RI Belum Punya, Ini Daftar Negara Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) menyoroti tantangan nan dihadapi Indonesia dalam menguasai teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) alias rare earth elements (REE). Meskipun pemerintah mulai berkomitmen untuk mengembangkan LTJ, posisi Indonesia saat ini dinilai tetap tertinggal jauh dibandingkan dengan sejumlah negara nan telah mempunyai teknologi pemrosesan berskala ekonomi.

Chairman IMI Irwandy Arif menjelaskan bahwa pengembangan industri LTJ di dalam negeri tetap berada pada tahap nan sangat awal. Ia memaparkan beberapa negara nan sekarang menjadi pemain utama bumi dalam penguasaan teknologi pemurnian mineral strategis tersebut mulai dari China, India, hingga tetangga terdekat, Malaysia.

"Jadi jika kita bicara logam tanah jarang di Indonesia ini sebenarnya belum ada nan pengalaman, Pak. Jadi kita tetap pada tahap awal," jelas Irwandy dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Irwandy memaparkan bahwa kekuasaan teknologi pengolahan LTJ saat ini tetap dikuasai oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut tidak hanya menguasai sisi penambangan, tetapi juga memonopoli nyaris seluruh proses pemisahan dan pemurnian dunia melalui perusahaan seperti Shenghe Resources Holding Co dan China Northern Rare Earth.

"68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang bumi dari Tiongkok. Lebih 90% persisnya kurang lebih 91% itu proses pemurnian dan pemisahan dunia dikuasai oleh mereka juga. Timur Tengah mempunyai minyak tetapi Tiongkok mempunyai logam tanah jarang," papar Irwandy.

Selain China, India telah mempunyai akomodasi pengolahan melalui perusahaan Indian Rare Earths nan menggunakan teknologi caustic cracking. Di wilayah Asia Tenggara, Malaysia telah lebih dulu maju sebagai pusat pengolahan LTJ dunia melalui pengoperasian pabrik milik perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths (sebelumnya berjulukan Lynas Corporation), di Pahang.

"Lynas Corporation nan dari Australia nan punya pabrik di Malaysia, ini salah satu nan pernah dirintis diupayakan untuk kerja sama dengan Timah tapi kemudian belum berhasil. Itu sebenarnya kita lihat ini lokasinya di Pahang, Malaysia," jelasnya.

Negara lain nan juga telah mempunyai peta jalan teknologi nan matang adalah Kanada melalui Medallion Resources nan sudah masuk tahap pra-komersial, ada pula Australia lewat Hastings Technology Metals nan sekarang bersiap melakukan konstruksi. Sementara itu, Indonesia saat ini baru mempunyai rintisan pengolahan dalam skala laboratorium dan beberapa pilot plant berskala kecil.

"Sampai dengan saat ini Indonesia belum mempunyai teknologi pengolahan alias pemrosesan logam tanah jarang nan mencapai skala ekonomi. Ada beberapa nan mencoba untuk sampai ke skala laboratorium tentunya sudah ada, dan ada nan sudah sampai ke skala pilot di Tanjung Ular misalnya di Bangka," kata Irwandy.

Hingga kini, tantangan utama bagi Indonesia adalah akomodasi pengolahan dan pemurnian nan tetap sangat terbatas. Pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perminas saat ini sedang diinstruksikan Presiden untuk mempercepat riset penguasaan teknologi agar nilai ekonomi LTJ dapat dirasakan oleh negara.

"Nilai ekonomi mineral belum dapat dimaksimalkan lantaran belum mempunyai teknologi hilirisasi nan memadai. Ini nan tantangan utamanya. Tetapi di samping tantangan utama ada kesempatan strategis ialah penguasaan teknologi pemrosesan LTJ nan risetnya sedang dilakukan oleh BIM atas penugasan dari Presiden," tandasnya.

Potensi Logam Tanah Jarang di RI

Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik nan mempunyai sifat magnetik dan kimia unik. Ia menyebut bahwa mineral tersebut diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar, ialah logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Adapun, pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi partikel orbital, di mana golongan berat condong lebih langka dan mempunyai nilai ekonomi nan jauh lebih tinggi.

"Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian ialah logam tanah jarang nan berat, heavy rare earth element dan nan ringan. nan ringan itu partikel tak berpasangan lebih banyak sedangkan nan berat itu lebih langka dan berbobot tinggi serta kemudian berasas sifat magnetik dan kimia nan berbeda," papar Irwandy, dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Di Indonesia, keberadaan LTJ pada umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Beberapa jenis mineral nan mengandung LTJ di tanah air meliputi monasit, xenotim, dan zirkon nan banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi keberadaan persediaan logam tanah jarang jenis primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan tersebut menjadi konsentrasi perhatian baru lantaran kadarnya nan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mineral ikutan, sehingga membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

"Ada satu tempat di Indonesia ialah di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat nan mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," jelas Irwandy.

Berdasarkan info penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ nan sangat tinggi mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung nan berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, wilayah Sumatera Utara juga mempunyai potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm nan berasal dari pelapukan batuan granit.

"Tingkat pasokan nan terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi nan terbesar 31% itu serium. nan kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen," tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor nan paling strategis lantaran menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan bakal terus meningkat dari porsi 29% pada tahun 2023 menjadi 41% pada tahun 2034 mendatang.

(ven/wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News