Menteri Investasi Rosan Roeslani.(Dok. Antara)
MENTERI Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menetapkan sasaran investasi Indonesia pada 2027 sebesar Rp2.322 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 13,8% dibandingkan sasaran tahun ini nan dipatok pada Rp2.041 triliun.
Dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8), Rosan menjelaskan bahwa sasaran tersebut merupakan bagian dari sasaran investasi nasional periode 2025-2029. Total sasaran investasi selama lima tahun tersebut diproyeksikan mencapai Rp13.032 triliun, alias melonjak 43% dibandingkan realisasi satu dasawarsa terakhir.
Peningkatan sasaran ini didorong oleh kontribusi investasi nan semakin dominan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulan II 2026, investasi menyumbang sekitar 39% terhadap pertumbuhan ekonomi, melampaui kisaran normal di nomor 28%-29%. Sektor investasi juga tumbuh 6,87%, lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi nan tercatat 5,06%.
“Investasi tumbuh 6,87%, lebih tinggi daripada pertumbuhan konsumsi nan sebesar 5,06%,” ujar Rosan. Ia menambahkan bahwa realisasi investasi sepanjang semester I 2026 telah mencapai Rp1.010,6 triliun dan sukses menyerap 1,4 juta tenaga kerja langsung.
Pemerintah menekankan bahwa kualitas investasi sekarang menjadi prioritas utama. Rosan menegaskan setiap modal nan masuk kudu berakibat langsung pada kesejahteraan masyarakat melalui pembuatan lapangan kerja nan berkualitas. "Setiap rupiah investasi kudu menciptakan lapangan pekerjaan nan baik dan berkualitas," tegasnya.
Sektor hilirisasi tetap menjadi motor penggerak utama dengan realisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026. Meski saat ini tetap didominasi oleh sektor mineral senilai Rp206,5 triliun, pemerintah mulai mengalihkan konsentrasi pada penguatan hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, serta minyak dan gas bumi.
Langkah ini diambil lantaran sektor berbasis perkebunan dan kehutanan dinilai mempunyai potensi penyerapan tenaga kerja nan jauh lebih besar. Walaupun secara nominal nilai investasinya tetap di bawah sektor mineral, akibat sosial-ekonominya dianggap lebih luas bagi masyarakat. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·