Tanpa Swasembada Pangan Harga Beras RI Bisa Tembus Rp20.000/Kg

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengingatkan akibat nan bisa muncul jika Indonesia kembali berjuntai pada impor beras. Menurutnya, nilai beras di dalam negeri berpotensi melonjak hingga Rp20.000 per kilogram andaikan produksi dalam negeri tidak diperkuat.

Zulhas mengatakan Indonesia sebelumnya tetap sangat berjuntai pada pasokan beras dari luar negeri. Pada 2024, sebelum pemerintah mencapai kondisi swasembada, impor beras Indonesia disebut nyaris mencapai 4,52 juta ton.

"Kalau kita terus tidak mau tahu juga, kelak nilai beras kita bisa sampai Rp 16.000, Rp 20.000. Sementara nilai harga-harga gandum bakal murah," ujar Zulhas dalam aktivitas peluncuran kitab Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Zulhas kemudian menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Ia membandingkan konsumsi gandum nasional ketika dirinya pertama kali menjadi personil DPR pada 2004 dengan kondisi saat ini. Pada saat itu, konsumsi gandum Indonesia tetap berada di kisaran 3-4 juta ton. Namun sekarang jumlahnya telah meningkat menjadi sekitar 13 juta ton.

Salah satu aspek nan mendorong kenaikan konsumsi gandum adalah nilai beras dalam negeri nan relatif mahal. Jika nilai nasi semakin tinggi sementara produk berbahan gandum lebih murah, masyarakat secara perlahan dapat mengubah pilihan makanannya.

"Orang bakal pindah makannya. Kenapa gandum naik 13 juta? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, lantaran lebih murah, gitu. Nanti terus bakal begitu. Kalau seperti itu, kita bakal sangat tergantung, ya pasti enggak merdeka, enggak bisa begini," ujarnya.

Peringatan tersebut muncul di tengah persoalan biaya produksi pangan Indonesia nan juga tetap relatif tinggi. Zulhas sebelumnya mengungkapkan biaya untuk menghasilkan 1 kg beras di Indonesia dapat mencapai Rp12.000. Sebagai perbandingan, biaya produksi beras di Vietnam dan Thailand disebut hanya sekitar Rp3.800/kg.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak semata-mata diukur dari ada alias tidaknya stok beras di dalam negeri. Kemampuan suatu negara memproduksi pangan sendiri dengan biaya nan efisien juga menjadi bagian krusial dari kemandirian tersebut.

"Pangan itu bakal mencerminkan keadaan suatu peradaban bangsa. Dia seperti apa itu bisa dilihat dari sini sebetulnya. Tidak ada negara nan maju tanpa swasembada," ujar Zulhas

Ketergantungan terhadap pangan dapat menjadi persoalan ketika Indonesia memerlukan pasokan dari negara lain dalam kondisi sulit. Ia mengaku pernah mengalami sendiri situasi ketika menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Indonesia tengah memerlukan beras dari luar negeri.

"Saya pernah jadi Menteri Perdagangan, waktu kita susah itu saya bolak-balik India mau beli beras nggak dikasih, itu luar biasa," katanya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News