Ilustrasi(Dok Istimewa)
ANGGOTA Komisi II DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Romy Soekarno, meminta agar penguatan ideologi Pancasila tidak lagi berakhir pada aktivitas seremonial, seminar, alias sekadar hafalan.
Pancasila, kata dia, kudu diwujudkan sebagai nilai nan hidup (living values) dalam perilaku sehari-hari dan penyelenggaraan negara.
Hal itu disampaikan Romy dalam webinar teknologi info dan komunikasi berjudul "Penguatan Ideologi Pancasila" nan digelar secara daring pada Selasa (1/9/2026).
Romy menekankan, di tengah arus perubahan era nan sangat cepat, Pancasila kudu diposisikan sebagai leitstar alias bintang penuntun nan dinamis.
"Pancasila bukan sekadar rumusan nan diletakkan dalam arsip negara. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa, arah moral bangsa, sebagai kekuatan pemersatu masyarakat Indonesia nan sangat majemuk," ujar Romy.
Cucu Proklamator Bung Karno ini menyoroti tantangan besar nan dihadapi bangsa saat ini. Tantangan itu mulai dari fragmentasi sosial, intoleransi, hingga polarisasi masyarakat nan diperparah oleh transformasi teknologi.
Menurut dia, nilai-nilai Pancasila kudu datang secara nyata di ruang digital untuk menangani akibat algoritma dan Artificial Intelligence (AI) nan kerap memengaruhi opini publik.
"Karena itu nilai Pancasila juga kudu datang di sana. Ketuhanan berfaedah toleransi beragama. Kemanusiaan berfaedah tidak melakukan cyberbullying dan tidak menggunakan teknologi untuk merusak martabat manusia. Persatuan berfaedah tidak menyebarkan kebencian dan disinformasi nan memecah masyarakat. Demokrasi berfaedah membangun perbincangan nan sehat, bukan sekadar siapa nan paling viral. Dan keadilan sosial berfaedah digitalisasi tidak boleh hanya dinikmati golongan tertentu. Jangan sampai digital divide menjadi corak baru ketimpangan sosial. Dalam Artificial Intelligence, kita pun memerlukan orientasi etik," ucap Romy.
Oleh lantaran itu, dia mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem digital nan berkarakter Indonesia. Salah satu usulannya adalah pengembangan "AI Merah Putih" sebagai corak kedaulatan teknologi.
"Teknologi menjawab 'bagaimana' (how), tapi Pancasila kudu menjawab 'mengapa' (why) dan 'untuk siapa' (for whom). Kita kudu mempunyai keahlian menjaga info dan kedaulatan info kita," tuturnya.
Selain aspek digital, Romy juga menitikberatkan dua pilar krusial lainnya dalam penguatan ideologi, ialah pendidikan dan aparatur sipil negara (ASN).
Ia menyarankan agar pendidikan Pancasila bagi Generasi Z dan Alpha tidak lagi menggunakan metode indoktrinasi nan kaku. Pendidikan kudu bergerak menuju pendekatan nan partisipatif dan berbasis pengalaman nyata (project-based learning).
"Saya menyarankan dari mahfuz menjadi pengalaman, dari knowledge jadi behavior, dari semboyan menjadi living values," ungkapnya.
Sementara bagi ASN, Romy mengingatkan bahwa keberhasilan pembinaan ideologi tidak bisa diukur dari jumlah sertifikat pelatihan. Hal itu justru kudu tecermin dari integritas dan pelayanan publik nan bebas diskriminasi.
"Masyarakat tidak menilai Pancasila dari berapa banyak seminar nan dilakukan negara. Masyarakat menilai Pancasila dari gimana negara memperlakukan rakyatnya," imbuh Romy.
Menutup pernyataannya, dia kembali menegaskan aliran Trisakti Bung Karno, ialah berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkarakter dalam kebudayaan.
Menurutnya, pilar tersebut kudu terus menjadi arah pembangunan Indonesia nan modern namun tetap menjaga karakter asil bangsanya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·