Revitalisasi Dikebut, Bandung Zoo Ditargetkan Beroperasi Tahun Depan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Revitalisasi Dikebut, Bandung Zoo Ditargetkan Beroperasi Tahun Depan Ilustrasi(MI/Naviandri )

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat proses revitalisasi Kebun Binatang Bandung alias Bandung Zoo usai penetapan pengelola baru. Saat ini Pemkot tengah menunggu finalisasi konsep dan negosiasi perjanjian kerja sama (PKS). Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan, penandatanganan kesepakatan dapat rampung dalam waktu dekat. Bahkan, dia berambisi proses tersebut bisa selesai dalam waktu singkat, disertai dengan pembayaran tahap awal dari pihak pengelola.

“Kini kita lagi menunggu selesainya konsep dan negosiasi PKS. Mudah-mudahan segera terlaksana dan menerima pembayaran pertama,” ungkapnya Jumat (12/6).

Menurut Farhan, meski nominal kerja sama tetap dalam tahap negosiasi, skema nan dibahas mencakup pembagian hasil serta masa tenggang (grace period), termasuk waktu pengurusan beragam perizinan nan dibutuhkan.

Terdapat masa sekitar satu tahun untuk menyelesaikan sejumlah izin penting, seperti izin konservasi baru dan arsip Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, proses manajemen lain seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) juga kudu dipenuhi.

"Senin (15/6) saya kudu menghadap Menteri Kehutanan untuk nota kesepakatan bersama. Karena ini menyangkut perizinan nan cukup panjang,” tandasnya.

Dalam konsep revitalisasi, Farhan mengingatkan, Bandung Zoo kudu lebih berorientasi pada edukasi, khususnya bagi anak-anak. Ia juga memberikan tiga pesan utama kepada pengelola baru. Pertama, mempertahankan tenaga kerja lama agar keberlangsungan operasional tetap terjaga. Kedua, menjaga karakter unik kebun hewan Bandung nan dikenal sebagai 'Derenten', bagian dari ekspresi budaya masyarakat.

“Bandung Zoo itu punya nilai sejarah dan budaya. Itu kudu tetap dipertahankan. Ketiga mendorong adanya program pelepasliaran satwa sebagai bagian dari kegunaan konservasi. Beberapa satwa seperti owa dan surili berpotensi dilepasliarkan ke kediaman alaminya di wilayah Bandung Selatan, seperti Pangalengan dan Gambung," paparnya.

Terkait nilai tiket, Farhan mengaku belum mendapatkan keputusan final. Namun dia memastikan pemerintah bakal tetap memperhatikan keterjangkauan bagi masyarakat. Pengelola baru diyakini telah mempunyai kalkulasi pasar nan matang. Meski demikian, Pemkot Bandung bakal tetap mengawal agar nilai tiket tidak memberatkan pengunjung.

“Kalau harganya tidak wajar, tentu bakal kita perjuangkan. Banyak penduduk juga mau tiket tetap terjangkau,” imbuhnya.

Farhan menyebut, perbedaan skema pengelolaan Bandung Zoo dengan kebun hewan lain seperti Ragunan nan dikelola langsung oleh pemerintah. Di Bandung, pengelolaan dilakukan melalui kerja sama pemanfaatan lantaran tidak berada di bawah dinas khusus.

"Saya menargetkan Bandung Zoo dapat kembali dibuka dalam waktu kurang dari satu tahun, meskipun tetap kudu melalui sejumlah tahapan administratif dan teknis. Memang ada dua izin nan cukup lama, ialah izin konservasi dan Amdal,” paparnya.

Selain itu kata Farhan, proses pengalihan aset dari hasil sitaan nan sebelumnya berada di bawah kewenangan Kejaksaan Tinggi juga menjadi bagian dari tahapan nan kudu diselesaikan. 

Karyawan Bandung Zoo Siap Bekerja Sama

Sementara itu 121 tenaga kerja Bandung Zoo menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Faunaland pihak nan memenangkan lelang pengelolaan Bandung Zoo. Sikap tersebut disampaikan di tengah proses transisi nan tetap berjalan setelah area konservasi itu ditutup sejak Februari 2026.

Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafei, menerangjan, para pekerja nan tergabung dalam Koperasi Mandiri tetap menjalankan tugas sehari-hari meski kebun hewan tidak beraksi untuk umum. Perawatan satwa, pemeliharaan lingkungan, hingga pengamanan area tetap dilakukan agar kondisi Bandung Zoo tetap terjaga.

“Kami siap mendukung dan bekerja sama dengan pihak nan memenangkan lelang pengelolaan Bandung Zoo. Selama masa transisi ini, kami tetap menjaga dan merawat satwa, menjaga lingkungan, serta berkoordinasi dengan beragam pihak nan turut membantu keberlangsungan operasional kebun binatang,” bebernya.

Menurut Sulhan, keberlangsungan operasional Bandung Zoo selama masa penutupan tidak hanya berjuntai pada pekerja. Sejumlah pihak, mulai dari pedagang di area kebun binatang, Pemkot Bandung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat hingga beragam komponen masyarakat turut memberikan dukungan.

Di tengah ketidakpastian pengelolaan, para tenaga kerja memilih konsentrasi pada tugas utama mereka, ialah memastikan kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas. Langkah itu dinilai krusial agar kegunaan konservasi tidak terganggu selama proses manajemen dan penetapan pengelola baru berlangsung.

"Antusiasme masyarakat terhadap Bandung Zoo juga tetap tinggi. Banyak penduduk nan terus menanyakan kapan kebun hewan nan menjadi salah satu ikon wisata edukasi Kota Bandung itu kembali dibuka. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Bandung Zoo tetap mempunyai daya tarik kuat di mata publik," ujarnya.

Selain berfaedah sebagai tempat konservasi satwa lanjut Sulhan, Bandung Zoo selama bertahun-tahun menjadi tujuan wisata family dan sarana pendidikan lingkungan bagi pelajar.

Saat ini, para pekerja tetap menunggu rampungnya tahapan manajemen dan transisi pengelolaan. Mereka berambisi dapat segera menjalankan program pengembangan nan bisa meningkatkan kualitas jasa sekaligus memperkuat kegunaan konservasi.

"Kami bakal terus bekerja sama dan meningkatkan profesionalisme agar pengelolaan Bandung Zoo ke depan menjadi lebih baik. Harapan kami, jumlah visitor dapat kembali meningkat dan Bandung Zoo dapat berkembang menjadi destinasi konservasi dan wisata nan semakin diminati masyarakat,” sambungnya. (AN/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia