RI Lagi Pesta Pora Telur, Stok Banjir di Kandang Peternak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami tekanan. Kementerian Pertanian (Kementan) pun mengakui produksi telur nasional saat ini sedang melimpah seiring lonjakan populasi ayam petelur dalam setahun terakhir, membikin pasokan membanjir di pasar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda mengatakan nilai telur ayam ras di tingkat peternak belakangan turun di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) nan ditetapkan pemerintah.

"Tujuan rapat pada hari ini adalah dalam rangka menyikapi mengenai dengan stabilisasi nilai telur di tingkat peternak, nan belakangan ini memang harganya agak sedikit turun di bawah nilai referensi nan ditetapkan oleh pemerintah," kata Agung saat ditemui usai rapat di kantornya, Jakarta, Selasa (12//2026).

Agung mengatakan, nilai telur ayam ras secara rata-rata nasional berada di level Rp24.500 per kilogram (kg). Namun, untuk sentra produksi seperti di Pulau Jawa, harganya jatuh tertekan lebih dalam.

"Harganya bervariasi. Jadi jika secara rata-rata nasional nilai telur kita itu di nomor Rp24.500 per kg nasional ya, lantaran ada beberapa pulau nan memang harganya juga agak tinggi. Tetapi jika di sentra produksi seperti di Jawa itu provinsi Jawa Timur harganya cukup rendah di nomor sekitar Rp22.500 (per kg). kemudian diikuti dengan Jawa Tengah Rp23.000 sekian per kg" ungkapnya.

Padahal, Harga Acuan Pembelian (HAP) nan ditetapkan pemerintah untuk telur ayam ras di tingkat produsen alias on farm, berasas patokan Badan Pangan Nasional (Bapanas) berada di level Rp26.500 per kg.

Menurut Agung, penurunan nilai dipicu produksi telur nasional nan melonjak signifikan pada 2026. Kementan mencatat produksi telur tahun ini diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya sekitar 6 juta ton.

"Sehingga tetap ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800 ribu ton, alias kurang lebih sekitar 13% dari kebutuhan nasional," ujar dia.

Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ia menyebut tren perubahan nilai telur sebenarnya terus berulang setiap tahunnya. Namun kali ini, lonjakan populasi ayam petelur jauh lebih tinggi lantaran minat peternak memperluas upaya meningkat seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Memang tren ini sebetulnya selalu berulang, perubahan ini. Bahkan untuk telur ayam ras tahun 2025 sampai sekarang ini sebetulnya relatif lebih stabil, nilai telur cukup bagus dan memang lantaran atensi, dan minat dari para pelaku untuk membangun peternakan ayam ini semakin tinggi lantaran ada MBG, sehingga populasi ayam petelur kita tahun 2026 ini peningkatannya cukup signifikan," jelasnya.

Agung mengungkapkan, kenaikan populasi ayam petelur tahun ini apalagi mendekati 30% dibandingkan tahun lalu.

"Ya, jadi kenaikannya saat ini dibandingkan year on year (tahunan) di tahun 2025 itu cukup tinggi ya, kurang lebih nyaris 30% kenaikannya," kata Agung.

Menurutnya, peningkatan populasi terjadi lantaran banyak peternak lokal membangun kandang baru demi menangkap kesempatan permintaan dari program MBG dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Pertama, lantaran ada minat dari para penanammodal lokal untuk menambah, membangun kandang-kandang baru lantaran ada SPPG tadi, MBG itu daya tarik tersendiri," ujarnya.

Selain itu, produktivitas ayam petelur juga meningkat lantaran kualitas genetik dan kesehatan ternak semakin baik. Bahkan umur produksi ayam sekarang diperpanjang lantaran permintaan pasar nan tinggi.

"Yang kedua, genetik ayam kita juga semakin bagus kesehatan produksinya, persisten bagus dan apalagi ada nan biasanya maksimum 95 minggu alias apalagi 100 minggu dilakukan afkir dini, lantaran demand-nya banyak diperpanjang. Nah ini juga nan menyebabkan populasi ini terus meningkat," terang Agung.

Ia juga menyebut nyaris seluruh anak ayam berumur satu hari (Day Old Chick/DOC) layer, alias bibit ayam petelur sekarang dimanfaatkan menjadi ayam produksi, berbeda dari sebelumnya nan hanya sekitar 60%-70%.

Meski menilai peningkatan populasi ayam sebagai perihal positif, Agung mengingatkan nilai di tingkat peternak tetap kudu dijaga agar upaya mereka tidak merugi.

"Nah sebetulnya bagus ini perihal nan positif, tetapi kudu diimbangi juga dengan nilai di tingkat peternak nan juga kudu bisa memberikan untung bagi peternak, jika tidak ya peternaknya jadi bangkrut, sementara nilai di tingkat konsumen itu relatif stabil sebetulnya," ujarnya.

Tak hanya itu, Agung juga menyoroti karakter produksi telur nan tidak bisa dihentikan sewaktu-waktu. Akibatnya, saat permintaan melemah, sebagian peternak memilih menjual murah agar stok sigap terserap.

"Karena telur ini jika sudah mulai bertelur tidak bisa distop 'eh kelak bertelurnya dua hari lagi', nggak bisa begitu. Setiap hari bakal terus produksi dan kadang-kadang ada peternak nan nggak sabaran pengen sigap laku, sehingga terpaksa banting-bantingan harga, dan inilah nan terjadi di lapangan," jelas dia.

Karena itu, pemerintah meminta asosiasi dan koperasi peternak menjaga kekompakan agar tidak saling menjatuhkan harga. Pemerintah juga berambisi program MBG bisa memperbesar penyerapan telur.

"Kita tentu mendorong agar program makan bergizi cuma-cuma bisa meningkatkan menu telur per minggunya, dan juga kita meminta agar nilai beli telur ini mengikuti nilai nan ditetapkan oleh Peraturan Bapanas," ujar Agung.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News