1 persen.
Selain itu, salah satu langkah nan juga krusial adalah BI memperketat pembelian kurs asing tanpa underlying. Batas pembelian dolar nan sebelumnya USD 100.000 diturunkan menjadi USD 50.000 per orang per bulan, dan bakal kembali ditekan menjadi USD 25.000.
“Sehingga pembelian dolar di atas USD 25.000 itu kudu pakai underlying,” ujarnya.
BI juga mendorong penggunaan mata duit lokal, termasuk pengembangan pasar yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keenam, BI juga bakal memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan melibatkan bank domestik agar pasokan likuiditas meningkat. Terakhir, BI bakal meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi nan mempunyai aktivitas pembelian dolar tinggi, bekerja sama dengan OJK.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·