Rohman Wibowo
, Jurnalis-Minggu, 21 Juni 2026 |18:25 WIB

Pelemahan nilai tukar rupiah nan dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah nan dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru, apalagi sempat menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dianggap memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai seberapa besar akibat pembalikan arah ekonomi nasional.
Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menekankan bahwa situasi ini merupakan sinyal bagi otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Tekanan eksternal nan ada saat ini menuntut kedisiplinan kebijakan nan lebih tinggi dari biasanya, terutama dalam memperkuat bauran kebijakan moneter dan fiskal untuk menstabilkan pasar. Bukan berfaedah Indonesia telah masuk dalam krisis ekonomi, tapi lebih tepat dibaca sebagai sirine kewaspadaan," ujar Sandy dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).
Untuk mengukur tingkat kerawanan posisi rupiah secara objektif, NEXT melakukan kajian dengan mengangkat pendekatan akademis dari ahli ekonomi terkemuka Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff. Melalui karya mereka nan berjudul From Financial Crash to Debt Crisis, kedua ahli ekonomi tersebut merumuskan batas konkret untuk membedakan antara tekanan “nilai tukar biasa” dengan “krisis nilai tukar” (currency crash).
Berdasarkan metodologi tersebut, krisis nilai tukar terjadi andaikan devaluasi alias depresiasi tahunan suatu mata duit mencapai 15% alias lebih. Berdasarkan periode tersebut, krisis nilai tukar tidak dilihat semata-mata dari level nominal kurs, tetapi dari kecepatan dan besarnya perubahan nilai tukar dalam satu tahun.
“Jika parameter tersebut disandingkan dengan pergerakan rupiah saat ini, laju depresiasi tahunan kumulatif hingga Juni 2026 tercatat di kisaran 11%. Secara teknis, pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026 belum masuk ke dalam kategori krisis nilai tukar alias currency crash,” kata Sandy.
Kendati demikian, posisi tersebut tetap perlu diwaspadai lantaran jaraknya dengan periode krisis tidak terlalu lebar, apalagi jika arus keluar modal alias persepsi akibat terhadap ekonomi domestik memburuk.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·