RI Mau Garap Gas Baru Pengganti LPG 3 Kg, Ini Sumber Tabungnya

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bunyi mengenai persiapan tabung untuk pengganti daya pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilo gram (kg), ialah gas alam terkompresi alias Compressed Natural Gas (CNG). Rencananya, tabung CNG ini nantinya akan berukuran nan sama dengan tabung LPG 3 kg saat ini. Saat ini, pemerintah tengah mematangkan persiapannya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman membeberkan, pada tahap awal, pemerintah berencana mendatangkan tabung gas unik tersebut melalui skema impor dari China lantaran keterbatasan penguasaan teknologi di dalam negeri.

Menurutnya, pemilihan China didasarkan pada kesiapan manufaktur nan bisa memproduksi tabung berteknologi tinggi. Ia menyebut rencana impor tersebut berkarakter sementara sebagai bagian dari perintisan proyek sebelum nantinya diproduksi secara massal dan berdikari di Indonesia.

"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini nan bisa membikin teknologi itu di luar ya, kita belum. Tetapi jika skalanya sudah masif, bisa kelak kita alihkan ke dalam. Benchmark sekarang ke China, tahap awal ya," jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Pemerintah juga tengah menyiapkan tabung CNG Tipe 4 nan terbuat dari material komposit fiber untuk mengemas gas bumi tersebut. Berbeda dengan tabung besi konvensional (Tipe 1) nan digunakan untuk elpiji, tabung baru ini diklaim jauh lebih ringan namun mempunyai kekuatan tinggi untuk menahan tekanan gas nan mencapai 250 bar.

"Tipe 4 ini sudah sangat ringan, jadi dia komposit fiber, sangat ringan, kuat, dan pada kondisi hari ini Tipe 4 ini insya Allah kelak dengan roadmap kelak nan sudah ditetapkan oleh Pak Menteri, insyaallah Tipe 4 ini untuk tabung 3 kg itu kelak bakal pertama di bumi itu adalah di Indonesia," paparnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Senin (18/5/2026).

Penggunaan material fiber menjadi kunci utama dalam menjaga aspek keselamatan mengingat perbedaan tekanan antara elpiji dan CNG nan sangat signifikan. Jika LPG konvensional hanya mempunyai tekanan sekitar 5 hingga 10 bar, maka CNG memerlukan wadah nan bisa menampung tekanan antara 200 hingga 250 bar.

"Faktor nan paling nomor satu itu (safety). Kuncinya jika CNG ini adalah gimana menyiapkan tabung dan valve-nya ini betul-betul kuat kondusif itu kuncinya ada di situ. Tekanannya 200 sampai 250 bar," tambahnya.

Pihaknya menargetkan pemesanan perdana tabung gas ini dapat dilakukan dalam tiga bulan ke depan dengan jumlah minimal sekitar 100.000 unit. Rangkaian proyek percontohan alias pilot project penggunaan gas bumi ini direncanakan bakal menyasar kota-kota besar di Pulau Jawa untuk menguji kesiapan prasarana distribusinya.

"Dari sisi timeline insya Allah 3 bulan ke depan kita melakukan first order untuk perihal tersebut lampau dalam 1-2 bulan setelah itu kita sudah ada tabung nan bisa kita uji dulu. Minimum order ya 100 ribuan (tabung 3 kg) gitu," paparnya.

Melalui rencana konversi ke CNG, pemerintah memproyeksikan penghematan biaya subsidi dan pengeluaran devisa negara sekitar 30% hingga 40%. pihaknya menilai perihal itu sebagai terobosan untuk mencapai kemandirian daya nasional dengan memanfaatkan persediaan gas bumi domestik nan ketersediaannya jauh lebih melimpah dibandingkan minyak bumi.

"Gas kita punya banyak melimpah harganya murah tapi tabungnya nan mahal lantaran dia materialnya khusus. Setelah dihitung-hitung sebenarnya tetap tetap diperlukan adanya subsidi, tetapi subsidi itu berkurang tadi bisa 30-40%," tandasnya.

Pengembangan Tabung CNG 3 kg

Sebelumnya, Laode sempat menjelaskan pengembangan tabung gas jenis komposit untuk ukuran mini merupakan terobosan baru di dunia. Pemerintah saat ini sedang konsentrasi merampungkan proses paten, serta standardisasi agar tabung tersebut siap dan kondusif digunakan oleh masyarakat.

Pemerintah mengevaluasi bahwa tabung konvensional alias Tipe 1 nan dipakai saat ini mempunyai keterbatasan dari sisi berat beban operasional. Inovasi ke material fiber tersebut diharapkan bisa mempermudah pengedaran gas ke konsumen.

Inovasi tersebut juga dinilai bisa meningkatkan keamanan lantaran karakter materialnya bisa menahan tekanan tinggi dengan lebih stabil.

"Penelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen krusial di bagian tabung dan valve ini nan memerlukan teknologi nan akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan," jelasnya dalam aktivitas obrolan daya nan diselenggarakan ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).

Nantinya, pengembangan tabung Tipe 4 tersebut bakal diawasi oleh Lemigas untuk memastikan setiap unit nan diproduksi memenuhi kriteria keselamatan. Targetnya, dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, seluruh aspek administratif termasuk kewenangan paten atas kreasi tabung 3 kg tersebut sudah dapat diselesaikan.

"Tabung itu sejak Tipe 1 sudah ditulis Pak, jurnal. Jadi dari Tipe 1-Tipe 4 itu dari ribuan jurnal dan tulisan tuh. nan paling krusial sekarang udah dipatenkan belum? Nah ini saya bilang makanya nan 3 bulan kelak itu itu kudu sudah paten. Jadi bukan bikin-bikin baru merangkai terus ini nggak," tegasnya.

Selain itu, penggunaan CNG dalam tabung serat fiber diproyeksikan bisa memangkas nilai subsidi daya hingga 30% dibandingkan dengan penggunaan LPG. Hal tersebut lantaran sumber gas untuk CNG berasal dari lapangan gas dalam negeri nan potensinya semakin melimpah.

"Mengapa kudu ada tabung ini, hanya tabung ini kan nan belum ada itu hanya Tipe 4 untuk 3 kg. Itulah nan dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada Tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ kelak kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah nan lebih masif," tandasnya.

(ven/wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News